nusabali

Pasar Galang Ayu, Berdiri untuk Bangkit dari Pandemi

  • www.nusabali.com-pasar-galang-ayu-berdiri-untuk-bangkit-dari-pandemi

DENPASAR, NusaBali.com – Untuk mewadahi para pelaku usaha yang terdampak pandemi Covid-19, sebuah lahan seluas 68 are disulap menjadi pasar. Tujuannya, menampung ‘korban-korban’ pandemi untuk mendapatkan mata pencaharian kembali.

Pasar yang diberi nama Pasar Galang Ayu ini didirikan oleh I Wayan Nuada, seorang putra daerah yang juga seorang pemilik PT BPR Padma. Lokasinya berada di kawasan padat penduduk di Jalan Pulau Galang nomor 9, Banjar Gunung, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan itu

Menurut Manajer Operasional dari Pasar Galang Ayu (PGA), I Komang Adnyana Sumitra, 35, pasar di bawah CV Pasar Galang Ayu itu memiliki visi untuk mewadahi pelaku usaha dan masyarakat yang terdampak pandemi dengan menyediakan tempat atau lapak untuk memamerkan produk-produk mereka.

Sampai saat ini, pasar yang dilengkapi wifi gratis, food court, dan wahana bermain anak-anak, serta hiburan musik setiap akhir pekan tersebut sudah berjalan hampir delapan bulan sejak dibuka secara resmi pada 18 Desember 2021 lalu.

Kata Adnyana, saat ini lapak di pasar tersebut sudah terisi 60 persen dari kapasitas 120 pelapak yang bisa ditampung. Pihaknya saat ini menunggu para pelaku usaha untuk mendaftarkan usahanya untuk menjadi pelapak maupun sebagai peserta pameran serangkaian acara peringatan HUT Ke-77 RI bertajuk ‘Mekeber.’

Acara yang bermakna Memulihkan Ekonomi dengan Berkreativitas bersama (Mekeber) UKM, IKM, dan UMKM Bali tersebut dibuka oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara, pada Sabtu (13/8/2022).

Mekeber sendiri menerima tenant yang menawarkan berbagai macam produk untuk mengisi lapak pasar, tanpa dipungut biaya. Bagi tenant yang ingin melanjutkan mengisi lapak pasar juga dibebaskan dari biaya pendaftaran dan pungutan lapak hingga tiga bulan ke depan, namun tetap dikenakan biaya kebersihan dan kelistrikan sebesar Rp 100.000 per bulan.

“Setelah itu kami akan evaluasi, di mana kalau lalu lintas orang datang untuk berbelanja dan perputaran ekonomi antara pembeli dan penjual bagus baru kami akan pelan-pelan kenakan biaya sewanya,” jelas Adnyana kepada NusaBali.com saat ditemui di sela-sela mempersiapkan acara ‘Mekeber’ hari kedua, Minggu (14/8/2022).

Menurut salah satu pemilik lapak food court di PGA, Ajik Bram, 47, keputusannya untuk membuka usaha soto sapi dan ayam di pasar tradisional rasa modern itu setelah dirumahkan pada pandemi lalu, sudah tepat, sebab, saat ini, dengan usaha tersebut Ajik bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun Ajik juga mengakui PGA masih memerlukan proses pengenalan sehingga lalu lintas orang berbelanja di pasar tersebut lebih tinggi. “Sementara tidak ada kendala, semua berjalan sesuai rencana dan program, cuma mungkin masih perlu pengenalan,” kata pria asal Tabanan.

Ajik pun berharap agar seluruh pelapak bisa saling bergandengan tangan mengenalkan dan memajukan PGA, sebab, ia berpendapat, pasar tersebut sudah memiliki modal untuk itu yakni pasar yang dilengkapi berbagai macam fasilitas lain termasuk food court.

Sementara itu, Perbekel Desa Pemogan, I Made Suwirya, 52, mendukung penuh pendirian pasar tersebut dikarenakan selain dimiliki putra daerah, pasar tersebut juga menyerap 90 persen tenaga kerja dan 80 persen pelapak dari warga asli Desa Pemogan.

“Sebagai pucuk pimpinan pemerintah desa, mengapresiasi dengan adanya PGA apalagi yang mempunyai adalah putra daerah. Secara tidak langsung membantu masyarakat Desa Pemogan di 17 dusun untuk meningkatkan perekonomian,” ungkap Suwirya saat ditemui pada kesempatan yang sama.

Suwirya mengaku akan tetap menjaga sinergi dengan manajemen PGA ke depan demi menjaga pemenuhan kebutuhan prioritas masyarakat. Selama ini, 80 persen warga Desa Pemogan berkecimpung di bidang pariwisata dan sektor penunjangnya, sehingga ketika pandemi melanda masyarakat di desa tersebut sangat terdampak.

Dengan adanya PGA, perbekel yang sudah menjabat setengah masa bakti itu berharap PGA tidak hanya menjadi pusat perputaran ekonomi tetapi juga edukasi bagi generasi muda perihal keberadaan pasar tradisional yang tidak seperti mereka kenal sebelumnya.

Adnyana selaku Manager Operasional PGA pun mengamini hal tersebut, sebab, PGA memang didesain untuk segala kalangan mengingat terdapat fasilitas yang bisa dinikmati segala kalangan dari usia belia sampai tua.

“Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat yang kemarin mungkin hanya ibu-ibu yang pergi ke pasar sekarang kita ubah konsepnya ke yang lebih modern, sehingga satu keluarga bisa datang ke pasar,” tutur Adnyana. *rat

Komentar