nusabali

Gus De Banting Setir Jualan Martabak Mini

Tinggalkan Profesi Guide karena Pandemi

  • www.nusabali.com-gus-de-banting-setir-jualan-martabak-mini

DENPASAR,NusaBali
Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir membuat banyak orang harus bekerja keras agar bisa mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Salah satunya Ida Bagus Gede Cakranana,47.

Warga Perumahan Gria Alam Fajar, di Jalan Raya Kutri-Angantaka, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Badung itu kini memilih berjualan martabak mini keliling setelah profesi dirinya sebagai guide belum bisa diharapkan dalam kondisi seperti sekarang.

Bermodalkan sepeda motor dan gandengan gerobak sederhana, Gus De -demikiaan sapaan akrabnya, tiap hari  keliling menjajakan daganganya. Mulai dari lingkungan tempat tinggalnya, Desa Angantaka, Desa Sedang dan sekitarnya. Sampai ke Singapadu, Batuan, Sukawati.

“Awalnya tiyang (saya) sempat ogah medagang martabak ,” cerita suami Ida Ayu Ketut Adritini, asal Blahbatuh, Gianyar.

Ditemui Selasa (18/1) Gusde mengatakan awalnya tak membayangkan akan melakoni pekerjaan jualan martabak mini keliling. Sama seperti kebanyakan orang, Gus De tak menyangka pandemi Covid-19 akan berlangsung dalam waktu berkepanjangan.

“Saya pikir mungkin hanya sampai Juni (2020) sudah selesai,”  lanjutnya. Setelahnya  dia yakin  bisa kembali menekuni profesinya sebagai guide /pramuwisata. Karena memang Gusde adalah seorang guide yakni guide Bahasa Prancis.

Itu sebabnya, dia menolak saran adiknya; Ida Bagus Putu Suamba Manuaba untuk berjualan martabak keliling. “Ngapain.. karena pandemi tiyang pikir segera berakhir.?,” kenangnya.

Perkiraannya ternyata salah. Bulan Juni lewat bahkan sudah berganti tahun, namun kondisi di Tanah Air khususnya Bali belum juga menunjukkan tanda-tanda membaik. Sementara Gusde tidak ada penghasilan. Karena sejak pandemi Covid-19 bulan Februari, wisman- termasuk wisman Prancis sudah tidak ada lagi datang ke Bali. Praktis para pramuwisata termasuk Gusde terdampak. Mereka kehilangan pekerjaan.

Gusde pun mengaku  sempat stress. Apalagi ketiga anak sedang ‘nagih’ (butuh biaya), karena masih sekolah. Yang sulung kuliah di Undiksa, Singaraja, yang kedua sekolah di SMA dan yang bungsu baru TK. Belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari, yakni keperluan dapur dan kebutuhan rumah tangga lainnya yang harus ada. “Untuk beli beras dan tempe besok,” ucapnya.

Akhirnya Gusde pun banting setir, membuang jauh- jauh rasa gengsi. Mengikuti saran adiknya, jualan martabak mini keliling. “Sebelumnya tiyang juga membantu istri membuat canang,”ungkapnya.

Bermodal sebuah rombong gandeng sederhana, Gusde kini tiap hari keliling menjajakan martabak mini. Awalnya dia mengaku canggung. Saking canggungnya, Gusde mengaku tangannya gemetaran ketika menuangkan adonan martabak pada loyangnya. “Astungkara semua tetangga memberi semangat, mendukung,” tunjuknya.

Sebelum keliling Gusde dibantu istrinya Ida Ayu Ketut Adritini sudah melakukan persiapan sejak pagi hari. Mulai dari membeli bahan-bahan martabak, telor, kentang, selederi dan lainnya. Setelah komplit, sekitar pukul 11.00 wita mulai Gusde berjualan keliling. Makin cepat laku, makin dini dia pulang. Namun demikian, paling lambat pukul 21.00 wita Gusde sudah balik.

Rata-rata sehari Gusde omzetnya Rp 200 ribu. Dari jumlah tersebut Rp 50 ribu merupakan keuntungan. Keuntungan itulah, kata Gusde digunakan  untuk beli kebutuhan dapur.

Gusde mengaku akan tetap berjualan martabak keliling, meskipun aktivitas pariwisata dan guiding normal kembali. Hal itu sudah menjadi komitmenya, karena lewat berjualan martabak mini kondisi ekonomi keluarga tertolong dalam masa sulit seperti sekarang ini.

“ Di sela-sela guiding tiyang akan tetap jualan,” ujar pria asal Griya Taman Manuaba, Banjar Pasek, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. *K17

Komentar