nusabali

Gumi Kebonkuri Jalankan Tradisi Mepeed Banten Gebogan

  • www.nusabali.com-gumi-kebonkuri-jalankan-tradisi-mepeed-banten-gebogan

DENPASAR, NusaBali.com – Gumi Kebonkuri yang merupakan gabungan empat banjar di Denpasar Timur, yakni, Banjar Kebonkuri Lukluk (Kaja), Banjar Kebonkuri Tengah (Kangin), Banjar Kebonkuri Mangku (Kauh) dan Banjar Kebonkuri Kelod, menjalankan tradisi mepeed banten gebogan pada Anggara Kasih Tambir, Kajeng Kliwon, Selasa (28/2/2023).

Tradisi ini dijalankan enam bulan sekali dengan melibatkan ratusan ibu-ibu dari empat banjar yang ada di Gumi Kebonkuri. Prosesi mepeed banten ini pun mejadi ikon Gumi Kebonkuri.

“Pada hari Selasa (28/2/2023) dilagsungkan piodalan di Pura Kahyangan di mana di masing-masing banjar diawali dengan maolahan (meebat) yang berbentuk pranian masan agung Pura Kahyangan. Setelah itu dilanjutkan dengan nedunin Ida Bhatara pada pukul 16.00 Wita dengan persiapan ibu-ibu PKK mempersiapkan peed bantennya di masing-masing Banjar,” terang Prajuru atau Kelian Gede Gumi Kebonkuri, I Ketut Mudhita (Ghana) yang juga Ketua Pecalang.

Setiap enam bulan sekali, tepatnya pada saat piodalan di Pura Kahyangan ini setiap banjar yang ada di Gumi Kebonkuri mendapatkan giliran mundut dan mendet yang kebetulan pada hari Selasa (28/2/2023) lalu Banjar Kebonkuri Mangku yang mendapatkan giliran mendet.

I Wayan Wiranata selaku panglingsir sekaligus penasehat di Gumi Kebonkuri  mengatakan tradisi mepeed banten ini merupakan sebuah satu kesatuan dari piodalan di Pura Kahyangan Kesiman.

“Sejarahnya bermula ketika prosesi ini diperintahkan oleh Raja Kesiman dimana Gumi Kebonkuri diberikan ngemong (tanggung jawab) dalam piodalan di Pura Kahyangan ini,” ujar Wiranata.

Adapun artian dari busana peed banten yakni adalah sebagai bentuk penggambaran busana zaman dulu yang harus tetap dilestarikan meskipun sudah memasuki jaman modern.

Makna dari tradisi meed ini adalah sebagai ungkapan rasa bhakti, syukur dan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi dan dipersembahakan juga kepada Dewi Durga dengan tujuan untuk menyeimbangkan jagat (bumi) dari merana (wabah penyakit) agar konsep Tri Hita Karana terjaga dan seimbang. *m03

Berita ini merupakan hasil liputan Ngurah Arya Dinata, mahasiswa Praktek Kerja Lapangan di NusaBali.com

Komentar