nusabali

Ditulis Tangan, Kertas dari Pelepah Pisang dan Sampul Berbahan Kulit Domba

Melihat Al-Qur'an Berusia 4 Abad di Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Kota Denpasar

  • www.nusabali.com-ditulis-tangan-kertas-dari-pelepah-pisang-dan-sampul-berbahan-kulit-domba

Tetua dahulu bersama warga mengarak Al-Qur'an ini mengelilingi kampung satu kali sehari selama tiga hari pertama Bulan Muharram tujuannya untuk menolak bala.

DENPASAR, NusaBali
Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar masih menjaga warisan leluhur mereka meski jauh dari tanah moyang. Satu di antara warisan itu adalah kitab suci Al-Qur’an yang sudah ada dari abad ke-17 Masehi. Al-Qur’an kuno ini merupakan satu dari banyak warisan 42 orang suku Bugis yang terdampar di Pulau Serangan pada era Kerajaan Badung berabad silam. Karena menjalin hubungan saling menguntungkan dengan kerajaan, mereka pun dihibahkan tanah oleh kerajaan dan menetap di sana. 

Muhamad Zulkifli,48, Wakil Ketua Takmir Masjid As-Syuhada, Kampung Bugis, Serangan menuturkan Al-Qur'an kuno ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal, Jakarta pada tahun 1995. Di saat bersamaan, kitab suci umat Islam itu diteliti oleh Kementerian Agama. Kata Zulkifli, kitab suci ini diperkirakan berasal dari Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Ini dilihat dari tanah asal imam yang memimpin rombongan suku Bugis sampai ke Serangan. Namun, ia menegaskan, belum ditemukan literatur menyebutkan asal muasal Al-Qur'an yang ditulis tangan dengan sampul kulit domba itu. 

"Al-Qur'an ini ditulis tangan, kertasnya dari (serat) pelepah pohon pisang, dan sampulnya itu dari kulit domba. Kondisinya saat ini masih full 30 juz, hanya saja fisiknya tidak beraturan, dan sudah acak halamannya," imbuh Zulkifli yang juga Ketua LPM Kelurahan Serangan ini. Diungkapkan Zulkifli, saat ia masih remaja, Al-Qur'an kuno ini masih dapat dibaca selayaknya Al-Qur'an pada umumnya. Namun, begitu Kampung Bugis jadi destinasi wisata religi sejak tahun 1990-an, banyak tangan wisatawan dan tangan usil menyentuh kitab suci ini. 

Walhasil, ada bagian kertas Al-Qur'an yang sengaja dirobek dijadikan jimat. Di samping itu, kertasnya menjadi lembab lantaran banyak tangan yang menyentuh. Zulkifli mengakui, kala itu warga belum mengenal protokol memamerkan benda bersejarah dengan baik. 

Foto: Muhamad Zulkifli, Wakil Ketua Takmir Masjid As-Syuhada, Kampung Bugis. -NGURAH RATNADI

"Awalnya Al-Qur'an ini disimpan di masjid dan jadi pengenalan wisata religi sepaket dengan Masjid As-Syuhada, makam Haji Mu'min, dan rumah adat Bugis. Karena alasan keamanan, dikembalikan dan disimpan di rumah yang dianggap ahli waris," beber Zulkifli. NusaBali kemudian mengunjungi rumah Saira,80, yang menyimpan Al-Qur'an berusia 4 abad ini. Secara kasat mata, tulisan aksara Arab di dalam kitab masih jelas terbaca dan sampulnya pun masih cukup kokoh. Hanya saja, pinggiran kertasnya sudah robek. 

Al-Qur'an itu disimpan di dalam etalase kaca. Kata menantu Saira, rombongan wisatawan masih banyak yang berkunjung. Terakhir kali, wisatawan datang sepekan lalu jelang Lebaran Idul Fitri 1445 Hijriah tahun ini. Dijelaskan Saira, Al-Qur'an kuno ini dibawa oleh Haji Alwi, sang datuk (kakek) dari suaminya yang juga masih sepupunya. Menurut cerita turun temurun, Al-Qur'an ini dibawa oleh Haji Alwi dari Mekkah, kemudian kembali ke tanah moyang di Kerajaan Wajo, sebelum menuju ke Bali. 

"Al-Qur'an ini dibawa oleh datuk saya, Haji Alwi, dari Tanah Suci ke Wajo, sebelum tiba di sini (Serangan)," ungkap Saira, salah satu warga tertua di Kampung Bugis, Serangan saat ini. Terlepas dari asal muasalnya, Al-Qur'an ini kompak dijaga oleh warga Kampung Bugis, Serangan yang berjumlah 100-an kepala keluarga. Mereka juga mempunyai tradisi melibatkan Al-Qur'an ini yang dilakukan pada bulan Muharram, kalender Hijriah. 

Kata Zulkifli, tetua terdahulu bersama warga mengarak Al-Qur'an ini mengelilingi kampung sebanyak satu kali sehari, selama tiga hari pertama Bulan Muharram (Bulan pertama dalam penanggalan kalender Hijriyah yang menandai masuknya tahun baru Islam). Seiring perkembangan zaman, tradisi ini dipadatkan menjadi tiga kali pengarakan dalam sehari dan dilakukan pada hari pertama Muharram saja. "Tujuan mengarak Al-Qur'an tua ini adalah untuk menolak bala. Jadi, Al-Qur'an itu dijunjung di atas kepala dan dibawa keliling kampung sebanyak tiga kali dalam sehari. Waktu pelaksanaannya, yaitu 1 Muharram, saat Tahun Baru Islam," ujar Zulkifli. 7 ol1

Komentar