nusabali

Terpaksa Jadi Pengangkut Sampah Pasca Sang Ayah Tewas di Sumur

  • www.nusabali.com-terpaksa-jadi-pengangkut-sampah-pasca-sang-ayah-tewas-di-sumur

Punya 25 pelanggan, bocah Komang Sekar Surya Dewi dapat penghasilan Rp 500.000 per bulan lewat jasa angkut sampah dari rumah-rumah warga. Terkadang, ada warga yang bersimpati dengan memberinya pakaian, sepatu, dan buku

Balada Ni Komang Sekar Surya Dewi, Siswi Kelas IV SD dari Kelurahan Banyuning, Buleleng


SINGARAJA, NusaBali
Inilah salah satu potret kemiskinan di Kabupaten Buleleng. Seorang bocah perempuan yang masih duduk di Kelas IV SD, tiap sore harus mendorong gerobak sampah, demi membantu tambahan nafkah keluarganya. Dia adalah Ni Komang Sekar Surya Dewi, 10, bocah perempuan yang tinggal di Jalan Pulau Komodo Singaraja wilayah Lingkungan Banyuning Tengah, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng.

Ni Komang Sekar Surya Dewi yang masih tercatat sebagai siswi Kelas IV SDN 5 Banyuning, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara keluarga pasangan I Komang Widiadnyana dan Ni Wayan Sari, 35. Dia kini menjadi anak yatim karena ayahnya, Komang Widiadnyana, telah meninggal tahun 2014 silam.

Kesehariannya, bocah Komang Sekar tinggal di rumah semi permanen kawasan Lingkungan Banyuning Tengah, Kelurahan Banyuning, bersama sang ibu, Wayan Sari, serta kakak sulungnya, I Gede Darmnayasa, 18, dan si bungsu Ni Ketut Putri Candra, 5 (yang masih duduk di bangku sekolah TK). Sedangkan kakaknya nomor dua, I Kadek Ramawan, 15, yang siswa Kelas III SMP, diajak dan disekolahkan pamannya di Jawa Timur.

Ditemui NusaBali di rumahnya, Senin (5/12), Komang Sekar menceritakan kisah kehidupan keluarganya yang susah. Bocah SD berusia 10 tahun ini pun rela jadi tukang dorong gerobak sampah setiap sore, dengan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah.

Menurut Komang Sekar, pekerjaan berat menarik gerobak penuh sampah telah dilakoninya sejak setahun lalu. Semua berawal ketika ayahnya, Komang Widiadnyana, selaku kepala keluarga meninggal secara tragis tahun 2014 silam. Kala itu, Widiadnyana tewas saat memperbaiki sumur untuk pengairan di belakang rumahnya. Kondisi ini kemudian memaksa Komang Sekar untuk berjuang melanjutkan hidup bersama ibu, kakak, dan adiknya.

Komang Sekar mengisahkan, pekerjaan sebagai tukang angkut sampah awalnya dilakoni sang ayah, almarhum Widiadnyana. Sejak ayahnya tewas di sumur, pekerjaan sebagai tukang angkut sampah digantikan oleh Gede Darmayasa, kakak sulung Komang Sekar yang kini duduk di Kelas XII SMKN 3 Singaraja.

Bocah Komang Sekar selalu ikut kakaknya, Darmayasa, mengangkut sampah dengan gerobak dorong dari sejumlah rumah di Gang Mangga dan Bali Graha kawasan Kelurahan Banyuning. Sampai suatu ketika di tahun 2015 lalu, kakaknya yakni Darmayasa berhalangan dan tidak bisa mengangkut sampah, karena ada kegiatan sekolah. Maka, bocah Komang Sekar yang kala itu baru berusia 9 tahun pun memberanikan diri untuk menarik gerobak sampah sendirian.

Sejak itu, bocah Komang Sekar rutin menarik gerobak sampah sabam sore, sepulang sekolah. “Saya belajar sendiri mendorong gerobak sampah, karena sudah tahu jalannya dan rumah-rumah pelanggan,” kenang Komang Sekar. “Pekerjaan itu saya jalani sampai sekarang, tanpa rasa malu,” imbuhnya.

Menurut Komang Sekar, dirinya tidak pernah ragu untuk mengerjakan pekerjaan yang cukup berat ukuran gadis cilik berusia 10 tahun. Kendati Jalan Pulau Komodo Singaraja merupakan jalur padat lalulintas, dia tetap tegar mendorong gerobak sampah tanpa takut risiko ditabrak mobil. “Yang terlintas di pikiran saya hanya untuk membantu orangtua,” katanya.

Bocah Komang Sekar biasanya memulai pekerjaan mendorong gerobak sampah sore hari pukul 16.00 Wita. Selesai mengumpulkan dan mengangkut sampah dari rumah ke rumah, dia kemudian membawa kembali sampah-sampah dalam gerobak tersebut ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terdekat yang berjarak sekitar 1 kilometer.

Terkadang, saat sampah yang diangkutnya banyak, tangan kurus Komang Sekar tidak sanggup untuk menarik gerobaknya. Tidak jarang dia sampai membalik badan agar tenaganya lebih besar. Bebannya akan lebih ringan apabila kakaknya, Darmayasa, bisa menemaninya untuk mengangkut sampah.

Dengan kepolosan dan sikap tekunnya, tak jarang bocah Komang Sekar mengundang belas kasihan dari pelanggan, hingga diberi pakaian, sepatu, buku, dan kebutuhan sehari-hari. Saat ini, bocah Komang Sekar memiliki langganan sekitar 25 KK (rumah). Mereka memberinya jasa pengangkutan sampah masing-masing sebesar Rp 20.000 per bulan. Walhasil, bocah Komang Sekar punya penghasilan sekitar 25 x Rp 20.000 = Rp 500.000 per bulan.

Uang upah angkut sampah itu digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Maklum, ibundanya, Wayan Sari, hanyalah buruh tani serabutan yang penghasilannya tidak menentu dan hanya mendapatkan pekerjaan jika musim padi tiba. Kalau tidak ada pekerjaan yang menghampiri, ibu empat anak berusia 35 tahun ini hanya mengandalkan berjualan canang dengan penghasilan tidak lebih dari Rp 30.000 per hari.

Bocah Komang Sekar menyebutkan, keputusan untuk membantu orangtua mencari nafkah sudah bulat. Dia tidak merasa malu sedikit pun ketika menarik gerobak sampah. “Terkadang saya menerima ejekan dari teman-teman sekolah, karena pekerjaan megangkut sampah dianggap pekerjaan yang kotor dan rendahan. Tapi, saya tidak peduli, yang penting saya bisa bantu orangtua,” tuturnya. * k23

Komentar