nusabali

Kemajuan Pariwisata Jangan Cabut Akar Budaya

Praktisi Pariwisata: Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru Sangat Dibutuhkan

  • www.nusabali.com-kemajuan-pariwisata-jangan-cabut-akar-budaya

DENPASAR, NusaBali - Pidato Gubernur Bali Wayan Koster dalam seminar Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru, di Hotel The Trans Kuta, Badung, Jumat (5/5) siang, mendapatkan apresiasi berbagai kalangan.

Praktisi budaya dan DPRD Bali melihat Bali harus dijaga adat dan budayanya di tengah kemajuan pariwisata yang dianggap sebagai rezeki berlimpah oleh masyarakat Pulau Dewata.

"Kemajuan pariwisata Bali yang membuat Pulau Dewata mendunia menjadi berkah. Namun kemajuan pariwisata harus dikelola dengan baik supaya Bali tidak tercabut dari akar budaya, karena budaya Bali selama ini menjadi daya tarik pariwisata. Kalau adat dan budaya kita punah, ya Bali pasti ditinggal, karena tidak punya taksu lagi. Di sinilah Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru sangat dibutuhkan," ujar Ketua Yayasan Seni dan Budaya Yasa Putra Sedana, Gianyar, Dewa Ngakan Rai Budiasa, di Denpasar, Sabtu (6/5).

Mantan Anggota DPRD DKI Jakarta ini menegaskan, platform pembangunan yang hanya fokus pada pariwisata tanpa disadari bisa menghancurkan Bali sendiri. “Tanpa kita sadari, sangat berpotensi meluluhlantakkan adat dan budaya Bali, akibat kemajuan pariwisata yang tidak dikelola. Taksu Bali yang adi luhung bisa lenyap begitu saja, tergerus dia dan bisa punah, jangan sampai nyesel nanti," ujar mantan Ketua OKK DPD I Golkar Bali asal Desa Melinggih Kelod, Payangan, Gianyar ini.

Kata Rai Budiasa, saat ini Bali beruntung telah memiliki Undang-undang Provinsi Bali. Sehingga menjadi kesempatan untuk menata kembali kehidupan adat dan budayanya. “Undang-undang Provinsi Bali harus ditindaklanjuti dengan peraturan daerah yang bertujuan melindungi adat dan budaya Bali. Perda harus dibuat dengan mengedepankan bahwa kemajuan pariwisata harus berjalan beriringan dengan kelestarian adat dan budaya. Bukan sebaliknya, pariwisata menghancurkan adat dan budaya,” ucap mantan Ketua Organisasi dan Kaderisasi DPD I Golkar Bali ini.

"Kita harapkan hasil seminar ini, nanti bisa dijadikan acuan dalam penyusunan regulasi turunan sebagai kelanjutan UU Provinsi Bali. Sebagai seniman, pengelola seni Yayasan Yasa Putra Sedana saya sangat mengapresiasi usaha-usaha ini, dan perlu segera disosialisasikan oleh Pemprov Bali ke akar rumput,” imbuh mantan staf Kedutaan Besar di Jerman (dulu Jerman Barat, Red).

Mantan Wakil ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata) DKI Jakarta ini mengatakan, kondisi terkini dari pariwisata Bali kualitasnya terancam, dengan fenomena wisatawan-wisatawan nakal yang berulah. “Ke depan ada regulasi yang membuat Bali naik kelas menjadi destinasi kelas dunia dengan kualitas internasional. Tidak lagi kelas wisatawannya ecek-ecek,” tandas Rai Budiasa.

Sementara Ketua Komisi III DPRD Bali yang membidangi pembangunan, tata ruang, energi, dan lingkungan, Anak Agung Ngurah Adhi Ardhana, mengatakan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru merupakan upaya dan harapan memotret Bali hingga 2125.

“Apa yang didorong Presiden ke-5 RI Ibu Megawati saat pidato di seminar itu, adalah suatu bentuk harapan dalam menjaga Bali agar tidak terus terbawa arus perubahan yang tanpa arah dan berujung pada Bali yang mungkin bukan Bali lagi,” kata politisi PDI Perjuangan asal Puri Gerenceng, Denpasar yang juga praktisi pariwisata ini.

Adhi Ardhana menegaskan, Gubernur Bali Wayan Koster sebagai pemimpin Bali yang masih menjabat, berupaya mengejawantahkan harapan tersebut dalam suatu tulisan ataupun rancangan Bali dengan melihat romantisme Bali masa lalu, melihat dinamika Bali masa kini, dan apa yang mungkin terjadi dengan dialektika ke depan.

“Suatu hal yang sangat mulia, yang memang diperlukan saat ini di mana Bali dari masa ke masa, selalu memiliki tantangan perubahan yang tidak selalu menguntungkan, bahkan kadang berbahaya bagi kehidupan manusia Bali,” tegas alumni ITS Surabaya ini.

Kata dia, potret kehidupan masyarakat, alam, adat, dan budaya Bali yang  dibayangkan atau direncanakan 100 tahun ke depan harus dirancang titik milestone (tonggak pencapaian) yang akan menjadi penanda perubahan.
  
"Tentunya yang sesuai dengan harapan, dan yang terpenting dari semua potret Bali 100 tahun ke depan adalah bagaimana si pelaksana yakni manusia Bali ini, selalu menjadi tuan rumah di Bali, untuk tetap dapat menjalankan Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali era Baru,” tandas Adhi Ardhana. 7 nat

Komentar