nusabali

Keris Ratu Pande Nyupat Wawalungan Karya di Pura Besakih

  • www.nusabali.com-keris-ratu-pande-nyupat-wawalungan-karya-di-pura-besakih

AMLAPURA, NusaBali
Keris Pusaka Ida Bhatara Ratu Pande, katedunang (diturunkan) sebagai sarana nyupat (melenyapkan dosa) seluruh wawalungan (hewan, Red) untuk pelengkap upakara Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih.

Jro Gede Pande Sudarta penghunus keris pusaka terbungkus kain merah itu, lanjut menusukkan ke seluruh wawalungan secara simbolik. Hal itu dilaksanakan saay upacara Mapepada wawalungan di Pura Penataran Agung Besakih, Banjar Besakih Kangin, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Anggara Kliwon Prangbakat, Selasa (4/4) pukul 10.00 Wita. Prosesi tersebut dipuput Ida Pedanda Gede Made Putra Abah dari Geria Tengah, Banjar Gede Delod Sawah, Desa Akah, Kecamatan Klungkung.

Prosesi Mapepada Wawalungan berlangsung di Mandala II Pura Penataran Agung Besakih, berawal menghadirkan seluruh hewan kurban. Tiap hewan dipasangi karawista, kemudian pamangku ngalukat seluruh hewan agar bersih secara niskala.

Lanjut  Ida Pedanda Gede Made Putra Abah mapuja, matur piuning (pemberitahuan) sehubungan hendak menggelar upacara Mapepada. Saat mapuja itu Ida Pedanda Gede Made Putra Abah melepas prani (kehidupan) hewan untuk dihaturkan kepada Ida Bhatara Samudaya, dengan harapan kelak berinkarnasi derajatnya meningkat jadi manusia.

Sebab, kurban itu sangat beruntung, sebagai pelengkap upacara Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh, di antaranya 5 ekor kebo (kerbau), yakni Kebo angrek wulan, Buda cemeng dan Yos merana, seekor godel, seekor kambing, seekor penyu, seekor angsa, Sejumlah ayam, bebek, yang merupakan unsur isi laut, isi gunung, isi sungai, isi daratan dan sebagainya.

Ritual itu juga dengan menghaturkan intisari isi semesta, agar nantinya kembali dapat anugerah kemakmuran untuk kesejahteraan umat sedharma. Usai segenap pamangku malukat seluruh kurban, berlanjut upacara majaya-jaya, mengayab banten wewalungan. Lanjut, mapepada keliling Mandala II Pura Penataran Agung Besakih sebanyak tiga kali, mengelilingi palinggih Padma Tiga, Bale Pawedaan, Bale Panggungan, Bale Peselang, Bale Pesamuan Agung, Bale Pepelik, meru tumpang solas (sebelas) linggih Ida Bhatara Manik Maketel, meru tumpang sia (sembilan) linggih Ida Bhatara Bagus Kubakal, dan bale ongkara.

Iring-iringan paling depan sekerura, canang rawis, lontek, kober selanjutnya mengarak seluruh kurban dan terakhir blaganjur. Di akhir upacara itulah, Jro Gede Pande Sudarta menghunus keris pusaka Ida Bhatara Ratu Pande, menusukkan ke seluruh kurban secara simbolis pertanda nyupat seluruh kurban. "Setiap mapepada wewalungan, seluruh kurban kami wajib nyupat dan membunuh secara niskala, gunakan keris pusaka Ida Bhatara Ratu Pande," jelas Jro Gede Pande Sudarta.

Jro Gede Pande Sudarta menegaskan, kurban itu terbunuh duakali, secara bathin gunakan keris pusaka dan membunuh secara fisik dengan cara menyemblih yang nantinya pangayah mengolah dagingnya jadi pelengkap upacara.

Ketua I Panitia Karya I Gusti Mangku Jana juga menegaskan. "Sebelum pangayah menyemblih kurban secara fisik, maka keris pusaka Ida Bhatara Ratu Pande, sebagai sarana menyupat, agar dosa-dosa kurban lenyap sebelum jadi pelengkap upacara" katanya.

Puncak Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih, Purnama Kadasa, Buda Umanis Prangbakat, Rabu (5/4), Ida Bhatara masineb Buda Paing Wayang, Rabu (26/4). *k16

Komentar