nusabali

Parlemen Dunia Belajar Demokrasi ke Bali

  • www.nusabali.com-parlemen-dunia-belajar-demokrasi-ke-bali

DENPASAR, NusaBali.com – Sebanyak 70-an orang delegasi The Inter-Parliamentary Union (IPU) atau parlemen dunia diagendakan melakukan Election Visit Program (EVP) untuk memantau proses Pemilu 2024 di Bali pada Rabu (14/2/2024) nanti.

KPU Provinsi Bali menyebut, parlemen dunia ingin belajar demokrasi di Bali yang bersanding dengan keunikan budaya setempat. Delegasi parlemen dunia dijadwalkan tiba di Pulau Dewata pada Senin (12/2/2024) ini.

“Mereka ingin belajar demokrasi, mereka akan diberikan pemahaman apa itu demokrasi Indonesia, juga bagaimana proses pemilu di Bali,” jelas I Dewa Agung Gede Lidartawan, Ketua KPU Bali ketika dijumpai pada Sabtu (10/2/2024) malam usai acara Harmoni dalam Demokrasi Bali Shanti di Dharmanegara Alaya, Denpasar.

Di samping itu, delegasi EVP juga diagendakan memantau secara langsung proses pemungutan dan penghitungan suara di tiga Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di Kabupaten Badung dan Bangli.

Tiga TPS yang dikunjungi EVP adalah TPS 19 di Balai Banjar Teba, Jalan Ulun Suwi, Kelurahan Jimbaran dan TPS 29 SD Nomor 5 Ungasan, Jalan Toya Ning II, Banjar Bakung Sari, Desa Ungasan di Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Kemudian, satu lagi di TPS 09 Desa Penglipuran di Kelurahan Kubu, Kecamatan/Kabupaten Bangli.

Kata Lidartawan, ada alasannya mengapa tiga TPS ini dipilih untuk EVP. TPS 19 Banjar Teba, Jimbaran memiliki penyelenggara pemilu yang keseluruhannya perempuan. Lantas, TPS 29 Ungasan berada di dekat areal wisata Garuda Wisnu Kencana. Sedangkan TPS 09 Desa Penglipuran merepresentasikan pemilu di pedesaan.

“Jadi pukul 06.00 Wita, mereka sudah berangkat dan melihat pembukaan TPS. Setelah itu, makan siang sebentar kemudian dilanjut menyaksikan proses penghitungan suara,” tutur Lidartawan yang juga mantan Ketua KPU Kabupaten Bangli dua periode ini.

Lidartawan mengungkapkan, di Indonesia, Bali menjadi tuan rumah EVP dari parlemen dunia. Kata dia, kepercayaan ini mungkin didapatkan lantaran melihat keunikan pemilu di Pulau Dewata yang sekaligus menjadi tujuan wisata dunia.

Di Bali pula, kata Lidartawan, menjadi satu-satunya daerah di tanah air yang sudah menjadi tradisi untuk memakai pakaian adat ketika mencoblos di TPS. Bukan saja pemilih, penyelenggara juga mengenakan pakaian adat. Selain itu, kulkul sebagai alat komunikasi tradisional juga turut dibunyikan untuk mengundang warga menunaikan hak pilih. *rat

Komentar