nusabali

Putri Suastini Koster Jadi Tumpuan Gerakan Kesehatan Reproduksi

  • www.nusabali.com-putri-suastini-koster-jadi-tumpuan-gerakan-kesehatan-reproduksi

Sosok yang dikenal concern pada perjuangan kaum perempuan ini diharapkan semakin menggencarkan gerakan kesehatan reproduksi di Bali.

DENPASAR, NusaBali.com
Serangkaian dengan momen peringatan Hari Ibu dan peringatan Hari AIDS se-Dunia, Forum Peduli AIDS (FPA) Bali bakal menggelar seminar membangun kesadaran dan pentingnya 
pengetahuan kesehatan reproduksi dalam lingkup keluarga. Seminar bakal diadakan Senin (23/12/2019) di Ruang Pertemuan PKBI Daerah Bali, Denpasar dengan melibatkan sejumlah pembicara. Salah satunya yakni istri Gubernur Bali sekaligus Ketua TP PKK Provinsi Bali, Suastini Putri Koster.

Made Efo Suarmiartha, Direktur Yayasan Citra Usada Indonesia menyampaikan, dengan melibatkan PKK pihaknya berharap gerakan kesadaran pentingnya kesehatan reproduksi bisa masuk dalam program-program PKK. "Organisasi PKK ini dari tingkat nasional sampai tingkat bawah ada. Pasti mudah jika dilakukan pendekatan ke para ibu rumah tangga," ujarnya, Jumat (20/12/2019) dalam temu media di RM Segara Kangen, Denpasar.

Ia mengimbuhkan apalagi sosok Putri Koster yang merupakan perempuan nomor satu di PKK Bali dikenal sangat peduli dengan gerakan perempuan. "Makanya kami berharap pada Ibu Koster dengan jaringan PKK-nya yang kuat untuk menggencarkan gerakan kesehatan reproduksi ini. Dari dulu sosoknya dekat dan concern dengan perjuangan-perjuangan perempuan," sambungya.

Efo yang turut andil dalam pencegahan HIV/AIDS di Provinsi Bali selama 20 tahun ini menyebutkan ibu rumah tangga menjadi salah satu korban yang paling sering menerima stigma. "Ibu rumah tangga mereupakan sentral kewaspadaan keluarga. Meski dalam kasus kontribusinya sedikit, ketika nanti ibunya sudah kena bukan hanya soal dia sendiri, tapi juga tentang janin atau anaknya," paparnya.

Hal senada juga disampaikan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Yahya Anshori. Ia menyebutkan perempuan, khususnya ibu rumah tangga menjadi kelompok yang sangat rentan tertular virus HIV. "Memang secara umum angkanya lebih sedikit dibanding laki-laki, namun perempuan lebih rentan," katanya.

"Pelanggan yang 'jajan' ke lokalisasi itu kan laki-laki yang merupakan bapak rumah tangga. Ketika mereka terjangkit dan pulang, akan sangat rentan menular ke istrinya," lanjutnya. Ia mengatakan beberapa kali menemukan ibu rumah tangga yang terindikasi positif, tapi dilarang suaminya untuk melakukan pemeriksaan.

"Banyak perempuan yang di desa itu karena suaminya berkata ‘jangan’ akhirnya tidak mau datang ke Puskesmas. Padahal kan untuk memperjelas temuan ini jadi tidak bisa," ungkapnya. 

Yahya juga  mengingatkan bahwa  ibu rumah tangga juga berhak mendapat perlindungan baik yang terjangkit HIV/AIDS ataupun tidak. "Aksesnya untuk perempuan sebenarnya sudah dianjurkan di mana-mana. Tapi karena satu hal seperti itu akhirnya haknya tidak didapatkan," sambungnya. 

Berdasar fenomena yang sedang terjadi seperti itu, ia menuturkan, hak perempuan harus diangkat. "Ini menjadi tugas bersama ini untuk memberikan pengetahuan yang lebih," tutupnya.*has

Komentar