nusabali

Menyikat Gigi Sejak Dini

  • www.nusabali.com-menyikat-gigi-sejak-dini

MEMPERBAIKI cara menyikat gigi anak dapat mencegah timbulnya karies dan gigi keropos akibat endapan sisa makanan dalam mulut.

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak RSUP dr Cipto Mangunkusumo drg Dwi Mutia Ramdhini SpKGA, mengatakan sisa makanan atau sisa susu yang menempel lama di gigi dalam jangka waktu panjang, membuat gigi keropos.

Dwi dilansir dari antaranews, Selasa (12/9/2023), mengatakan cara sikat gigi yang masih belum benar dan tidak mengenai semua permukaan gigi, dapat menyebabkan gigi anak berlubang. Makanan yang mengandung manis dan lengket dapat bertahan di dalam gigi dan mulut, sehingga sisa makanan di dalam mulut tersebut akan menyebabkan terjadinya karies gigi, jika tidak dibersihkan secara menyeluruh dan benar.

Dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan, 93 persen anak Indonesia berusia 5-6 tahun sudah mengalami karies gigi, karena masih banyak orangtua yang menganggap gigi karies atau berlubang suatu hal yang wajar karena gigi susu pada anak akan berganti saat dewasa.

Padahal, gigi susu anak memiliki banyak manfaat pada tumbuh kembangnya. Yang paling utama adalah sebagai alat mengunyah di mana makanan bernutrisi masuk melalui rongga mulut, yang dapat memengaruhi masa bertumbuhnya.

Jika gigi anak berlubang, fungsi pengunyahannya menjadi tidak maksimal sehingga berdampak pada asupan nutrisinya yang menjadi tidak baik dan kurang. Efeknya pertumbuhan dan perkembangan anak pun menjadi tidak baik.

Tak hanya itu, gigi juga sebagai nilai tambah dari fungsi estetika. Jika gigi anak ompong atau hitam karena karies dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. Gigi yang copot sebelum waktunya pun, kata Dwi, akan memengaruhi gigi selanjutnya yang akan tumbuh menjadi tidak beraturan dan berantakan.

Kalau misalnya ia berlubang atau sampai lepas sebelum waktunya, maka nanti gigi penggantinya yang akan tumbuh jadi kehilangan arah, bahkan menjadi sempit ruangan yang seharusnya ada. Atau rahang giginya ini menjadi sempit karena sudah lepas sebelum waktunya. Nanti efeknya gigi permanen yang akan tumbuh itu menjadi berantakan.

Untuk mencegah meningkatnya risiko gigi berlubang pada anak, orangtua harus tegas membatasi konsumsi makanan manis dan lengket, seperti permen atau coklat setidaknya seminggu sekali, dengan tetap disiplin menyikat gigi.

Batasi juga konsumsi susu formula maupun ASI sebelum tidur atau sebagai pengantar tidur. Karena ASI sekalipun dapat menyebabkan gigi berlubang. Dwi mewajibkan orangtua menyikat gigi anaknya malam sebelum tidur agar kuman sisa minum susu tidak menggerogoti gigi.

“Kalau buat anak yang dikasih susu sebelum tidur oke enggak apa-apa, tapi baiknya tetap sikat gigi sebelum tidur, atau dilap pakai kasa lembab ke giginya,” ucap dokter yang tergabung dalam Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) ini.

Dia katakan, terapkan juga kebiasaan rutin menyikat gigi pada anak bahkan saat anak belum memiliki gigi sekalipun, dengan rutin membersihkan rongga mulut dan gusi sehabis mengonsumsi ASI atau susu formula menggunakan kasa lembut atau waslap.

Jika anak sudah memiliki gigi, mulailah menyikat gigi dengan pasta gigi berflouride dalam takaran dosis yang aman untuk anak, yakni sebesar biji beras. Meskipun anak belum bisa berkumur, kandungan fluoride pada pasta gigi anak masih aman jika tertelan selama masih sesuai dosis yang disesuaikan.

“Saran dari FDI dan WHO, sikat gigi harus mulai dari gigi pertama tumbuh dan jangan lupa menggunakan pasta gigi yang ada fluoridenya, walaupun tertelan itu masih aman. Efeknya untuk proteksi giginya itu sangat berpengaruh banget mencegah supaya gigi nggak karies,” ucap Dwi.

Diingatkan untuk menyikat gigi anak pagi dan malam sebelum tidur, dan pakai sikat berbulu lembut. Orangtua juga perlu mendampingi anak untuk sikat gigi hingga usia enam tahun guna memastikan semua area gigi tersikat dengan baik.

Jika gigi anak ada tanda-tanda menguning, kunjungi dokter gigi untuk diberikan pasta fluoride dengan dosis tinggi agar tidak semakin melebar dan menjadi karies.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia drg Usman Sumantri MSc, membagikan waktu yang tepat memperkenalkan anak-anak untuk menyikat gigi, yaitu sejak mereka sudah bisa diajak bermain dan saat giginya sudah tumbuh.

“Sekarang mainan dokter-dokteran itu ada sikat giginya, sehingga bisa digunakan untuk memperkenalkan menyikat gigi,” kata Usman.

Dikatakannya, ketika anak sudah tumbuh gigi, maka orangtua atau orang dewasa di sekitarnya harus memperkenalkan menyikat gigi sebelum tidur demi menghindari plak tertinggal di gigi. Menurut dia, memperkenalkan anak menyikat gigi sejak dini merupakan hal penting demi membentuk kebiasaan menyikat gigi termasuk sebelum tidur.

“Delapan jam itu sudah mampu membentuk plak, apalagi kalau makan jenis-jenis permen, makanan yang gampang melekat itu harus betul-betul dihilangkan supaya tidak tertinggal,” ujarnya.

Dampak buruk malas menyikat gigi, adalah gigi berlubang yang salah satunya bisa mengancam nyawa.

“Orang yang meninggal karena giginya berlubang, tidak dirawat bernanah, didiamkan bisa ke jantung, ginjal. Jadi menyebabkan kematian, indirect to death, tidak menjadikan kematian langsung,” tutur Usman sambil menyarankan orang-orang memeriksakan gigi ke dokter setidaknya enam bulan sekali.

Terkait gigi berlubang, dalam acara yang sama, Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia Prof drg Suryono SH, MM, PhD, mengatakan dampaknya pada organ tubuh lain seperti jantung dan lainnya.

“Saat kondisi tubuh mengalami kelelahan atau imunitasnya menurun, maka kuman yang berasal dari gigi berlubang akan menyebar mengikuti pembuluh darah, bisa ke jantung, ginjal,” kata Suryono.

Dia merujuk beberapa studi menuturkan bahwa saat kondisi kebersihan mulut seseorang buruk maka akan memacu zat-zat inflamasi menyebabkan terjadinya kenaikan kadar gula darah. Namun, saat kadar gula darah bisa dikendalikan, maka kesehatan gigi dan mulut yang tadinya goyah maka bisa kembali baik.

Selain itu, masih berdasarkan studi, ada hubungan antara penyakit sistemik seperti diabetes melitus dengan kondisi kesehatan gigi dan mulut. Mereka yang kadar gulanya tinggi biasanya memiliki ciri salah satunya periodontitis yakni infeksi gusi yang merusak gigi, jaringan lunak dan tulang penyangga gigi.

Selain itu, aroma napas orang dengan kadar gula tinggi yakni seperti cairan pembersih kuteks. 7

Komentar