nusabali

Neraca Dagang RI Surplus Rp 13,2 T

  • www.nusabali.com-neraca-dagang-ri-surplus-rp-132-t

JAKARTA, NusaBali
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Indonesia mengalami surplus neraca dagang US$930 juta (Rp 13,2 triliun) pada Januari 2022 kemarin.

Dengan demikian, RI mencatatkan surplus selama 21 bulan berturut-turut. Meski surplus, sejatinya angkanya mengecil jika dibanding Desember 2021 yang masih US$1,02 miliar (Rp 14,5 triliun).

"Pada Januari 2022 ini kita masih mengalami surplus sebesar US$930 juta," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS Setianto dalam konferensi pers, seperti dilansir Bandung. seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (15/1).

Surplus tersebut berasal dari selisih nilai ekspor yang mencapai US$19,16 miliar (Rp 273,4 triliun) atau naik 35,31 persen dan impor senilai US$18,23 miliar (Rp 260,1 triliun) atau naik 36,77 persen pada Januari kemarin.

Berdasarkan komoditasnya, ekspor RI pada Januari 2022 ditopang oleh industri pengolahan dengan nilai US$15,71 miliar atau naik 31,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan bulan sebelumnya ekspor turun 7,91 persen.

Kemudian, sektor pertambangan dan lainnya yang sebesar US$2,17 miliar artau naik 3,87 persen secara tahunan, turun 42,88 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sedangkan migas ekspor sebesar US$900 juta pada Januari lalu, naik 1,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dibandingkan Desember 2021, ekspor itu turun 17,59 persen.

Juga ada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang nilai ekspornya mencapai US$380 juta atau naik 11,54 persen dibandingkan tahun lalu atau merosot 5,79 persen dibandingkan Desember 2021. Secara struktur, non migas menyumbang 95,3 persen dari total ekspor Januari 2022.

Untuk impor, BPS mencatat mayoritas didominasi oleh bahan baku dan penolong industri yang sebesar 75,97 persen pada periode sama.

Rincinya, untuk bahan baku/penolong nilai impor sebesar US$13,85 miliar atau naik 39,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau turun 11,35 persen dibandingkan Desember 2021.

Sedangkan untuk barang modal sebesar US$2,8 miliar, naik 41,94 persen secara tahunan atau turun 13,45 persen secara bulanan.

Lalu, untuk barang konsumsi senilai US$1,58 miliar atau naik 10,25 persen dibandingkan Januari 2021 atau turun 36,6 persen terhadap Desember 2021. *

Komentar