nusabali

Gamelan, Pradakshina dan Nasi Yasa, Akulturasi Tri Suci Waisak di Bali

  • www.nusabali.com-gamelan-pradakshina-dan-nasi-yasa-akulturasi-tri-suci-waisak-di-bali

SINGARAJA, (ANTARA); - Alunan merdu gamelan Bali mengiringi perjalanan menuju altar. Umat beramai-ramai mencari tempat duduk nyaman yang telah disediakan. Turis mancanegara pun memenuhi tempat duduk sekitaran altar.

Perpaduan budaya dan spiritualitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi umat yang merayakan Hari Tri Suci Waisak di Pulau Dewata, khususnya di Brahmavihara Arama yang berlokasi di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

Alunan gamelan dipercaya mampu membangkitkan suasana meditatif dan kontemplasi, membantu umat Buddha untuk mencapai ketenangan dan fokus dalam beribadah. Gamelan melambangkan harmoni dan keseimbangan alam semesta, serta kesatuan antara jagat spiritual dan duniawi. Jenis gamelan yang digunakan dalam perayaan Waisak di Bali biasanya adalah gamelan selonding atau gamelan gong kebyar.

Gamelan selonding memiliki suara yang lebih lembut dan meditatif, sedangkan gamelan gong kebyar memiliki suara yang lebih meriah dan energik. Biasanya, panitia perayaan Tri Suci Waisak mengundang gamelan-gamelan dari luar desa untuk tampil di vihara.

Selain memiliki makna kuat dalam penggunaan gamelan, “desa, kala, dan patra” atau “tempat, waktu, dan keadaan” juga memengaruhi bagaimana gamelan bisa menjadi iringan musik dalam perayaan Tri Suci Waisak.

“Kami melaksanakan perayaan Waisak mengikuti desa, kala, patra yang ada. artinya kami menggunakan adat Bali dalam perayaannya” kata pemuka agama Buddha, Pandita Madya, Romo Ketut Rendah.

Penggunaan gamelan Bali dalam Waisak menunjukkan akulturasi budaya yang indah antara Buddha dan budaya lokal Bali. Gamelan tak hanya menjadi alat musik, namun juga simbol kearifan lokal yang dipadukan dengan nilai-nilai spiritualitas Buddha. Gamelan juga dimainkan untuk mengiringi prosesi pradaksina, yaitu mengelilingi stupa Buddha sambil memanjatkan doa.

Brahmavihara Arama, merupakan vihara tertua di Bali yang dibangun oleh paman Ratu Aji Rahula, Ida Ketut Jelantik, pada masa setelah kemerdekaan Indonesia dan menjadi simbol dari cikal bakal toleransi dan pluralisme di Pulau Bali.

Ida Ketut Jelantik merupakan sastrawan yang pernah bertugas di Kementerian Agama, menyukai meditasi, dan membentuk kelompok kebatinan di desanya. Pada tahun 1956, Ida Ketut Jelantik diundang ke Kota Semarang untuk menghadiri acara Buddha Jayanti yang merupakan acara kebatinan dan spiritual. Namun karena berhalangan hadir, ia diwakili oleh Ida Bagus Giri yang merupakan Ayahanda dari Ratu Aji Rahula, pengelola dari Brahmavihara Arama saat ini.

Pada awalnya, hanya tersedia 30 are luas lahan untuk membangun vihara di Banjar. Namun vihara terus berkembang hingga tahun 1971, vihara diresmikan dan memiliki luas sekitar 9 hektare, yang terdiri atas pagoda, darma sala, kuti, aula meditasi, lonceng, dan bangunan penduduk lain.

Seiring berkembangnya waktu dan sesuai warisan leluhur, Ratu Aji Rahula menjelaskan bahwa vihara ini bukan hanya menjadi tempat persembahyangan umat Buddha. Sebab pendirinya memberikan kebebasan kepada siapa pun yang ingin mencari kedamaian, ketenangan, dan mendapat pencerahan batin dapat menggunakan fasilitas yang ada di vihara. Jadi, tidak heran jikalau vihara ini selain menjadi tempat persembahyangan juga menjadi tempat wisata religi yang asik untuk dikunjungi.


Komentar