nusabali

Undagi Bade Sudah Menjadi Langganan Puri Sejak 1997

Musibah Bade Roboh Timpa Rumah

  • www.nusabali.com-undagi-bade-sudah-menjadi-langganan-puri-sejak-1997

GIANYAR, NusaBali
Musibah tumbangnya bade tumpang sia (9 tingkat) saat upacara palebon di Desa Adat Keliki, Kecamatan Tegallalang, Gianyar pada Radite Wage Krulut, Minggu (25/10) siang, di luar prediksi.

Selama ini, setiapkali keluarga Puri Pengobatan, Desa Adat Keliki menggelar upacara palebon, selalu pesan bade kepada undagi (arsitek tradisional) di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar yang sudah jadi langganan sejak 1997 dan tak pernah terjadi peristiwa seperti sekarang.

Hal ini diungkapkan Manggala Karya Pelebon di Puri Pengobatan, Desa Adat Keliki yang badenya roboh, Ngakan Pramono, saat dikonfirmasi NusaBali, Senin (26/10). Menurut Ngakan Pramono, keluarga puri sudah biasa memesan bade palebon kepada undagi di Desa Bedulu, sejak 1997 silam. Palebon jenazah Panglingsir Puri Pengobatan, Ngakan Gede Padma SH, 56, yang mendadak roboh saat diarak menuju setra, juga dipesan di Desa Bedulu.

Menurut Ngakan Pramono, bade palebon tumpang sia dengan tinggi menjulang sekitar 20 meter tersebut dibuat undagi di Desa Bedulu. Barulah pada H-5 palebon, bade tersebut dirakit di Desa Adat Keliki. Entah kenapa, bade tersebut justru roboh menimpa bangunan rumah berlantai dua saat prosesi pengarakan dari rumah duka di Pura Pengobatan menuju Setra Desa Adat Keliki yang berjarak 2 kilometer, Minggu siang sekitar pukul 13.00 Wita.

Ngakan Pramono mengatakan, pihak puri tidak protes atas kondisi bade yang roboh tersebut. "Ya, bagaimana lagi. Kemarin itu kan upaacara yadnya. Kami yakini beliau tidak sengaja melakukan itu. Sejak tahun 1997 saat pelebon almarhum Niang, undagi badenya juga sama. Tahun 2018, saat palebon ajik (ayah) kami, beliau juga undagi-nya. Baru 3 bulan lalu ketika pelebon Ngakan Putu Menuh, undagi badenya juga sama. Selama ini, tak pernah terjadi apa-apa,” papar Ngakan Pramono.

Terkait adanya informasi bahan yang kurang kokoh, menurut Ngakan Pramono, undagi bade sudah mempersembahkan yang terbaik. "Nggak ada bahan yang dikurangi. Undagi bade pasti buat yang terbaik-lah. Terlebih, hubungan almarhum (Ngakan Gede Padma) dengan undagi sangat baik. Bade itu justru penghormatan terakhir beliau terhadap almarhum," tegas Ngakan Pramono.

Terkait rumah warga yang tertimpa bade roboh, kata Ngakan Pramono, sudah dibicarakan lewat paruman prajuru desa, Selasa kemarin. Warga yang rumahnya tertimpa bade roboh juga tidak keberatan dan menerima ini sebagai musibah. "Rumah itu sebetulnya tidak ada kerusakan. Tapi, karena kebijakan desa kala patra, rumah itu tetap akan diupacarai dengan banten pengulapan,” katanya.

Almarhum Ngakan Gede Padma sendiri meninggal dalam perawatan di RSUP Sanglah, Denpasar, 3 Oktober 2020 lalu, karena penyakit prostat. Panglingsir Puri Pengobatan, Desa Adat Keliki ini dulunya seorang pengacara kenamaan di Gianyar. Almarhum berpulang buat selamanya dengan meninggalkan dua orang istri dan dua anak yang masih remaja. "Setelah upacara palebon, prosesi selanjutnya adalah maligia, sekaligus potong gigi untuk dua anak almarhum, Gek Is dan Gung Lanang. Maligia digelar dua hari lagi," terang Ngakan Pramono.

Sementara itu, Kapolres Gianyar AKBP I Dewa Made Adnyana mengatakan sudah memonitor dan menginterogasi pihak-pihak terkait soal upacara palebon di Desa Adat Keliki yang timbulkan keramaian. "Itu kegiatan keagamaan yang pada prinsipnya bisa dilakukan. Cuma, pesertanya harus dikurangi. Insiden kemarin, berdasarkan hasil rapat koordinasi, sejatinya pelaksanaannya sudah sesuai protokol kesehatan," ujar AKBP Dewa Adnyana saat dihubungi terpisah, Selasa kemarin.

Protokol kesehatan dimaksud, kata dia, pengarakan bade dilakukan secara estafet dengan jumlah dibatasi maksimal 50 orang dalam jarak tertentu. "Tapi, terjadi musibah, saat bade roboh itulah menarik warga untuk mendekat. Akhirnya terjadi kerumunan dan ada proses evakuasi. Seandainya tidak patah, panitia sudah mengatur 50 orang satu kali estafet pengarakan bade," katanya.

Menurut AKBP Dewa Adnyana, seharusnya penyunggi bade yang dapat giliran  estafet pertama, langsung pulang setelah menjalankan tugasnya. Tapi, yang terjadi justru semakin berkerumun karena melihat musibah. "Orang yang seharusnya pulang akhirnya balik lagi, padahal sudah diatur sedemikian rupa. Prihatin juga dengan almarhum dan keluarganya," tandas AKBP Dewa Adnyana.

Dihubungi terpisah, Bendesa Adat Keliki Kangin, I Made Suadiasa, me-ngatakan sesuai hasil paruman prajuru, Minggu malam, telah disepakati akan ada upacara pecaruan di rumah yang tertimpa bade roboh. Namun, kapan dan bagaimana bentuk upacara pecaruannya, masih ditanyakan kepada Ida Pedanda.

Upacara pecaruan tersebut nantinya akan dilangsungkan di rumah yang tertimpa bade roboh. Prosesi dan biayanya ditanggung pihak keluarga Puri Pengobatan yang punya upavara palebon. Nantinya, prajuru Desa Adat Keliki Kangin, beserta empat kelian banjar, bendesa, dan Perbekel hadir sebagai upasaksi. *nvi

loading...

Komentar