nusabali

Bangga Saat Mampu Kibarkan Merah Putih, Sedih Setelah Tiba di Bali

  • www.nusabali.com-bangga-saat-mampu-kibarkan-merah-putih-sedih-setelah-tiba-di-bali

Atlet angkat berat ASEAN Para Games Indonesia, Ni Nengah Widiasih, mengaku terharu bangga hingga berlinang air mata, saat mampu mengibarkan Sang Merah Putih di event internasional yang berlangsung di Singapura, baru-baru ini. 

Ni Nengah Widiasih, Peraih 3 Emas ASEAN Para Games

AMLAPURA, NusaBali
Hebatnya, dia berhasil menyabet tiga medali emas. Sayang, begitu tiba di Bali, dia merasa sedih dan kesepian karena tidak ada yang peduli terhadap prestasi dirinya. Padahal untuk merebut satu kepingan emas, melalui perjuangan berat.

“Saya merasa bangga hingga berkaca-kaca saat mampu mengibarkan bendera merah putih di event internasional. Tetapi saya sedih, setiba di Bali, tidak ada yang peduli, tidak ada yang menyapa, terutama dari pemerintah tidak mau tahu,” ujarnya di Amlapura, Selasa (22/12) kemarin.

Walau kedatangannya dari luar negeri, sempat dapat sambutan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bersama anggota kontingen lain berupa kalungan bunga, tetapi setiba di Bali, dia mengaku pulang sendiri dari Bandara Ngurah Rai hingga sampai di rumah. “Hanya sempat disambut pelatih dari Bali, sedangkan pihak lain tidak pernah ada yang mau peduli. Meski demikian, saya tetap berobsesi berprestasi lebih baik. Obsesi saya, juara Olimpiade Brasil tahun 2016,” ujar wanita kelahiran 12 Desember 1992.

Sebelum berlaga di Olimpiade Brasil, terlebih dahulu atlet  asal Banjar Bukit, Desa Sukadana, Kecamatan Kubu ini, mesti menuntaskan babak kualifikasi di Malaysia dan Dubai. Sebab, tiap kelas, hanya meloloskan 6 lifter. 

Tercatat, Widiasih menyabet medali emas ASEN Para Games di Solo 2011, ASEAN Para Games Myanmar 2014, dan ASEAN Para Games Singapura 2015. Selebihnya prestasi medali perak dan medali perunggu di Kejuaraan Asia dan kejuaraan dunia.

Widiasih selanjutnya menceritakan dirinya hingga kedua kakinya cacat, tak berfungsi normal, gara-gara menderita demam dengan panas tinggi semasih berusia 3 tahun. Setelah kedua orangtuanya mengajak berobat ke seorang manteri, kemudian diinjeksi, justru penyakitnya tambah parah, badannya lemas, tak bisa bangun dan kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Akhirnya dia divonis menderita polio. 

Setelah usia sekolah, dia masuk SD (Sekolah Dasar) di YPAC Jimbaran Badung dan tamat 2007, SMP YPAC Jimbaran 2010, dan SMA Dwijendra Denpasar 2013. 
Selama sekolah di SD itulah, dia bergaul dengan para atlet dan diajak rekan-rekannya latihan angkat berat sejak kelas VI di bawah pelatih I Ketut Wija. Dia selanjutnya bergabung latihan di Pengprov PABBSI (Persatuan Angkat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia) Bali. Pertama kali ambil bagian di ASEAN Para Games Solo 2011, dan langsung menyabet medali emas. Sejak itu semangatnya termotivasi melanjutkan prestasinya.

“Saya meraih sederet medali emas, berkat motivasi orangtua dan pelatih. Makanya usai bertanding, apalagi berhasil menyabet medali emas, ingin cepat-cepat pulang kampung mengabarkan kepada orang tua,” ujarnya.

Widiasih selain kedua kakinya cacat, mesti menggunakan kaki palsu di bagian kiri dan menggunakan tongkat agar mampu berjalan. 
Widiasih merupakan putri kedua dari empat bersaudara dari keluarga I Gede Gambar dan Ni Luh Bingin. Sempat mendaftar di Universitas Solo, tetapi batal kuliah karena kesibukan berlaga di ajang olahraga internasional.

Selama ini aktif menjaga kondisi dengan latihan fisik, hanya dengan menguatkan otot tangan dan pinggang. Sebab, hanya organ tubuhnya itu yang paling utama jadi tumpuan olahraga angkat berat nomor ben press. 7 k16

Komentar