nusabali

Penerbangan dari dan ke China Ditutup

Bebas Visa Turis China Dicabut, 238 WNI Dievakuasi dari Wuhan

  • www.nusabali.com-penerbangan-dari-dan-ke-china-ditutup

Khusus penerbangan dari China ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Tuban dan sebaliknya saat ini tercatat masih ada 6 maskapai.

JAKARTA, NusaBali

Pemerintah memutuskan untuk menutup penerbangan dari dan ke China mulai Rabu (5/2). Pemerintah Indonesia juga menghentikan sementara fasilitas bebas visa dan visa on arrival (VoA) bagi turis asal China. Hal itu diputuskan setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (2/2). Rapat tersebut membahas pasca evakuasi 238 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China.

"Penerbangan langsung dari dan ke mainland RRT (China) ditunda sementara, mulai Rabu, pukul 00.00 WIB," kata Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Minggu. Dalam konferensi pers tersebut, Menlu didampingi Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.

Kebijakan itu merupakan poin ketiga dari kesimpulan hasil rapat terbatas yang dipimpin Presiden. Poin lain yang disampaikan pemerintah adalah, total 285 orang akan menjalankan observasi di Natuna, Kepulauan Riau. Sebanyak 243 dari jumlah itu merupakan mereka yang dipulangkan dari Wuhan, lima orang di antaranya adalah tim aju atau tim pendahulu. Poin lainnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto akan berkantor di Natuna. Jubir Menkes akan menyampaikan perkembangan kepada publik.

Lalu, mereka yang sudah berada di China selama 14 hari untuk sementara tidak diizinkan masuk ke Indonesia maupun melakukan transit. "Semua pendatang yang tiba dari mainland China dan sudah berada di sana selama 14 hari untuk sementara tidak diizinkan untuk masuk dan melakukan transit di Indonesia," ucap Retno dilansir kompas.com. Pemerintah juga mencabut untuk sementara visa bebas visa dan visa on arrival untuk warga negara China.

"Kelima, kebijakan visa bebas kunjungan dan visa on arrival untuk warga negara RRT yang bertempat tinggal di mainland China untuk sementara dihentikan," kata Menlu. Poin terakhir, pemerintah meminta warga negara Indonesia (WNI) untuk sementara tidak melakukan perjalanan ke China.

Terkait larangan penerbangan ke China, saat ini ada 6 penerbangan yang masih melayani penerbangan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Kecamatan Kuta, Badung ke China ataupun sebaliknya. Comunication and Legal Section Manager Angkasa Pura I, Arie Ahsanurrohim, mengatakan pasca di keluarkan larangan penerbangan dari dan ke China oleh Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, pihaknya tentu menunggu arahan lanjutan. Saat ini, pihaknya mulai mendata maskapai yang masih melayani rute penerbangan langsung dari Bali ke China itu.

"Sampai saat ini masih ada penerbangan dari China ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Tuban dan sebaliknya. Dalam catatan kita, ada 6 maskapai yang melayani rute itu, yakni Cathay Pacific, China Airlines, Eva Airlines, Citilink, Garuda Indonesia dan Lion Air," ungkap Arie saat dikonfirmasi, Minggu (2/2) sore.

Lebih jauh diterangkan, pihaknya tentu menindaklanjuti terkait larangan itu dengan berkoordinasi dengan ke enam maskapai itu. Sehingga, nantinya pada Rabu mendatang, tidak adalagi maskapai yang melayani penerbangan ke China dan sebaliknya. Masih menurut Arie, salah satu maskapai asal China, yakni China Southern juga sudah memperpanjang masa pembatalan penerbangan ke Bandara Ngurah Rai. Maskapai asal Negeri Panda itu dipastikan tidak akan terbang mulai,Senin (3/2) hingga (28/3).

"Kalau maskapai China Southern itu jadwal penerbangan hingga akhir Maret sudah di-cancel semua. Yang melayani rute dari dan ke China saat ini sisa enam maskapai saja," urainya. Sementara, Kepala Otoritas Bandara Otban Wilayah IV, Elfi Amir, mengakui terkait larangan terbang dari dan ke China. Hanya saja, sampai saat ini belum ada arahan lanjutan dari pusat. "Kalau sampai saat ini masih tunggu arahan. Kemungkinan besar besok (hari ini, red) baru ada. Karena di undang untuk rapat soal itu di Jakarta," katanya singkat.

Sementara kabar soal adanya satu warga China diamankan di Bandara Ngurah Rai setelah terdeteksi suspect virus corona yang dimuat salah satu media online di Bali dibantah Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan pihak Bandara Ngurah Rai. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya, membantah ada pasien suspect baru di Bali seperti yang diberitakan media online lokal, Minggu (2/2). Dia memastikan hingga saat ini Bali masih aman dari virus corona.

“Tidak benar itu,” bantahnya saat NusaBali menunjukkan artikel tersebut via Whatsapp, kemarin sore. Pemberitaan media online lokal tersebut menyebut bahwa petugas mengisolasi seorang penumpang asal China yang mendarat di Bandara Ngurah Rai setelah terdeteksi suspect virus corona. Wisatawan asing itu mendarat di Bandara Ngurah Rai Bali pada 31 Januari 2020.

