nusabali

Siswa Dilatih Jadi MC Berbahasa Bali

  • www.nusabali.com-siswa-dilatih-jadi-mc-berbahasa-bali

Khusus untuk MC berbahasa Bali dipandang penting untuk memperhatikan diksi kata yang disampaikan. Apalagi setiap kabupaten/kota di Bali masih ada sejumlah perbedaan dalam penggunaan bahasa Bali halus.

DENPASAR, NusaBali

Menjadi pembawa acara berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris mungkin sudah hal biasa. Namun menjadi pembawa acara berbahasa Bali boleh jadi sesuatu yang menantang. Sebab menjadi Master of Ceremony (MC) berbahasa Bali yang baik dan benar tidak hanya soal memandu acara, namun juga ada tantangan menggunakan anggah ungguhing (tata bahasa) bahasa Bali. Materi MC berbahasa Bali ini menjadi tema menarik saat pelaksanaan Bulan Bahasa Bali di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (16/2).

Krialoka atau workshop MC berbahasa Bali menghadirkan dua narasumber yakni Ida Ayu Frischa Mahayani (reporter sekaligus redaktur berita berbahasa Bali di LPP RRI Denpasar) dan Tjokorda Istri Priti Mahendradevi (reporter dan presenter LPP TVRI Denpasar). Workshop ini diikuti oleh para pelajar dan mahasiswa dari sejumlah kabupaten/kota di Bali. Di pertengahan workshop, beberapa pelajar dan mahasiswa pun diberikan kesempatan mempraktekkan menjadi MC berbahasa Bali dengan naskah yang sudah disiapkan panitia.

Mereka nampak antusias mencobanya. Rata-rata mereka memang tidak fasih berbahasa Bali, ditambah lagi grogi dan malu. Namun saat workshop berlangsung, mereka langsung mempraktekan cara mengatasi grogi dengan mengatur nafas. Peserta yang lain juga ikut mengkoreksi di mana kelemahan dan kelebihan masing-masing peserta, sehingga workshop kemarin terasa sangat menarik.

Narasumber Tjokorda Istri Mahendradevi mengatakan, khusus untuk MC berbahasa Bali dipandang penting untuk memperhatikan diksi kata yang disampaikan, apalagi setiap kabupaten/kota di Bali masih ada sejumlah perbedaan dalam penggunaan bahasa Bali halus.

Namun menurut presenter yang akrab disapa Cok Devi ini, menjadi MC dengan bahasa apapun harus memiliki kemampuan dasar yakni koordinasi dan konfirmasi. Sehingga tidak sampai ada kesalahan atau kekeliruan dalam penyebutan nama dan jabatan tokoh-tokoh penting yang hadir sebagai undangan maupun pengisi acara pokok dari acara yang dipandu.

Selanjutnya, MC juga harus menyesuaikan volume suara, intonasi, penekanan, kecepatan dan sebagainya. Sebab ketika MC membawakan acara dengan intonasi yang datar-datar saja, bisa jadi yang hadir itu tidak ada yang memperhatikan. Di sisi lain, menjadi MC juga harus punya pengalaman dan pengetahuan, punya imajinasi, juga rasa humor. “MC perlu menyelipkan kata-kata lucu agar acara yang dibawakan itu tidak membosankan. Selanjutnya pembawa acara juga harus menunjukkan antusiasmenya supaya acara yang dibawakan itu lebih hidup,” jelasnya.

Sedangkan narasumber lainnya, Ida Ayu Frischa Mahayani menambahkan, MC memegang peranan penting atas sukses tidaknya sebuah acara. Pembawa acara yang profesional harus siap untuk berbagai jenis acara yang dibawakan, baik itu acara formal, nonformal, maupun kombinasi keduanya. Ada satu proses penting yang wajib diikuti oleh MC yakni ikut proses latihan atau gladi. “Proses latihan atau gladi sebelum membawakan acara juga penting untuk kesuksesan dan kelancaran acara. MC juga tidak boleh hanya sekadar membawakan acara. Karena kalau hanya demikian, maka acara yang dibawakan tidak akan hidup,” terangnya.

Kepala Seksi Inventaris dan Pemeliharaan Dokumentasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Mahesa Yuma Putra mengatakan, kegiatan ini sengaja melibatkan para pelajar dan mahasiswa dengan tujuan untuk menumbuhkan minat generasi muda Bali agar mau belajar bahasa Bali dan juga tidak segan menjadi pembawa acara berbahasa Bali. Menurutnya, saat ini masih minim MC berbahasa Bali.

"Untuk kegiatan di instansi pemerintahan yang mengharuskan berbahasa Bali, kami juga cukup sulit mencari MC. Harapan kami, semoga workshop ini dapat memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman bagi para pelajar untuk diterapkan nanti di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.

“Pemerintah lewat Pergub No 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Satra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, menginginkan penggunaan bahasa Bali bisa lebih meluas. Dengan workshop ini, tentu bisa menambah wawasan bagaimana membawakan acara yang benar dari sisi sikap maupun dalam penggunaan bahasa,” tandasnya. *ind

Komentar