nusabali

Wakil Klungkung Juara Debat Mabasa Bali

  • www.nusabali.com-wakil-klungkung-juara-debat-mabasa-bali

DENPASAR, NusaBali
Wimbakara Debat Mabasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2021 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya (Art Center) Denpasar, Jumat (19/2) berlangsung seru.

Masing-masing kelompok, baik kelompok pro dan kontra tak hanya fasih berbahasa Bali, tetapi juga menguasai materi.

Debat Mabasa Bali ini diikuti oleh teruna teruni setingkat SMA/SMK perwakilan dari seluruh kabupaten dan kota di Bali, dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Kali ini Kabupaten Tabanan, Bangli, dan Karangasem tidak mengirimkan dutanya, sehingga wimbakara hanya diikuti 6 kelompok peserta. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang yang semuanya sebagai pembicara.

Dalam Wimbakara Debat Mabasa Bali itu ada 5 topik yang diperdebatkan, yaitu Gering Agung Covid-19, mawit saking pangekan manusa (buatan manusia), Nayaka Praja (pamerintah) sampun ngelimbakang wantuan ring sang sane yakti muatang, topik ketiga yaitu basa, aksara, miwah sastra Bali prasida nawengin (melindungi) para jana saking panglimbak Covid-19, pariwisata Bali tan sida mamargi salami panglimbak Covid-19, dan topik terakhir, baga pertanian pinaka jalaran nincapang guna kaya (perekonomian) Bali salami panglimbak Covid-19.

Tim dewan juri yang terdiri dari Drs I Dewa Gede Windhu Sancaya MHum (dosen Universitas Udayana), Drs I Gusti Lanang Subamia MM (praktisi Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali), dan Ida Bagus Oka Manobhawa SPd (Penyuluh Bahasa Bali) menetapkan Duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh tim SMA N 2 Semarapura sebagai juara I, Duta Kabupaten Badung yang diwakili SMAN 2 Abiansemal sebagai juara II, dan Duta Kabupaten Buleleng yang diwakili oleh SMA 1 Seririt sebagai juara III.

Windhu Sancaya mengatakan, keterlibatan anak-anak muda mengikuti lomba Debat Mabasa Bali ini patut dihargai. Lomba ini merupakan salah satu media untuk mengekspresikan kemampuan anak-anak muda berbahasa Bali. Media ini sangat penting, dan Pemerintah Provinsi Bali sudah memberikan ruang melalui Bulan Bahasa Bali ini.

“Saya kira ini sangat bagus, dan semoga tahun-tahun berikutnya lebih diperluas lagi. Kalau bisa, tak hanya dalam lomba saja melakukan aktivitas bahasa Bali, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang lebih luas,” katanya.

Dengan demikian, lanjutnya, akan bisa mengembangkan dan melestarikan bahasa Bali dengan sebaik-baiknya. Kalau medianya terbatas, maka bahasa Bali juga kurang mampu digunakan oleh masyarakat Bali secara baik. “Itu karena struktur berpikir kita lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu juga yang menyebabkan kita berbicara bahasa Bali, tetapi mengikuti struktur bahasa Indonesia, sehingga kelihatannya agak sogol,” tegas Windhu Sancaya.

Walau demikian, Windhu Sancaya menambahkan, penampilan anak-anak muda ini cukup membanggakan. Mereka sudah berusaha tampil dengan sebaik-baiknya dengan mengunakan bahasa Bali. Namun, karena kebiasaan-kebiasaan itu lebih banyak diwarnai dengan penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam pengajaran di sekolah, percakapan sehari-hari, sehingga pembiasaan bahasa Bali itu masih perlu ditingkatkan. “Untuk kepentingan lomba ini bisa dimaklumi, tetapi harapan kita mereka bisa menggunakan bahasa Bali secara fasih lagi,” tuturnya. *cr74

Komentar