nusabali

Kapal Barang Nyaris Tenggelam di Kubutambahan

  • www.nusabali.com-kapal-barang-nyaris-tenggelam-di-kubutambahan

Musibah unik menimpa Kapal Layar Motor (KLM) Mutiara Biru di perairan Kubutambahan, Buleleng, Selasa (21/3) malam.

Nekat Naikkan 22 Penumpang, Kemudian Kabur Saat Hendak Diperiksa

SINGARAJA, NusaBali
Kabur saat hendak diperiksa petugas di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, kapal barang asal Sapeken, Madura, Jawa Timur ini justru mati mesin di tengah laut, ke-mudian nyaris tenggelam di perairan Kubutambahan. Beruntung, 22 penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, 2 orang di antaranya harus dilarikan ke RSUD Buleleng.

KLM Mutiara Biru yang dinakhodai Suardi, 45, ini sebetulnya merupakan kapal barang. Namun, kapal barang asal Madura ini justru mengangkut 22 penumpang. Peristiwa berawal ketika KLM Mutiara Biru yang sandar di PPI Sangsit bersiap untuk melakukan pelayaran menuju Pelabuhan Barang di Sapeken, Madura, Selasa sore sekitar pukul 15.30 Wita. Ketika itu, seluruh barang sudah dinaikkan ke dalam kapal.

Nah, saat sang nakhoda diminta petugas PPI Sangsit untuk menyerahkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB), kapal barang ini nekat kabur karena merasa bersalah mengangkut 22 penumpang. Selain 22 penumpang, KLM Mutiara Biru juga berisi 6 anak buah kapal (ABK). Namanya kapal barang, KLM Mutiara Biru memang dilarang mengangkut penumpang.

Berselang 1,5 jam kemudian, tepatnya pukul 17.00 Wita, pihak kepolisian menerima kabar bahwa ada kapal mogok di tengah laut, karena mengalami kerusakan mesin. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata kapal itu ternyata KM Mutiara Biru yang sebelumnya kabur dari pemeriksaan di PPI Sangsit.

Petugas kepolisian, Basarnas, dan stakeholder yang terlibat dalam tim yang hendak memberikan pertolongan, sempat kesulitan mendeteksi keberadaan KLM Mutiara Biru yang mulai terseret gelombang di tengah laut yang dalam kondisi hujan dan angin kencang.

Kemudian, malam sekitar pukul 21.50 Wita, KLM Mutiara Biru yang berisi 6 ABK dan 22 penumpang ini terdeteksi berada di koordinat 8° 2'51.55"S-115°11'32.86"E pada jarak 2 mil dari garis pantai Desa/Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Keberadaan kapal diketahui setelah petugas gabungan melihat cahaya di laut. Setelah dilakukan komunikasi dengan sandi morse, barulah dipastikan bahwa kapal terse-but memang benar KLM Mutiara Biru yang mengalami kerusakan mesin.

Begitu posisi KLM Mutiara Biru ditemukan, seluruh potensi SAR akhirnya dikerahkan untuk melakukan evakuasi ABK dan 22 penumpang. Bahkan, para nelayan juga dikerahkan membawa perahu mereka ke tengah laut untuk mengevakuasi para penumpang KLM Mutiara Biru yang nyaris tenggelam.

Proses evakuasi malam itu berlangsung mencekam, karena dilakukan dalam kondisi gelap dan gelombang tinggi. Dari 22 penumpang KLM Mutiara Biru, 2 orang di antaranya harus dilarikan ke RSUD Buleleng di Singaraja, karena mengalami shock, yakni Fadilun, 73, dan Dulhati, 66.

Hingga Rabu (22/3) siang, salah satunya masih dirawat di RSUD Buleleng, yaitu Fadilun. Sedangkan Dulhati sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit. Sebaliknya, 20 penumpang lainnya memilih pulang ke rumah atau kerabatnya masing-masing setelah berhasil dievakuasi petugas dari laut, Selasa malam. Sebagian dari mereka menuju Kota Denpasar.

