nusabali

Jauh Lebih Megah, Gedung dan Kawasan Museum Berubah Total

Mengintip Kondisi Museum Subak Tabanan yang Direvitalisasi Jelang Pelaksanaan WWF ke-10 Tahun 2024

  • www.nusabali.com-jauh-lebih-megah-gedung-dan-kawasan-museum-berubah-total

Pembangunan sudah pada tahap pembersihan sisa material proyek, seperti diketahui Museum Subak merupakan salah satu venue dalam gelaran WWF 2024

TABANAN, NusaBali - Jelang perhelatan World Water Forum (WWF) atau Konferensi Air Dunia ke-10 yang berlangsung pada 18-25 Mei 2024, proyek revitalisasi Water Museum Mandala Mathika (Museum Subak) di Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan dikebut pengerjaan dan mendekati rampung. Pembangunan sudah pada tahap pembersihan sisa material proyek. Seperti diketahui Museum Subak merupakan salah satu venue kunjungan delegasi dalam gelaran WWF 2024 di Bali. 

Pantauan di lapangan, Senin (13/5) sejumlah bangunan sudah berdiri megah. Bahkan kondisi Museum Subak berubah 100 persen. Di kawasan luar gedung museum tampak sejumlah taman dibangun dengan apik. Taman dengan hamparan rumput ini dibangun pada sisi timur. Mendekati areal persawahan juga dibangun Patung Dewi Sri dan patung petani yang tengah membajak sawah. Sayangnya untuk masuk pada bangunan inti masih dilarang petugas. Satpam proyek sedang mengawasi secara ketat. 

"Maaf belum bisa masuk karena penataan belum selesai," ujar seorang securty di lokasi proyek kepada NusaBali. Namun kata dia, pembangunan dari Museum Subak ini sudah mendekati rampung. Tinggal melakukan pembersihan puing-puing sisa pembangunan proyek. "Sudah selesai, tinggal bersih-bersih saja," katanya. Hal senada juga disampaikan salah satu pekerja proyek. Menurutnya pembangunan rampung tinggal menghitung hari. "Tinggal beberapa hari saja. Sekarang tinggal pembersihan saja," ujarnya. 

Sementara itu Kepala UPTD Museum Subak Tabanan, Si Putu Putra Eka Santi menegaskan terkait tahapan proyek Museum Subak bukan kapasitasnya untuk menjelaskan, sebab proyek langsung di-handle oleh pusat. "Biar tidak salah, kami juga tidak bisa masuk areal proyek. Jadi belum bisa memberikan komentar. Mohon maaf dulu," ujarnya. 

Namun sebagai bagian dari Museum Subak saat pelaksanaan WWF nanti UPTD Museum Subak sudah pasti terlibat. Terutama ikut mempersiapkan sejumlah koleksi museum yang berkaitan dengan pertanian. "Koleksi kami sebagian nanti juga akan diperlihatkan kepada delegasi. Namun jenis yang dipajang belum kami ketahui karena sudah pusat langsung yang menentukan," terangnya. Sejauh ini selama masih proses pembangunan, barang koleksi Museum Subak belum dipajang masih dibungkus menggunakan peti. "Jadi kita belum pindah, kantor masih di selatan. Kita menunggu instruksi," tegas Eka Santi. 

Seperti diberitakan sebelumnya proyek pembangunan Museum Subak ini dianggarkan sebesar Rp 101 miliar dari APBN. Sesuai dengan laman lpse.pu.go.id nama tender tersebut adalah konstruksi revitalisasi Museum Mandalika Mathika Subak. Proyek revitalisasi Museum Subak ini dikerjakan langsung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan pelaksana satuan kerja Balai Wilayah Sungai Bali Penida. 

Salah satu gedung museum yang terlihat megah. -DESAK SUMBERWATI

Untuk diketahui Museum Subak di Tabanan ini diresmikan oleh Gubernur Bali Prof Dr Ida Bagus Mantra pada tanggal 13 Oktober 1981 silam. Di dalam ruang pameran museum itu terdapat sekitar 250 koleksi alat pertanian tradisional, yaitu alat yang difungsikan untuk pembukaan lahan hingga menjadi nasi yang siap untuk dimakan. Di dalam museum juga terdapat patung Dewi Sri, yang merupakan simbol dari dewi padi atau dewi kesuburan. Setiap upacara yang dilakukan di persawahan ditujukan kepada Dewi Sri untuk memohon kesuburan pada area persawahan.

Selain patung Dewi Sri, terdapat juga patung Rare Angon yang merupakan manifestasi dari Dewa Siwa yang turun ke Bumi untuk mengajarkan petani bagaimana cara bercocok tanam yang baik. Di Museum Subak juga terdapat replika pembagian dari air irigasi. Untuk membagi air tersebut, ada sebuah alat yang disebut Tembuku, dapat dianggap sebagai sekat ukur, tetapi dalam bentuk yang sederhana.

Di areal Museum Subak juga terdapat koleksi miniatur rumah tradisional petani Bali untuk satu keluarga. Bangunan tersebut dibuat berdasarkan Asta Kosala-Kosali, yang merupakan pengetahuan arsitektur tradisional Bali yang berisi cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci yang ada di Bali sesuai dengan landasan filosofis, etis, dan ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya. 7 des

Komentar