nusabali

SMPN 2 Selat Optimalkan Komunitas Belajar

  • www.nusabali.com-smpn-2-selat-optimalkan-komunitas-belajar

AMLAPURA, NusaBali - SMPN 2 Selat, Karangasem, mengoptimalkan pendidikan komunitas belajar (kombel) antar tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Langkah ini guna memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka.

Kombel ini untuk mengoptimalkan tenaga pendidik agar bersemangat dan berkepedulian yang sama dalam pembelajaran melalui interaksi secara rutin dan berpartisipasi aktif. Kasek SMPN 2 Selat I Komang Arta memaparkan hal itu di hadapan 18 tenaga pendidik di ruang rapat guru, Banjar Babakan, Desa Peringsari, Kecamatan Selat, Karangasem, Sabtu (11/5).

Keberadaan kombel SMPN 2 Selat, katanya, untuk mendiskusikan penyelesaian berbagai masalah pembelajaran untuk implementasi Kurikulum Merdeka. Tujuan utama keberadaan kombel untuk memfasilitasi belajar bersama tentang Kurikulum Merdeka, memfasilitasi kolaborasi pengembangan perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka, memfasilitasi refleksi pembelajaran rekan sejawat, mengatasi permasalahan yang terjadi dan lain-lain.

"Kombel itu sebenarnya sekelompok pendidik dan tenaga kependidikan dalam satu sekolah yang belajar bersama-sama dan berkolaborasi secara rutin dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar peserta didik," jelas I Komang Arta.

Sebanyak 18 tenaga pendidik mengikuti kegiatan kombel, untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di sekolah. Di tahun 2024, permasalahan yang ditangani tentang penanganan sampah. Sebab, sampah semakin sulit dibuang, maka pihak sekolah bekerjasama dengan pemegang program IKMP5 (implementasi kurikulum merdeka, proyek penguatan profile pelajar Pancasila), dengan tema gaya hidup berkelanjutan, yang akhirnya sampah menjadi berkah.

Jelasnya, penanganan sampah melibatkan 811 siswa, dan 34 tenaga guru, diawali dengan membangun bak sampah organik dan an organik sehingga sejak awal sampah di sekolah dipilah. Saat menangani sampah, juga bekerjasama dengan petugas pemilahan sampah, sampah botol plastik bisa dijual, hasilnya untuk biaya operasional OSIS (organisasi siswa intra sekolah). Sedangkan sampah organik dijadikan kompos, untuk pupuk tanaman di sekolah, sehingga kebun jadi tumbuh subur dan lingkungan jadi rindang. "Itulah inovasi, hasil dari salah satu pembahasan masalah di komunitas belajar," katanya.

Akhirnya, lanjut I Komang Arta, keluarga besar SMPN 2 Selat, telah memiliki kebiasaan mengambil sampah yang mereka temukan, kemudian membuang pada tempatnya. Tiap tahun katanya tema dari kombel, berbeda-beda, sesuai permasalahan yang muncul saat menggelar diskusi di internal tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Kombel itu katanya telah efektif diberdayakan sejak tahun 2022, sehingga beberapa permasalahan sekolah teratasi melakukan forum diskusi tersebut.7k16

Komentar