nusabali

Pasar Eropa dan Amerika Lesu

Pelaku eksportir bisnis handicraft Bali mengaku waswas

  • www.nusabali.com-pasar-eropa-dan-amerika-lesu

DENPASAR, NusaBali - Kondisi perekonomian negara-negara Eropa dan Amerika yang sedang sulit membuat waswas pelaku eksportir kerajinan Bali. Sebab negara- negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat  merupakan pasar ekspor perajin Bali.

Pelaku bisnis handycraft Bali mengaku gerakan ekspor lesu, walaupun di satu sisi diakui pariwisata Bali dirasakan mulai pulih.

“Namun itu tidak berpengaruh terhadap pemasaraan handicraft,” ujar Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi)Bali, I Ketut Darma Siadja, Senin(3/7).

Disampaikan Darma Siadja, selama ini negara- negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat merupakan pasar dominan produk kerajinan Bali. Produk-produk kerajinan Bali, mulai dari kerajinan kayu, perak, sampai garmen banyak diserap pasar Amerika Serikat dan Eropa.

Namun belakangan, akibat pandemi dan berlanjut dengan konflik Rusia-Ukraina, dampak semakin terasa.

“Banyak perusahaan-perusahaan yang merupakan mitra kita (perajin dan produsen kerajinan) yang bangkrut,” ungkap Darma Siadja, tokoh kerajinan asal Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar.

Sebelumnya perusahaan atau mitra-mitra di negara- negara Eropa dan Amerika Serikat, mengorder produk-produk kerajinan Bali.

“Tetapi kini agaknya sulit,” ungkapnya.

Apalagi, produk kerajinan bukan merupakan kebutuhan utama, melainkan kebutuhan ketiga atau tertier. Sehingga ketika ekonomi sulit, kebutuhan ketiga itu tentu bisa diabaikan.

“Bukan skala prioritas, tidak mendesak,”ungkapnya.

Dikatakan Darma Siadja, perajin sangat merasakan dampak drop-nya pemasaran kerajinan di luar negeri itu. Apalagi, lanjut Darma Siadja, ada rencana Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga.

“Informasinya baru rencana, namun sudah menambah rasa waswas lagi,”ujarnya.

Ekspor, kata Darma Siadja, dia yakin masih jalan. Hanya saja volumenya dia yakini tidak banyak. “Saya cenderung  katakan stagnan-lah,” kata Darma Siadja.

Untungnya dalam kondisi sulit ekspor tersebut, pasar di dalam negeri dirasa membantu.

“Kita ikut INACRAFT(The International Handicraft Trade Fair),” ungkap.

Inacraft digelar pada Maret lalu. Terus bulan Oktober nanti menyusul. “Itu cukup membantu promosi dan pemasaran,” ujar Darma Siadja.

Sementara produk yang cukup laku adalah kerajinan perak dan garmen. Produk kerajinan kayu juga laku, namun perak dan garmen yang lebih ramai.

Untuk diketahui berdasarkan data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali, ada 17 item jenis produk kerajinan di Bali. Mulai dari kerajinan alat musik, anyam-anyaman, bambu, batu padas, funiture, kerajinan kayu, keramik.

Kemudian kerajinan kerang, kerajinan kulit,kerajinan lain-lain, kerajinan lilin, logam,lukisan, kerajinan perak,rotan, terracota hinggga kerajinan tulang. Sebagai gambaran realisasi ekspor kerajinan Bali pada 2022 lalu,sebesar 117,9 juta dollar(1,76 triliun). k17

Komentar