nusabali

Susik Ngebondres Rasa Arja

  • www.nusabali.com-susik-ngebondres-rasa-arja

Pada awal cerita, memang karakter arja begitu nampak. Namun, menjelang bagian tengah hingga akhir, pementasan terasa seperti bondres yang mengocok perut.

Tampil Beda di Bali Mandara Mahalango


DENPASAR, NusaBali
Sanggar Susik Bondres, Buleleng, mengawali hari pertama ajang Bali Mandara Mahalango IV, Senin (10/7) malam di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali, setelah dibuka secara resmi Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Minggu (9/7) malam lalu. Kehadiran sanggar yang nyentrik dengan logat Bulelengan ini sekaligus mencoba sesuatu yang baru, yakni mementaskan bondres dengan pakaian arja dan mengadopsi pakem arja walau tidak seluruhnya.

Koordinator Sanggar Susik Bondres, I Made Ngurah Sadika, mengatakan, kombinasi ini baginya adalah tahap mencoba. Malam itu pihaknya mementaskan lakon Putri Kembaran yang Terbuang. “Sebenarnya saya hanya mencoba. Bagaimana ya hasilnya,” tutur pemeran tokoh Susik ini.

Pada awal cerita, memang karakter arja begitu nampak. Namun, menjelang bagian tengah hingga akhir, pementasan terasa seperti bondres yang mengocok perut. Lawakan demi lawakan terlontar hingga penonton terpingkal-pingkal. Saat itu pementasan didukung pula oleh Putu Raksa selaku Mantri atau Raja, Wayan Suryawan (Penasar), Ketut Suardana (Wijil atau bondres), Luh Rai (Galuh), dan Kadek Trima Asita (selaku Condong). Turut juga Arya Dharmadi, anak dari Ngurah Sadika juga ikut bermain.

Memang tidak dipungkiri gerak dan cara bicara serta lontaran-lontaran Arya Dharmadi selaku pemeran Mawar mirip sang ayah yakni Ngurah Sadika yang memerankan Susik. Penonton pun seperti melihat tokoh yang kembar. Menurut Ngurah Sadika, dia tidak pusing meski gayanya ditiru. “Soal tokoh Susik dipakai dan ditiru, saya sih biasa saja. Itu tidak masalah bagi kami dan bagi kami itu kita anggap sukses. Yang jelas dia yang memiliki gaya seperti Susik tidak merasa sebagai Susik yang asli,” katanya.

Dia pun menceritakan, karakter tokoh Susik ini mereka temukan dari karakter yang ada di masyarakat. Tepatnya dari karakter pedagang kecil khususnya dagang kopi cantik (dakocan). Dari sosok itu kemudian oleh Ngurah Sadika diwujudkan dalam karakter panggung dengan nama Susik.

“Ada seorang dagang, ya dakocan-lah sebutannya di masyarakat. Wajahnya seperti itu. Kalau sedang dagang bawaan seperti itu manja, sok pintar, dan membuat gemes begitu,” tutur Ngurah Sadika.

Pementasan kombinasi bondres-arja Senin malam lalu mengangkat lakon ‘Putri Kembaran Yang Terbuang’. Lakon ini menurut Ngurah Sadika menceritakan tentang bayi perempuan kembar hasil hamil di luar nikah. Mengingat sang ibu belum menikah dan menutup rasa malu, maka kedua bayi diletakkan di depan puri. Sang raja kemudian memungut bayi kembar tersebut. Keduanya diberi nama Susik (I Made Ngurah Sadika) dan Mawar (Gde Arya Dharmadi).

Kedua anak perempuan kembar itu tumbuh dewasa dan menjadi kesayangan sang raja. “Saya mengangkat cerita anak kembar ini, karena saya melihat potensi anak saya yang juga mampu memerankan karakter Susik. Jadi saya angkat cerita anak kembar Susik dan Mawar,” terang Ngurah Sadika. *in

Komentar