Sementara itu, Kepala Pos SAR Buleleng, I Made Neksen, mengataka upaya penyelamatan dan evakuasi 22 penumpang KLM Mutiara Biru memakan waktu cukup lama, karena cuaca kurang bersahabat. “Rescue Boat 220 milik Kantor SAR Mataram (NTB) juga dikerahkan untuk membantu operasi SAR dan mengantisipasi kondisi darurat jika diperlukan,” ungkap Made Nekisen di Singaraja, Rabu kemarin. Made Nekisen menyebutkan, begitu proses evakuasi penumpangselesai, mesin KLM Mutiara Biru bisa menyala kembali, Rabu dinihari pukul 04.00 Wita. Namun, nakhoda Suardi dan 5 ABK lainnya malah kabur.

Kepala Unit Pelaksana Pelabuhan Kelas III Buleleng, Ni Luh Putu Eka Suyasmin, memastikan KLM Mutiara Biru sengaja kabur sebelum sempat dicek administrator pelabuhan soal kelayakannya berlayar. Menurut Putu Eka, seluruh aktivitas pengangkutan penumpang dari PPI Sangsit sebenarnya sudah dihentikan sejak November 2016 lalu. Namun, masih saja ada penumpang dan kapal yang kucing-kucingan dengan petugas pelabuhan.

“Kapal niaga diizinkan hanya mengangkut barang. Kenyataannya, kapal niaga (KLM Mutiara Biru) memaksakan diri mengangkut penumpang. Kami tegur, kami minta turunkan penumpang sebelum melakukan pelayaran, ternyata kapal ini nekat kabur, hingga akhirnya mati di tengah laut,” jelas Putu Eka, Rabu kemarin.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak pelabuhan di Sapeken untuk mengmankan KLM Mutiara Biru itu jika ditemukan, karena tidak mengantongi surat perintah pelayaran,” lanjut Putu Eka. Putu Eka menegaskan, nahkoda dan ABK KLM Mutiara Biru akan dikenakan san-ksi sesuai dengan aturan yang berlaku, bahkan hingga pencabutan perizinannya.

Dikonfirmasi NusaBali secara terpisah, Rabu kemarin, Kapolsek Sawan AKP Made Derawi menyatakan pihaknya akan menyelidiki masalah KLM Mutiara Biru yang kabur dari PPI Sangsit hingga nyaris tenggelam ini. Menurut Made Derawi, pihaknya masih berkoordinasi dengan instansi terkait, terutama UPP Kelas III Buleleng.

Sampai kini polisi baru mendapat informasi bahwa kapal itu kabur dari PPI Sangsit dan dipastikan tidak mengantongi surat perintah berlayar. “Kami kerjasama dengan instansi terkait, pihak pelabuhan di Sapeken, Madura. Pihak berwenang di Madura berjanji akan membawa nakhoda KLM Mutiara Biru ke Buleleng, begitu ditemukan nanti,” tandas Made Derawi sereya menyebut KLM Mutiara Biru seharusnya tiba di Sapeken, Rabu malam pukul 21.00 WIB.

Di sisi lain, penumpang atas nama Fadilun yang masih dirawat di RSUD Buleleng, mengaku selama ini tinggal di Denpasar. Saat kejadian, Fadilun yang menderita sakit ginjal hendak pulang ke Madura. Pria berusia 73 tahun ini pilih berangkat pulang ke Madura melalui PPI Sangsit, karena keterbatasan biaya.

“Ya, biar lebih murah dan lebih cepat sampai di Sapeken, saya pilih pulang melalui PPI Sangsit. Saya ingin cepat sampai, karena sudah sait begini,” cerita Fadilun saat ditemui NusaBali di RSUD Buleleng kemarin. Fadilun menyebutkan, ketika kapal nyaris tenggelam di tengah laut, kondisinya drop hingga akhirnya harus dirawat inap di RSUD Buleleng pasca dievakuasi. * k23

Komentar