nusabali

Hari Raya, Mengapa Tak Boleh Sembahyang Lewat Tengah Hari?

  • www.nusabali.com-hari-raya-mengapa-tak-boleh-sembahyang-lewat-tengah-hari

Seperti pada hari raya lainnya, umat tidak dianjurkan untuk melakukan persembahyangan melewati tengah hari atau sekitar pukul 12 siang. Kenapa?

DENPASAR, NusaBali.com
Sabtu (7/12/2019) merupakan hari suci bagi umat Hindu, yaitu, Hari Raya Saraswati, yang merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan. Perayaan ini berlangsung setiap enam bulan sekali dalam kalender Bali tepatnya pada Saniscara Umanis Watugunung. Seperti pada hari raya lainnya, umat tidak dianjurkan untuk melakukan persembahyangan melewati tengah hari atau sekitar pukul 12 siang. Kenapa?

Penjelasan singkat padat dan sederhananya, yakni karena para Dewa-Dewi yang dipuja di hari suci ini, seperti Sang Hyang Aji Saraswati di Hari Raya Saraswati, tengah turun ke dunia menurunkan anugerah ilmu pengetahuan dan akan kembali ke kahyangan saat tengah hari. Singkat, sederhana, cukup diterima masyarakat luas, dan mudah untuk dijelaskan kepada anak-anak. 

Lebih jelasnya lagi, tata upacara Hari Raya Saraswati, bersama dengan hari raya lainnya, dimuat dalam Lontar Sundarigama. Disebutkan, pada saat Hari Raya Saraswati, dianjurkan bagi umat untuk melakukan Brata Saraswati, yang berupa ‘puasa’ membaca dan menulis. Kemudian, bagi yang melaksanakan Brata Saraswati secara penuh, tidak membaca dan menulis ini dilakukan selama 24 jam.

“Hal ini berpengaruh pula ke jam persembahyangan. Di pagi hingga tengah hari, itu waktunya Sang Hyang Aji Saraswati menurunkan ilmu. Selama sang dewi masih di dunia, umat sebaiknya memuja beliau di jam-jam tersebut. Jika melewati tengah hari, yang kita puja hanyalah setumpuk huruf, bukan kekuatan Dewi Saraswati itu sendiri,” ujar Dr Putu Sabda Jayendra SPdH MPdH. 

Tapi, bukankah ada pepatah ‘Tuhan ada di mana-mana’? Dalam anggapan tersebut, jelas tersirat bahwa dengan adanya kekuatan Tuhan di mana-mana, maka pemujaan dewa-dewi bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Namun anjuran untuk melakukan persembahyangan di jam-jam tertentu ini seolah menjadi kontradiksi.

“Secara filsafat, memang benar Tuhan ada di mana-mana, tapi secara etika, kita juga membutuhkan yang namanya momentum. Kalau hanya berpatokan pada ‘Tuhan ada di mana-mana’, apakah lantas manusia bisa menghargai sastra setiap harinya? Ritual yang baik adalah jika berlandaskan pada Tri Kerangka Dasarnya secara utuh, yaitu Filsafat, Susila, dan Acara. Momentum, termasuk bagian pada Acara ini, tidak bisa berpatokan pada filsafat saja. Momentum itu perlu untuk mengingatkan manusia. Sama seperti Hari Ibu, memangnya hanya menyayangi ibu saat hari itu saja? Manusia juga butuh momentum peringatan agar tidak terlena dengan kesibukan masing-masing,” jelas Putu Sabda.*yl

Komentar