nusabali

Ni Putu Eka Erniata, Upcycler Bali yang Berkontribusi untuk Fashion Sustainable

  • www.nusabali.com-ni-putu-eka-erniata-upcycler-bali-yang-berkontribusi-untuk-fashion-sustainable

MANGUPURA, NusaBali.com - Ni Putu Eka Erniata adalah sosok inspiratif yang layak diapresiasi. Usahanya untuk memanfaatkan limbah tekstil menjadi produk fashion yang bernilai merupakan langkah yang tepat untuk mendukung fashion sustainable.

Perempuan asal Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Badung, ini berhasil merintis usaha ecoprint yang memanfaatkan limbah tekstil. Usaha yang diberi nama Ni Luh Jegeg ini sudah berjalan selama beberapa bulan terakhir dan mendapat respons positif dari masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara.

Eka mengatakan, ide untuk merintis usaha ecoprint ini muncul karena keprihatinannya terhadap keberadaan limbah tekstil yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dia melihat bahwa fast fashion menjadi salah satu faktor pemicu tingginya penimbunan limbah tekstil.

“Saya melihat banyak sekali limbah tekstil yang dibuang begitu saja. Padahal, masih bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Eka saat ditemui di rumah produksinya, Jalan Sangiang I No. 45, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi,

Untuk mewujudkan idenya tersebut, Eka memilih teknik ecoprint dalam proses upcycling. Teknik ecoprint menggunakan pewarna alami dari daun-daun, seperti daun secang, tabebuya, pepaya jepang, dan daun jati. “Tergantung pemilihan daun. Ada daun yang tidak mengeluarkan warna, tidak semuanya,” jelas Eka.

Menurut Eka, teknik ecoprint memiliki beberapa keunggulan dibandingkan teknik upcycling lainnya. Pertama, teknik ecoprint lebih ramah lingkungan karena menggunakan pewarna alami. Kedua, teknik ecoprint menghasilkan motif yang unik dan menarik.

“Motif yang dihasilkan dari ecoprint tidak akan pernah sama persis, karena tergantung pada jenis daun yang digunakan dan proses pembuatannya,” kata Eka.

Untuk mencapai hasil yang diinginkan, pakaian upcycle harus terlebih dahulu melalui proses treatment, dengan direbus pada suhu tertentu. “Ada campuran garam, soda kue, dan beberapa bahan lain di dalamnya,” kata Eka.

Proses ini disebut dengan teknik mordan (perebusan). Teknik ini bertujuan untuk merenggangkan atau membuka pori-pori pada serat pakaian, sehingga lebih mudah menyerap warna daun pada proses printing, nantinya. 

Eka mengakui, proses pengaplikasian konsep ecoprint ini bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Dua faktor yang sangat mempengaruhi kualitas sebuah  produk ecoprint adalah pada penentuan jenis daun yang sesuai dan proses mordan) pada tingkatan yang tepat.

Walaupun, usaha ini baru dirintis, Eka menyebut sudah ada yang mulai membeli produk ecoprint miliknya, termasuk para wisatawan mancanegara. 

Selain enak dipandang dari segi tampilannya, perawatan produk ecoprint ternyata lebih ramah lingkungan dibanding produk fashion pada umumnya. “Untuk cucinya, sedikit detergen saja udah cukup,” terang Eka.



Produk ecoprint yang dijual di Ni Luh Jegeg terdiri dari beragam model, mulai dari celana pendek/panjang, rok, baju, hingga daster. Harga yang dibanderol untuk setiap produk ecoprint bervariasi, berkisar di antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu.

Eka berharap, usahanya ini dapat turut berkontribusi untuk perkembangan fashion sustainable di Bali. Dia juga berharap, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih produk fashion, sehingga dapat mengurangi jumlah limbah tekstil.

Berdasarkan data yang diperoleh dari fibre2fashion, pada tahun 2020 saja sebanyak 18,6 juta ton limbah tekstil telah terbuang ke laut. 

Salah satu faktor pemicu dari tingginya penimbunan limbah tekstil ini adalah kecenderungan masyarakat yang gemar menggunakan produk fast fashion. Tercatat, sekitar 60 persen  penduduk dunia akan membuang pakaian yang telah digunakan dalam kurun waktu setahun saja. 

Jika hal ini terus berlanjut, akan sangat mungkin jumlah penimbunan limbah tekstil bisa jauh lebih besar dibandingkan sampah plastik. Tentu, hal ini tidak diinginkan oleh siapapun juga. *ol4



Komentar