Pada bagian lain, NusaBali juga coba mengonfirmasi Kabid Pengendalian Karatina dan Surveilance Epidomologi KKP Bandara Ngurah Rai Bali, I Wayan Suberatha. Menurutnya, pada saat wawancara itu, pernyataannya adalah sedang berandai-andai jika benar ada warga asing yang dicurigai suspect corona. Jadi, jika seandainya terjadi pasien terdeteksi suspect corona, maka penanganan yang akan diberikan sudah jelas sesuai SOP. “Kita tadi ngomong, seandainya terjadi,” katanya.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, mengungkapkan pemerintah telah mengevakuasi 238 orang dari Wuhan, China, Minggu pagi kemarin. Jumlah itu berkurang tujuh orang dari rencana awal yang akan dipulangkan, yakni 245 orang. Dari tujuh orang yang tak kembali ke Tanah Air, Menkes menyebut, empat di antaranya menyatakan tidak bersedia dievakuasi atas kehendak sendiri. "Empat orang menyatakan untuk tidak mau berangkat karena lebih nyaman di sana. Meski kita sudah tawarkan semua," tambahnya.

Mereka, kata Menkes telah membuat surat pernyataan yang menyebutkan alasan mereka tidak bersedia dievakuasi. Sementara tiga orang lainnya tidak berhasil melalui uji pemeriksaan yang dilakukan oleh Pemerintah China. "Yang tiga tidak lolos screening, screening yang dilakukan pemerintah China yang meliputi bertahap, tiga tahap mereka harus jalani," ujarnya.

Pemeriksaan yang dilakukan pemerintah China, lanjut Terawan, memberi sedikit kelegaan bagi pemerintah. Pasalnya, pemeriksaan itu memberi kepastian bahwa WNI yang berhasil dievakuasi adalah mereka yang dalam keadaan sehat. "Itu membuat kita merasa nyaman bahwa yang berangkat ke kita ini sudah dipastikan oleh pemerintah China bahwa itu (mereka) adalah orang-orang yang sehat," tegasnya.

Meski demikian, pemerintah Indonesia tetap harus memastikan kembali kesehatan WNI yang berhasil mendarat di Indonesia. Pemeriksaan yang dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan WHO. "Peraturannya (ketika) mendarat di sini (Indonesia) saya yang harus memastikan ganti. Saya harus pastikan ganti, sehat betul opo tidak, standarnya sama atau tidak," ujarnya.

"Itu adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan namanya cek dan ricek sesuai dengan standar WHO yang ada," katanya.

Menlu Retno LP Marsudi menyampaikan total 285 orang menjalani observasi di hanggar Lanud Raden Sadjad Natuna. Jumlah itu termasuk 238 WNI yang sebelumnya dievakuasi dari Wuhan, China terkait wabah virus corona. "Total orang adalah 285 sampai saat ini alhamdulillah mereka dalam kondisi sehat," kata Retno di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu dilansir detik.com. Retno menyampaikan keputusan dari rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Rapat terbatas ini juga dihadiri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Idham Azis, Kepala BIN Budi Gunawan, Menko Polhukam Mahfud Md, Menkominfo Johnny G Plate, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menhub Budi Karya, Menkum HAM Yasonna Laoly, Menparekraf Wishnutama, dan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo.

Retno lantas merinci total 285 orang yang disampaikannya itu. Selain 238 WNI, terdapat 5 anggota tim advance dan 42 tim penjemput WNI. "Mereka akan melalui masa observasi 14 hari," kata Retno. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr Achmad Yurianto, mengatakan tak ada perlakuan khusus yang akan dilakukan terhadap WNI tersebut. "Tidak ada (yang khusus), biasa saja, mereka orang sehat kok. Kita hanya observasi selama 14 hari," ujarnya.

Dia menjelaskan observasi ini hanya memastikan bahwa selama 14 hari WNI yang baru tiba dari Wuhan tersebut tidak sakit. "Itu untuk memastikan dalam satu siklus inkubasi yang kita itu adalah 14 hari, mereka tidak menjadi sakit. Jadi betul-betul clear bahwa mereka tidak sakit dan tersertifikasi tidak membawa penyakit," tambahnya.

Pemerintah juga memastikan tempat observasi memberikan fasilitas yang cukup memadai bagi WNI selama mereka menjalani observasi. "Dibikin happy aja mereka. Karena secara psikologis mereka takut, takut dikira sakit, jadi dibikin happy saja," ujarnya. 7 dar, ind

KEBIJAKAN RI SIKAPI VIRUS CORONA CHINA
1.    Pemerintah memutuskan untuk menutup penerbangan dari dan ke China mulai Rabu (5/2).

2.    Pemerintah Indonesia menghentikan sementara fasilitas bebas visa dan visa on arrival (VoA) bagi turis asal China.

3.    Total 285 orang akan menjalankan observasi di Natuna, Kepulauan Riau. Sebanyak 243 dari jumlah itu merupakan mereka yang dipulangkan dari Wuhan, lima orang di antaranya adalah tim aju atau tim pendahulu.

4.    Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto akan berkantor di Natuna. Jubir Menkes akan menyampaikan perkembangan kepada publik.

5.    Semua pendatang yang tiba dari mainland China dan sudah berada di sana selama 14 hari untuk
sementara tidak diizinkan untuk masuk dan melakukan transit di Indonesia

6.    Pemerintah meminta warga negara Indonesia (WNI) untuk sementara tidak melakukan perjalanan ke China.

Komentar