nusabali

19 Hektare Lahan Jagung Diserang Ulat Grayak

  • www.nusabali.com-19-hektare-lahan-jagung-diserang-ulat-grayak

Ancaman serangan ulat grayak sangat mengkhawatirkan karena dapat bergerak cepat dalam merusak tanaman jagung.

SINGARAJA, NusaBali

Seluas 19 hektare lahan tanaman jagung tersebar di Kecamatan Gerokgak dan Tejakula terserang hama. Dinas Pertanian langsung melakukan penanganan hama ulat grayak yang sangat membahayakan bagi pertumbuhan tanaman jagung. Rata-rata hama ini menyerang tanaman jagung yang baru berumur 2-3 minggu.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta, Jumat (21/2/2020), mengatakan serangan ulat grayak yang memiliki nama latin spodoptera frungiperda ini sudah dilaporkan petani jagung sejak sepekan terakhir. Rata-rata tanaman jagung yang diserang saat ini masih berumur tiga mingguan. “Luasan tanam yang terserang sekitar 10 hektare di Kecamatan Gerokgak, di Kecamatan Tejakula juga ada sekitar 9 hektare. Tetapi setelah dilaporkan petani kami bersama tim provinsi juga sudah turun untuk melakukan pengendalian hama,” jelas dia.

Sumiarta menjelaskan dari luasan lahan jagung yang terserang ulat grayak, sejauh ini masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan luasan total lahan jagung di Buleleng seluas 129 hektare tersebar di Kecamatan Gerokgak, Seririt dan Tejakula. Namun diakui Dinas Pertanian tak boleh lengah, karena ancaman serangan ulat grayak sangat mengkhawatirkan karena dapat bergerak cepat dalam merusak tanaman jagung. Petani yang memiliki lahan jagung terserang ulat grayak sementara dibantu pengendalian awal dengan pemberian pestisida. Sehingga ulat grayak yang menggerogoti daun tanaman jagung hingga ke pucuk dan juga bisa menggerogoti tongkol jagung dapat dikendalikan.

Sementara itu terkait luasan lahan jagung di Buleleng disebut Sumiarta memang banyak dikembangkan di daerah yang memiliki tekstur tanah kering. Sebagian besar petani yang menanam jagung menggunakan air tadah hujan sebagai sumber pengairan. “Memang tanaman jagung baru ditanam petani di daerah-daerah kering saat musim hujan mulai turun seperti sekarang-sekarang ini sudah mulai tumbuh bahkan ada yang sudah mulai panen jagung muda,” jelas dia.

Petani jagung di Buleleng sejauh ini memang memilih mengembangkan jagung jenis hibrida dengan varietas Bisi 2. Selain cocok ditanam di lahan kering, varietas Bisi 2 ini memiliki keunggulan satu tanaman bertongkol dua, sehingga produktivitasnya lebih tinggi dari varietas jagung lainnya.*k23

loading...

Komentar