nusabali

Dari Peri Kehidupan Hingga Perayaan Kematian

Pameran Wayan Sadu di Santrian Art Gallery, Sanur

  • www.nusabali.com-dari-peri-kehidupan-hingga-perayaan-kematian
  • www.nusabali.com-dari-peri-kehidupan-hingga-perayaan-kematian

Ada dua lukisan yang dipamerkan Sadu bertemakan kematian. Berpulang dengan Damai dan Dititip ke Ibu Pertiwi. Dia seolah-seolah mengingatkan bahwa kematian pasti akan datang.

DENPASAR, NusaBali 
Tumbuh dalam lingkungan pedesaan dengan kehidupan agraris dan bersentuhan langsung dengan gelombang seni lukis young artist membawa Wayan Sadu,48, pada pilihan berkesenian yang khas. Potret diri perupa kelahiran Banjar Kutuh Kelod Petulu, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, ini tergambar dalam 18 buah karyanya yang dipamerkan di Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar, 22 Maret - 30 Mei 2024. 

Sadu menggelar karya seni lukis dengan berbagai ukuran yang dikreasikan dalam bentang waktu, tahun 2018 – 2024, dengan media cat minyak dan akrilik. Dia dengan ekspresif menggambarkan pengalaman hidupnya ke dalam beberapa goresan di atas kanvas.

Seiring nafas karyanya, Sadu sosok yang unik. Tutur bahasanya sederhana namun karya-karyanya penuh dengan kejutan dan bahkan cukup banal. Pameran tunggal kali kedua ini mengangkat tema ‘Perjalanan’ (The Journey). Sebelumnya tahun 2007, dia telah pameran tunggal di Santrian Gallery Sanur memamerkan karya-karyanya yang sangat istimewa. 

Dalam karya-karyanya selalu tersisip konten muatan tematik. Dia tidak membiarkan eksplorasinya hanya berhenti pada capaian artistik. Tema-tema karyanya tidak jauh dari kehidupan dunia kesehariannya, mulai dari kebiasaan sehari-hari, kehidupan berkeluarga, binatang, hubungan masyarakat, hingga kematian. 

Ada dua lukisan yang dipamerkan Sadu bertemakan kematian. Berpulang dengan Damai dan Dititip ke Ibu Pertiwi. Dia seolah-seolah mengingatkan bahwa kematian pasti akan datang. “Saya sebagai warga masyarakat sering sekali berhadapan dengan situasi seperti itu, orang meninggal, ada ikatan sosial keluarga, kuburan, sanak saudara yang meninggal. Peristiwa itu sering sekali jadi mengendap dalam pikiran saya,” ujarnya sembari mengatakan lukisan Berpulang dengan Damai menggunakan baham campuran cat dan tanah yang dibakar. 


Lahir di Desa Sayan sebelah barat Ubud bertetangga dengan Penestanan, Sadu menyaksikan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Perubahan dari kehidupan masyarakat yang homogen agraris, perlahan menjadi semakin heterogeny. Awalnya mereka hanya berinteraksi antarmasyarakat di desa dan desa tetangga, tetapi kemudian mulai berinteraksi dengan orang luar negeri. 

Lukisan Melempar Buah Mangga seakan mengungkap kerinduannya terhadap masa kecil di sebuah pedesaan yang kini telah berubah jauh. Dia menyaksikan desanya yang dulunya sangat bersahaja dengan kehidupan agraris, kemudian menjelma menjadi desa global dalam balutan pariwisata budaya.

Bagi Sadu karya-karyanya juga sebagai wahana bagi penjelajahan pikiran dan perasaannya, diekspresikan dengan komposisi warna-warna yang kontras. Seperti hijau bertemu jingga dan ditimpa dengan hitam. Emosi tercurah dalam goresan rol-rol warna cat minyak yang menyisakan jejak riak-riak tekstur, serasa terdengar gemericik suara rol ketika digerakkan dengan spontan dan kuat. 

Ketika menggoreskan beberapa warna, di dalam imajinasinya telah muncul diorama bentuk, tetapi tidak buru-buru langsung diwujudkan dengan goresan bentuk. Dia membiarkan imajinya kembali bergelayut dalam gerakan-gerakan kinestetik, menimpa lapisan demi lapisan warna cat minyak mulai bercampur membentuk komposisi dari yang berwarna gelap atau lebih muda. Hingga tiba di titik di mana lapisan-lapisan warna telah dirasa cukup kuat mewakili keseluruhan komposisi, baru kemudian ia akan menegaskan sosok bentuk-bentuk yang telah terbayang sesuai tema yang ingin dihadirkan. 

Meski demikian dia menyerahkan sepenuhnya kepada penikmat seni memaknai goresan-goresan yang telah ditorehkannya tersebut. “Melihat karya itu perlu ada imajinasi, berpikir. Bukan hanya menerima lewat mata,” sebutnya. 


Kurator Wayan Seriyoga Parta mengatakan, sejak awal karya-karya Sadu telah menunjukkan kecenderungan kuat dalam mengolah komposisi. Perkembangan karya-karyanya selanjutnya semakin menunjukkan keberaniannya dalam bermainan komposisi yang asimetris serta pilihan warna yang monokromatik. 

Sadu begitu piawai memainkan kontras antara komposisi goresan-goresan warna yang berada dalam bentuk atau figur dengan warna latar belakang putih merata (flat), tanpa mempertegas bentuk dengan kontur garis (outline). 

Aspek yang cukup dominan pada setiap karya adalah kehadiran warna hitam, hadir sebagai blok-blok warna menjadi noktah yang memainkan peran komposisi, atau sebagai kontur garis-garis dinamis yang penuh spontanitas. 

Posisi garis menjadi vital dalam menghadirkan objek dan figur, terlihat intensitas yang berbeda dibandingkan dengan karya-karyanya sebelumnya yang tidak mengandalkan kontur garis hitam. Sadu menempatkan overlapping (tumpang tindih) antara komposisi warna dan tekstur dengan karakteristik bentuk keduanya sama-sama memainkan peran sentral sebagai medium untuk mengungkapkan narasi.

“Hal itu menandakan pendekatan artistiknya memang berada dalam radius tradisi seni lukis (painting). Pengalamannya melawat ke Eropa dan Jepang kemungkinan besar memberikan inspirasi visual yang memberikan pengayaan penguatan pada capaian estetik dalam karya-karyanya,” ujar Seriyoga.7a 

Komentar