nusabali

Mustahil Manggung di Masa New Normal

Sanggar Seni Mini Arthi's Vakum Sejak Februari 2020

  • www.nusabali.com-mustahil-manggung-di-masa-new-normal

Terkadang saya pingin menangis rasanya, terkait keadaan ini. Tetapi bagaimana caranya, semua merasakan dampak pandemi Covid-19. Pendapatan tidak ada lagi.

AMLAPURA, NusaBali

Pandemi Covid-19 masih berdampak luas ke seluruh sendi kehidupan masyarakat, tak terkecuali seniman. Sanggar Seni Mini Arthi's Amlapura, Karangasem, dibuat vakum alias tak beraktivitas sejak Februari 2020. Seluruh aktivitas dihentikan, mulai dari ngayah ke pura, pentas di hotel, hingga rutinitas latihan.

Pendiri Sanggar Seni Mini Arthi's Ni Made Kinten SPd MPd pun lebih banyak mengurung diri di rumah. Kegiatannya sehari-hari lebih banyak mengasuh sang cucu. Sedangkan suasana di sanggar lengang. Hanya terlihat pajangan beragam jenis pakaian tari di dalam rak kaca, sejak empat bulan terakhir tidak pernah dibuka. Biasanya saat situasi normal, sanggar seni ini selalu kebanjiran pentas di hotel yakni di Objek Wisata Tirtagangga, Banjar Tanah Lengis, Desa Ababi, Kecamatan Abang, dan di Objek Wisata Candidasa, Banjar Samuh, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem.

Seniman sanggar ini juga kerap menari ke desa-desa membawakan beberapa paket tarian. Sehingga para penari terutama dari kalangan siswa ada kegiatan, tidak monoton latihan. Tentu juga ada pendapatan untuk siswa untuk bekal sekolah.

Biasanya setiap penari, dapat honor sekali menari Rp 50.000 hingga Rp 100.000, tergantung jenis tarian. Sedangkan satu penari dibayar Rp 300.000 - Rp 500.000 per penari. Sebab, biaya itu, termasuk sewa pakaian, dan transport.

Satu penari sewanya sampai Rp 500.000, khusus untuk tari kreasi, seperti Luh Nguntik, Tri Angunang Hati, Puspa Hredaya, Rare Karangasem, Ngulah Mrana,  dan lain-lain. Sebab tarian ini memerlukan keterampilan khusus dan tingkat kesulitannya berbeda dengan tari-tari lepas lainnya.

Ternyata pandemi Covid-19 itu mengubah semuanya. Sebelumnya melakukan rutinitas latihan tiap Selasa, Kamis sore dan Minggu pagi. Kali ini sama sekali tidak ada latihan. Tercatat enam instruktur mengajar 235 siswa yakni Ni Made Kinten, Kadek Dedi Suhardiman Wahyudi, Ni Luh Astiti Rahayu, Ni Komang Wiwin Sari Putri, Ni Ketut Kartika dan Ni Kadek Apriliani. Kali ini semuanya tinggal di rumah saja, sama sekali tanpa kegiatan latihan.

Padahal sejumlah instruktur tari mengandalkan pemasukan dari mengajar menari. Sebab, rata-rata telah berkeluarga, praktis kali ini tanpa pemasukan. terpaksa lebih banyak mengurung diri di rumahnya, agar terhindar dari infeksi virus corona.

Ni Made Kinten berpendapat, tidak mungkin mampu mengimplementasikan protap kesehatan dalam kegiatan belajar menari di masa new normal ini. ebab siswa cukup banyak, sementara imbauan pemerintah tentang dilarang berkumpul dan mengatur jarak, sulit diterapkan. Apalagi harus pakai masker dan setiap kali cuci tangan gunakan air mengalir dan pakai sabun.

Sehingga kegiatannya hanya di rumah saja, lebih banyak menata kebun dan mengurus rumah. Pendapatan tidak ada lagi. Di lain sisi, terus bayar rekening listrik, dua paket besar 2.300 VA dan 3.500 VA, rekening air, serta kebutuhan pangan mesti selalu tersedia. "Terkadang saya pingin menangis rasanya, terkait keadaan ini. Tetapi bagaimana caranya, semua merasakan dampak pandemi Covid-19. Pendapatan tidak ada lagi. Karena tidak ada aktivitas di pariwisata, ngayah pun tidak pernah lagi sejak Februari 2020," jelas Ni Made Kinten dihubungi Sanggar Seni Mini Arthi's, Jalan Gatot Subroto 7 Amlapura, Jumat (5/6).

Dia memperkirakan setahun siswa tidak pernah latihan di Sanggar Seni Mini Arthi's, ini berarti Desember 2020 nanti tidak akan ada ujian kenaikan tingkat. "Siswa yang mana akan mengikuti kenaikan tingkat, sementara latihan tidak pernah," lanjutnya. Jika situasi normal kembali, rencananya hanya menggelar parade melibatkan seluruh penari yang bernaung di  bawah Sanggar Seni Mini Arthi's, sebagai pengganti tidak menggelar ujian kenaikan tingkat.

Generasi penari di tahun 2020, bisa dibilang lumpuh, tanpa kegiatan. Ini merupakan situasi terburuk sejak Sanggar Seni Mini Arthi's didirikan tahun 1996. Alumnus SMKI (Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia) Denpasar tahun 1986 itu, mulanya mengajar menari privat, keliling ke rumah-rumah, selanjutnya mengontrak tempat ukuran 5 meter x 8 meter untuk kegiatan sanggar, kemudian membangun gedung relative besar.

Selama ini, Sanggar Seni Mini Arthi's, jadi langganan Pemkab Karangasem di PKB. Paling tidak dapat order menampilkan garapan terbaru. Tahun ini tidak ada PKB, maka ide atau inovasi untuk menggarap tari kreasi juga tidak terealisasi.

Padahal selama ini Sanggar Seni Mini Arthi's sebagai barometernya pelestari seni tari di Karangasem. Walau belakangan banyak berdiri sanggar-sanggar tari di desa-desa, tetapi dalam hal membuat garapan dengan melibatkan banyak penari, sanggar ini tetap diandalkan Pemkab Karangasem.

Sebab di sanggar itu memiliki penari dari berbagai tingkatan. Seluruh tarian lepas apa saja, ada penarinya. Siswa bukan saja dapat pendidikan menari yang baik, juga mendapatkan pendidikan merias diri. Sehingga penari yang telah berpengalaman, bisa merias minimal untuk dirinya sendiri, saat hendak menari.

Nasib kurang beruntung dialami sanggar ini sebenarnya bukan semata-mata akibat pandemi Covid-19. Jauh sebelumnya, gudang tempat menyimpan pakaian penari, di Jalan Diponegoro, Amlapura, terbakar, hingga mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Bangunan tersebut, hingga kini belum diperbaiki sama sekali, dibiarkan berupa puing-puing yang tersisa bekas kebakaran. *nant

Komentar