nusabali

Petani ‘Menangis’ Harga Gabah Anjlok

  • www.nusabali.com-petani-menangis-harga-gabah-anjlok

Harga gabah di lapangan rata-rata berkisar Rp 4.800 per kilogram. Sebelumnya sempat menyentuh Rp 7.000 per kilogram pada 4-5 bulan lalu.

DENPASAR, NusaBali
Kalangan petani kini ‘menjerit’. Pemicunya harga gabah kini anjlok. Keadaaan itu diperberat lantaran ada kenaikan ongkos traktor serta ongkos panen.

Penuturan dari kalangan petani, harga gabah di lapangan rata-rata berkisar Rp 4.800 per kilogram. Harga tersebut di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan Rp 6.000 per kilogram untuk gabah kering panen. Padahal, harga gabah sempat menyentuh Rp 7.000 per kilogram pada 4-5 bulan lalu.

“Sekarang ini petani benar-benar ‘menangis’,” ucap I Wayan Sukanada, petani yang juga Pekaseh Subak Dukuh, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Senin (15/4).

Anjloknya harga gabah ini, kata Sukanada, jelas memberatkan petani. Pasalnya ongkos produksi meningkat, seperti ongkos traktor Rp 25.000 per are, dari awalnya Rp 20.000. Demikian pula untuk ongkos panen sekarang ini berkisar Rp 80.000 hingga Rp 90.000 per kuintal.

Selain itu, para pedagang tak mau lagi membeli dengan sistem tebasan, seperti sebelumnya. Harganya ketika itu bisa antara Rp 450.00 hingga Rp 500.000 per are. “Sekarang pedagang hanya mau beli gabah saja,” ungkap Sukanada.

Di tengah harganya yang anjlok, lanjut Sukanada, pupuk bersubsidi yang diperoleh petani juga berkurang. Di antaranya pupuk urea kini jatahnya hanya 1,17 kilogram per are, padahal sebelumnya bisa sampai 2,25 kilogram per are. Demikian juga untuk pupuk phonska. “Kalau ingin pemupukan normal, jelas petani harus membeli pupuk non subdisidi. Harganya lumayan mahal,” ungkapnya.

Sukanada lanjut membeberkan untuk pupuk phonska harganya bisa sampai Rp 240.000 per zak (25 kilogram). Sedangkan pupuk urea sampai Rp 300.000 per zak (50 kilogram).
Sukanada berharap pemerintah membantu dan memperhatikan nasib petani. “Karena jelas keberadaan petani sangat penting, karena petani lah yang memproduksi bahan pangan (padi dan lainnya),” harapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada belum berhasil dikonfirmasi perihal keluhan petani tersebut. Dihubungi ponselnya tidak ada jawaban. Demikian juga ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, belum ada ada penjelasan.

Sementara Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Nyoman Widyana Putra enggan berkomentar. Dia berdalih tidak memiliki kewenangan, selain kepala dinas. 7 k17

Komentar