nusabali

Longsor Timpa 3 Santriwati, 1 Meninggal

Saat Hujan Guyur Karangasem Minggu Malam

  • www.nusabali.com-longsor-timpa-3-santriwati-1-meninggal

Jenazah korban longsor Mirafsul Aulia sudah dimakamkan di kuburan muslim Desa Musi, Senin kemarin pukul 11.00 Wita, sesaat setelah tiba di rumah duka

AMLAPURA, NusaBali
Sebanyak tiga orang santriwati (siswi) yang tengah mengambil air hujan tertimbun longsor tembok senderan lapangan voli di Pondok Pesantren At-Taqwiim, Banjar Kampung Anyar, Desa Bukit, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Minggu (3/12) malam pukul 22.30 Wita. Akibatnya, 1 orang santriwati meninggal dan 2 santriwati lainnya mengalami luka-luka.

Santriwati yang meninggal atas nama Mirafsul Aulia,17, kelas XII Madrasah Aliah (MA) At-Taqwiim asal Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Sedangkan dua santriwati luka-luka, yakni Ulva Izzah,18, kelas XII Madrasah Aliah At-Taqwiim asal Lingkungan Juuk Manis, Kelurahan/Kecamatan Karangasem mengalami luka di kepala dan kaki kiri dan Siti Anisa,18, kelas XII Madrasah Aliah (MA) At-Taqwiim, asal Lingkungan Penaban, Kelurahan/Kecamatan Karangasem, luka patah kaki kanan.

Kedua santriwati yang luka-luka masih menjalani perawatan di RSUD Karangasem. Sedangkan santriwati yang meninggal jenazahnya langsung dibawa ke kampung halamannya di Desa Musi, Gerokgak, Buleleng. Kelian Banjar Kampung Anyar, Kamarudin mengungkapkan awalnya sejumlah santri (siswa laki-laki) hendak bermain voli pada pukul 21.30 Wita. Namun tiba-tiba hujan lebat mengguyur, para santri pun membatalkan main voli. Mereka kemudian berteduh di emperan kantin.

Sedangkan tiga santriwati yang tinggal di Asrama Putri Pondok Pesantren At-Taqwiim, di barat lapangan voli mengambil air hujan untuk kebutuhan mandi sehari-hari, sebab sejak 5 bulan terakhir kesulitan air bersih. Posisi tempat mengambil air di balik tembok panyengker lapangan voli. Saat itulah di luar dugaan tembok panyengker dengan panjang 20 meter dan tinggi 3 meter itu jebol dan menimbun tiga orang santriwati.

Foto: Santriwati saat menjalani perawatan di IRD RSUD Karangasem Senin (4/12). -IST

Korban Mirafsul Aulia yang terkubur dinyatakan meninggal di tempat dan dua lainnya berhasil diselamatkan. Saat kejadian sedang berlangsung rapat dewan guru jelang pembagian rapor semester genap yang dikoordinasikan Kepala MA At-Taqwiim Ali Musbah dan Kepala Sekolah MTs At-Taqwiim Erno. Rapat dewan guru pun dihentikan dan mereka langsung menuju tempat tembok panyengker longsor yang menimbun tiga santriwati.

Hadir di lokasi kejadian setelah kejadian Kepala Pelaksana BPBD Karangasem Ida Ketut Arimbawa, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD I Nyoman Soka Wijaya, Camat Karangasem I Ketut Juni Arsa Wijaya, Kasi Trantib Camat Karangasem I Gede Parwata, Perbekel Bukit I Gusti Ngurah Widnyana, Kepala Asrama Putri Ustad Saiful, dan warga Pondok Pesantren At-Taqwiim. "Tembok ini baru dibangun, kemungkinan terlalu berat menahan beban, karena diguyur hujan dan tanah jadi basah," jelas Kamarudin.

Pondok Pesantren At-Taqwiim itu berdiri tahun 1994, di dalamnya ada pendidikan jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs setingkat SMP) dan Madrasah Aliah (MA setingkat SMA). Khusus di Asrama Putri Pondok Pesantren At-Taqwiim penghuninya 90 orang santriwati, sedangkan di Asrama Putra penghuninya 70 orang santri. Informasi di Pondok Pesantren At-Taqwiim, santriwati Mirafsul Aulia merupakan santriwati cerdas selalu juara kelas.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Karangasem, Ida Ketut Arimbawa mengatakan pasca kejadian pihaknya akan memperjuangkan santunan melalui BPBD Provinsi Bali.

"Santunannya untuk yang meninggal Rp 15 juta, kalau yang luka berat masih kami cek dulu seperti apa lukanya," jelas Ida Ketut Arimbawa. Sementara itu jenazah Mirafsul Aulia,17, santri yang meninggal dunia tertimpa tanah longsor di Desa Bukit, Kecamatan/Kabupaten Karangasem tiba di rumah duka di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng pada Senin pagi pukul 09.30 Wita. Jenazah Aulia langsung dimakamkan oleh keluarganya di kuburan muslim desa setempat.

Perbekel Musi, Nyoman Arya Subawa mengatakan Aulia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Mohamad Jedri dan Jamilah. Aula bersekolah di Ponpes At-Taqwiim Desa Bukit, Karangasem dan saat ini duduk di bangku kelas XII MA.

"Dia ikut pesantren di Karangasem sejak masuk MA. Sebelumnya waktu SMP (MTs) dia sekolah di Jawa," kata Subawa saat dikonfirmasi, Senin kemarin. Menurut keterangan dari keluarga, kata Subawa, Aulia tertimpa senderan lapangan voli yang ada di kawasan Pondok Pesantren tersebut. Senderan setinggi tiga meter itu ambruk akibat diguyur hujan deras. Naas saat itu Aulia sedang berada di dekat senderan tersebut hendak menampung air hujan.

Aulia tertimpa senderan longsor hingga meninggal di lokasi kejadian. "Infonya katanya dia lagi di luar asrama, kemudian tertimpa, " ucap Subawa. Selain Aulia, ada beberapa warga Desa Musi yang juga mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren At-Taqwiim. Bahkan adik keempat almarhum Aulia juga mengenyam pendidikan di pondok tersebut. "Kalau tidak salah keluarga Aulia ini memang asli Karangasem, kemudian merantau ke Desa Musi. Ada beberapa warga kami juga yang sekolah dan tamat di Pondok Pesantren itu, " jelas Subawa.

Disinggung terkait sosok Aulia, Subawa mengaku tidak tahu persis sebab sehari-hari Aulia tinggal di asrama yang ada di Pondok Pesantren tersebut. Jenazah Aulia sendiri dimakamkan di kuburan muslim Desa Musi, Senin kemarin pukul 11.00 Wita, sesaat setelah tiba di rumah duka. 7 mzk, k16

Komentar