nusabali

Baju Barong, Souvenir Bali ‘Made In’ Beng

  • www.nusabali.com-baju-barong-souvenir-bali-made-in-beng
  • www.nusabali.com-baju-barong-souvenir-bali-made-in-beng

GIANYAR, NusaBali - Baju barong, yakni baju kaos dengan gambar barong, merupakan salah satu souvenir khas Bali. Cikal bakalnya berasal dari Kelurahan Beng, Kecamatan Gianyar, Gianyar, Bali. Karena itu pula, sering disebut baju barong ‘made in’ Beng, Gianyar.

Selain khas, baju barong ‘made in’ Beng, nyaman dipakai. Harganya juga terjangkau. Karenanya, pelancong(wisatawan), baik wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara, familiar dengan ‘baju barong’ Beng Gianyar, makanya menjadi diantara ‘komoditi’ bisnis per-souvernir-an dalam industri pariwisata Bali.

Baju barong, bisa jadi salah satu  petunjuk  sahih, orang atau wisatawan telah berwisata ke Bali. Walaupun  tentu tidak selalu demikian, mengingat  souvenir yang  diasosiasikan dengan Bali, beragam.  Untuk produk katagori sandang, ada  destar  atau udeng, maupun kain pantai dengan corak yang cerah. Maupun  souvenir lain, berupa kuliner penganan  dengan tampilan dan ciri tertentu.

Namun lepas dari itu, tetaplah baju barong memiliki catatan khusus. Antara lain, perjalanannya yang mungkin sudah melewati setengah abad, ketika mulai dirintis di Desa Beng, Gianyar (sebelum jadi kelurahan). “Sekitar tahun 1972-an sudah ada,”  ujar Pande Putu Sumarwata, salah seorang  dari keluarga perajin baju barong, Sabtu (23/9).

Dia mengatakan tidak tahu persis, bagaimana awalnya. Ketika itu, Pande Sumarwata sudah SMA. Nah, kakaknya (almarhum) yang merintis pembuatan baju barong. “Dengan cara digambar,” ungkapnya. Sedangkan Pande Sumarwata membantu.

Singkat cerita, kerajinan berkembang dan meluas. Keluarga, kerabat dan tetangga sekitar di lingkungan Beng, banyak yang membuat produk sejenis. Bahan, thema gambar sama. Namun pewarnaan,  style gambar barong, tidak sama. “Masing-masing punya kekhasan,” cerita Pande Sumarwata ditemani Ni Nyoman Astinasari, istrinya.

Tahun 1980-1990 merupakan masa booming kerajinan souvenir baju barong made in Beng, Gianyar. Pesanan ramai. Banyak orang yang mendapat penghasilan dari kerajinan baju barong. Mulai dari tukang potong, pembuat desain, tukang gambar, mengeringkan, membungkus hingga pekerjaan finishing lain sampai ke pasar. “Dulu dijual dengan ngacung ke tempat-tempat wisata, seperti Kuta, Sanur, Sukawati, Ubud dan lainnya,” terang Pande Sumarwata.

Sedangkan sekarang, perajin tidak lagi menjual langsung, mengacung. Namun membuat berdasarkan pesanan, dari toko oleh-oleh  maupun pebisnis industri oleh-oleh.  Selepas tahun 1990-an, kerajinan baju barong mengalami masa surut. Pembuatan baju barong tetap ada, namun orang yang menggeluti pembuatan baju barong berkurang. Hal itu karena ada pekerjaan alternatif.

Hingga sampai dengan pandemi Covid-19, kerajinan baru barong tetap jalan, karena permintaan memang tetap ada. Hanya volumenya yang menurun. Dan saat puncak pandemi Covid-19, dari 2020-2022, kerajinan baju barong di Beng, benar- benar terdampak. Produksi terhenti. Orderan tidak ada, karena pariwisata Bali ‘kolaps’. “Sama dengan yang lain, kami perajin tidak bekerja,” lanjut Pande Sumarwata.

Namun kini setelah pandemi berakhir, pembuatan baju barong  bergerak kembali. “Astungkara sudah mulai membaik. Namun masih sedikit-sedikit, kisaran sekitar 500 yard (meter)” tambah Astina Sari.

Menurutnya, wisatawan domestik yang lebih banyak mengandrongi baju barong. “Tanda, sudah sempat berwisata ke Bali,” ucap Astina Sari, berkira-kira. Kerajinan baju barong, merupakan kerajinan rumah tangga. Karena itu, di kala tertentu orang bisa menyaksikan  pekarangan perajinan penuh ‘dihiasi’ baju barong yang dijemur untuk pengeringan. Itu menunjukkan adanya orderan.

Walau tidak  melontarkan, perajin baju barong Beng, mengiyakan kalau produk yang mereka buat, mendukung perkembangan pariwisata Bali. Bukan saja, gambar barong yang memang khas Bali. Namun pada baju yang dibuat, perajin melukiskan kata ‘Bali’ . “ Kalau kami wajib tulis ini, bahwa ini produk dari Bali,” sela Pande Sumarwata.

Dia pun yakin, dengan  orisinilitas baru barong ‘made in’ perajin Beng. Boleh jadi di luar, mungkin ditiru. Namun  cita rasa, di yakini tak tergantikan. “Karena kami membuatnya dengan menggambar, jadi ada rasa saat itu,” kata Pande Sumarwata.7k17

Komentar