nusabali

Siat Tipat, Ritual Bersenang–senang Jelang Panen

  • www.nusabali.com-siat-tipat-ritual-bersenang-senang-jelang-panen

Atraksi siat tipat (perang ketupat) atau warga setempat menyebut masantalan, antardua kelompok warga Desa Pakraman Apityeh, Desa/Kecamatan Manggis, Karangasem, sebagai ekspresi menyambut panen di sawah kembali digelar pada Anggara Kliwon Tambir, Selasa (30/5).

Tradisi di Desa Apityeh Usai Usaba Carik


AMLAPURA, NusaBali
Pemuda dari empat banjar adat dikerahkan. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, adu kuat silih berganti menyerang menggunakan senjata tipat.

Siat tipat berlangsung di pertigaan Desa Pakraman Apityeh, Selasa kemarin sekitar pukul 15.30 Wita, dikoordinasikan Bendesa Pakraman Apityeh, Desa Manggis I Wayan Candra.

Perang berakhir setelah seluruh tipat hancur, tidak lagi bisa digunakan sebagai senjata. Sebab tipat yang digunakan melempar lawan, ditangkap pihak lawan kemudian kembali digunakan sebagai senjata untuk melakukan serangan balik, begitu silih berganti.

Rangkaian siat tipat sebenarnya mulai pagi. Diawali warga Desa Pakraman Apityeh mengelilingkan seekor godel (anak sapi) di wilayah desa. Selanjutnya godel disembelih, dagingnya dibagikan kepada warga yang berasal dari empat banjar adat; Apityeh Kaja, Apityeh Kangin, Kawan, dan Kelodan.

Kemudian prajuru desa membunyikan kentongan, pertanda mengolah daging godel di tiap rumah bisa dimulai. Upacara selanjutnya mulai menggelar banten pacaruan, sekitar pukul 13.00 Wita di Pura Puseh dipuput Jro Mangku Nyoman Sudiarta, pacaruan di Pura Taman Beji dipuput Jro Mangku Nengah Sarjana, di Pura Bale Agung dipuput Jro Mangku Ketut Rening, dan terakhir upacara pacaruan di Pura Dalem dipuput Jro Mangku Nyoman Nari.

Seluruh krama banjar adat dikoordinasikan kelian masing-masing, yakni Banjar Adat Apityeh Kaja dikoordinasikan Kelian I Nyoman Dangin, Banjar Apityeh Kangin dikoordinasikan Kelian I Ketut Manis, Banjar Kawan dikoordinasikan I Nengah Tambir, dan Banjar Kelodan dikoordinasikan I Wayan Sukerti.

Sebenarnya siat tipat dilangsungkan setelah Usaba Dalem di Pura Dalem, pada Anggara Kliwon Medangsia Tilem Kadasa, Selasa (25 April 2017), menyusul Usaba Carik atau Usaba Biu Kukung di Pura Taman Beji, pada Soma Kliwon Krulut, Senin (15 Mei 2017), lima hari kemudian digelar siat tipat. Ritual ini berlangsung setiap tahun sekali.

Setiap krama wajib membawa satu kelan tipat (isinya 6 butir) untuk senjata. Tetapi yang berperang adalah para teruna dari empat banjar. Teruna boleh memilih wilayah, yang dibagi menjadi wilayah utara dan selatan.

Perang kali ini dijaga delapan pecalang dikoordinasikan Kelian Pecalang I Wayan Netra, dengan membentangkan tali sebagai pembatas. Jarak kedua kelompok sejauh 3 meter.

Begitu aba-aba dilakukan Bendesa Pakraman Apityeh I Wayan Candra, perang bisa dimulai dengan saling lempar tiat. “Masantalan ini sebagai bentuk rasa syukur, setelah berhasil tanam padi, tinggal menunggu panen. Boleh dibilang ini ritual bersenang-senang,” kata Wayan Candra.

Selesai siat tipat, krama kemudian kembali ke bale banjar masing-masing untuk mengikuti upacara maprani, atau makan bersama di mana makanan disuguhkan menggunakan dulang.

Sesuai keyakinan setempat, siat tipat itu muncul berawal kisah perjalanan putri raja Ida Bhatara Dalem Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, disunting Ida Bhatara Dalem Desa Apityeh.

Sang putri ternyata tidak betah tinggal di Istana Raja Dalem Desa Apityeh. Maka sang putri mengadu ke ayahnya di Desa Selumbung. Ayahnya membekali sang putri satu kelan (6 butir ketupat). Sekembalinya sang putri dari Desa Selumbung, ketupat dibagikan kepada warga yang ditemui di jalan. Sejak itulah, Sang Putri bersama warga tidak pernah kekurangan sandang dan pangan. Berkah itu diwariskan kepada warga Desa Pakraman Apityeh, sebagai pangempon Pura Dalem mewilayahi empat banjar. *k16

Komentar