nusabali

Buntut Peristiwa Gaib Keluarnya Tirta dan Api dari Pohon Pule

  • www.nusabali.com-buntut-peristiwa-gaib-keluarnya-tirta-dan-api-dari-pohon-pule

Sekaa Teruna Teruni berpakaian merah mundut potongan taru dari pohon Pule yang pernah mengeluarkan api, sementara kelompok berpakaian putih mundut potongan taru dari pohon Pule yang pernah keluarkan tirta.

Nah, setelah menunggu 9 tahun, upcara Ngepel Taru kini digelar lantaran seorang pamangku Pura Beji Alas Arum sempat jatuh sakit dan tak kunjung sembuh selama berbulan-bulan. Keluarganya kemudian nunas baos kepada balian. Diperoleh petunjuk, sang pamangku jatuh sakit karena Ida Batara Sesuhunan di Pura Alas Arum duka lantaran tak kunjung digelar upacara Ngepel Taru. "Mengetahui hal itu, kami dari prajuru adat langsung melakukan paruman, kemudian disepakati untuk kembali nunas baos," cerita Budiartha.

Saat prajuru desa nunas baos pun, hasilnya tetap sama: Ida Sesuhunan sama-sama ingin medal dan dibuatkan tapakan Rangda. Hasil nunas baos ini kemudian ditindaklanjuti dengan paruman. Lalu, prajuru adat sepakat tangkil ke sulinggih untuk memohon tuntunan. "Atas petunjuk sulinggih, kami diberi dewasa ayu untuk melaksanakan upacara Ngepel Taru hari ini (kemarin),” beber Budiartha.

Upacara Ngepel Taru di Pura Alas Arum Senin kemarin, ditingkahi peristiwa niskala kerauhan (kesurupan). Kisahnya, beberapa saat setelah potongan taru diambil menggunakan sensor, tiba-tiba seorang pecalang kerauhan disertai isak tangis. “Ida Sesuhunan yang merasuyki raga pecalang kerauhan ini berkata singkat kepada saya, bahwa beliau menangis karena bahagia lantaran upacara Ngepel Taru yang ditunggu sejak lama akhirnya dilaksanakan)," ujar Budiartha.

Setelah pecalang yang kerauhan ini sadar pasca diperciki tirta oleh pamangku, prosesi mundut taru dilanjutkan. Kedua potongan taru untuk tapakan Rangda kemudian kapun-dut menuju Utama Mandala Pura Alas Arum guna distanakan di sana buat sementara. 

Menurut Budiartha, proses pengerjaan tapel Rangda nantinya bakal dilakukan secara bertahap. Untuk tahap pertama, akan dilakukan 14 Januari 2016. Tahap kedua, merupakan finishing seusai hari Raya Galungan. Sanggung (arsitek tradisional) yang nanti dipercaya menggarap tapakan Rangda adalah I Wayan Regig, asal Banjar Jeleka, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar. 

"Kedua tapakan Rangda yang dibuat nanti harus sudah selesai sebelum digelarnya upacara Pedudusan Alit di Pura Alas Arum saat piodalan yang jatuh pada rahina Sukra Kliwon Pahang mendatang,” jelas tokoh adat yang juga Kepala Sekolah (Kasek) SMP Udayana Ukir ini. 7 w

Komentar