nusabali

BMKG dan Pemprov Bali luncurkan Layanan Iklim Terapan DBDKlim

  • www.nusabali.com-bmkg-dan-pemprov-bali-luncurkan-layanan-iklim-terapan-dbdklim

Denpasar, NusaBali.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali secara resmi meluncurkan sebuah layanan informasi iklim terapan atau yang dikenal dengan nama DBDKlim untuk wilayah Bali.

Layanan informasi terapan ini merupakan sebuah program nasional lintas instansi yang bertujuan untuk menanggulangi permasalahan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). 

Peluncuran layanan itu diresmikan langsung oleh Sekda Provinsi Bali, Dewa Made Indra, bertempat di Ruang Theater DR. AA Made Djelantik, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman Denpasar, Selasa (30/4/2024).

DBDKlim merupakan sebuah layanan aplikasi berbasis web, yang dikembangkan dari hasil kerjasama BMKG dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2017, dan pertama kali diterapkan di Jakarta pada tahun 2019. Layanan tersebut memungkinkan masyarakat dapat mengetahui prediksi angka insiden DBD melalui parameter iklim yang disajikan pada aplikasi itu.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, dalam sambutannya, menjelaskan, peluncuran DBDKlim ini adalah bagian dari solusi yang diambil oleh BMKG untuk membantu penanggulan bencana atau penyakit akibat perubahan iklim. 

Menurutnya, berbagai macam akibat yang bisa ditimbulkan dari perubahan iklim tidak hanya terbatas pada bencana alam saja. Perubahan Iklim juga berdampak luas pada masalah sanitasi dan kesehatan masyarakat, salah satunya yakni masalah DBD. Atas dasar itu, BMKG ingin terlibat dalam penanggulangan penyakit DBD ini dengan cara meluncurkan sebuah layanan iklim terapan yang diberi nama DBDKlim.

“Hingga saat ini BMKG Kedeputian Klimatologi setidaknya sudah meluncurkan 14 layanan iklim terapan sebagai langkah antisipasi terhadap bencana atau penyakit yang ditimbulkan dari adanya perubahan iklim,” kata Ardhasena Sopaheluwakan.

Dengan melihat bahwa DBD merupakan salah satu penyakit dari kategori itu, maka BMKG berkepentingan untuk menyikapi hal ini dengan meluncurkan layanan DBDKlim. 

Di dalam layanan DBDKlim akan dipaparkan dua jenis peta yakni pertama, peta iklim yang berisi prediksi angka rata-rata kelembaban tanah di seluruh wilayah Bali. Peta iklim ini akan disertai juga dengan tingkat keyakinan yang dibagi dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. 

Selain itu, tersedia juga jenis kedua yakni peta prediksi angka DBD skala bulanan. Model ini berisikan prediksi angka DBD untuk tiga bulan ke depan dengan pembagian tiga kategori yakni Awas (A), Waspada (Wa), Aman (A).

“Perubahan iklim salah satunya berpengaruh terhadap perkembangan vektor pembawa penyakit seperti nyamuk DBD.  Kondisi iklim yang hangat dan lembab menjadi kondisi lingkungan yang kondusif yang menjadikan nyamuk mudah berkembang biak,” tandas Ardhasena Sopaheluwakan.

Dengan terobosan yang sudah dibuat ini, diharapkan masyarakat dapat dipermudah dalam mengakses dan menganalisa segala potensi merebaknya penyakit DPD akibat perubahan iklim. 

Karena, Informasi yang dipaparkan dalam layanan tersebut akan sangat membantu masyarakat Bali maupun para pemangku kepentingan dalam mengambil langkah-langkah sedini mungkin untuk mengantisipasi dan menanggulangi penyakit DBD agar tidak meningkat. 

Sementara itu, Pemerintah Daerah Provinsi Bali yang diwakili Plt. Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, menyambut baik hasil kerjasama antara BMKG dan Pemerintah Daerah dalam peluncuran layanan DBDKim. 

Layanan DBDKlim dinilai mampu memberikan bantuan kepada masyarakat dan Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi untuk mengambil langkah-langkah mitigasi terhadap penyakit DBD. 

Ia menyebut, penyakit DBD merupakan problem yang belum bisa terselesaikan hingga saat ini, bahkan untuk wilayah Bali sendiri terjadi peningkatan yang cukup tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. 

Pada tahun 2023 saja, jumlah kasus DBD di Provinsi Bali sudah menyentuh di angka 7.099 kasus dengan 19 kasus diantaranya telah mengakibatkan kematian. Dari jumlah itu, Kota Denpasar masih menempati posisi pertama sebagai penyumbang kasus DBD terbanyak dengan 1.399 kasus, diikuti Kabupaten Gianyar sebanyak 1.142 kasus, dan Kabupaten Badung sebanyak 1.137 kasus. 

Sedangkan untuk kasus kematian tertinggi akibat penyakit DBD masih ditempati 3 wilayah yakni Tabanan, Gianyar, dan Denpasar dengan total masing-masing 4 kasus. Kemudian disusul Klungkung sebanyak 3 kasus, sementara wilayah Badung dan Gianyar tercatat masing-masing 2 kasus.

“Wilayah dengan IR (Insidanse Rate) tertinggi yaitu Kabupaten Klungkung, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Badung,” kata Raka Susanti.

Acara peluncuran layanan DBDKlim untuk wilayah Bali selanjutnya digelar dengan sebuah kegiatan Seminar Nasional bertajuk Pemanfaatan Informasi Iklim BMKG Untuk Antisipasi Kejadian DBD. 

Kegiatan Seminar dibagi dalam dua panel yakni panel pertama membahas arah kebijakan (Pemerintah) dengan 3 pembicara yakni Direktur Lingkungan Hidup Bapenas, Koordinator Substansi Arbovirosis Kemenkes RI, dan Plt. Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG. 

Sementara pada panel kedua, berisikan pembahasan mengenai pemanfaatan Informasi Iklim dalam sektor kesehatan. Para pembicara pada panel kedua ini antara lain Plt. Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi Bali, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, dan Dosen Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung.


Komentar