nusabali

Ribuan Pamedek Hindu-Budha Tangkil di Kongco Tanah Kilap

  • www.nusabali.com-ribuan-pamedek-hindu-budha-tangkil-di-kongco-tanah-kilap

Masyarakat Bali penganut keyakinan Hindu-Budha tumpah ruah memadati Griya Kongco Dwipayana, Tanah Kilap, Pemogan Denpasar Selatan, saat perayaan Tahun Baru Imlek ke-2570.

DENPASAR, NusaBali

Yang unik dari setiap perayaan Imlek di kongco ini adalah akulturasi budaya yang sangat kentara antara masyarakat Hindu Bali dan masyarakat keturunan Tionghoa.  Seperti yang terlihat dari pantauan NusaBali, Selasa (5/2), para pamedek berdatangan silih berganti, bahkan masih terlihat ramai hingga pukul 14.00 Wita. Kebanyakan dari mereka mengenakan busana serba merah menyala, namun ada pula yang memakai busana adat khas Bali, lengkap dengan sarana persembahyangan seperti banten, canang, dan dupa. Para pamedek bersembahyang tanpa komando sesuai keyakinan masing-masing.

Ditemui di sela-sela kesibukannya, Pamuncuk Griya Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana yang akrab disapa Atu, 70, membenarkan bahwa telah menjadi hal yang biasa kongco ini selalu mempertemukan dua keyakinan yang berbeda namun saling berbaur dan melengkapi. “Yang unik dari kongco ini adalah berpadunya dua keyakinan yang merupakan dari kearifan lokal Bali,” kata Adnyana.

Sebetulnya, perayaan Imlek telah dimulai sejak Senin malam. Adnyana yang telah 30 tahun mengabdikan diri di kongco ini pun turut memimpin upacara pembukaan dan penutupan malam tahun baru bersama Atu Istri, yang tidak lain adalah sang istri.

“Perayaan Imlek dimulai dari tengah malam. Istilahnya menutup dan membuka malam tahun baru. Kalau kemarin itu sembahyang dan pertunjukan barongsai karena pertunjukan barongsai itu dipercaya mendatangkan hal yang baik dan mengusir yang buruk,” sambungnya sembari sesekali menyapa pamedek yang tangkil.

Menurut Adnyana, kongco di Tanah Kilap ini merupakan pusat kongco di Bali. Yang menarik adalah, tidak hanya satu atau dua dewa yang berstana di kongco, melainkan ada beberapa dewa kepercayaan Tionghoa dan Hindu juga, antara lain, 7 Dewi, Dewi Kwan Im, Panglima Emas, Bhatara Lingsir (Ratu Niang), juga Kanjeng Ratu Kidul. Pemandangan tersebut divisualisasikan dengan adanya Pagoda ala China yang bersebelahan dengan Meru Ratu Niang Pamutering Jagat. Hal ini pula yang membedakan antara kongco dan wihara.

Komang Surni, pamedek asal Nusa Dua, ini mengaku setiap perayaan Imlek selalu bersembahyang di Kongco. Surni pun selalu mengajak keluarga besarnya untuk bersembahyang bersama.

“Iya, setiap Imlek selalu ke sini karena bagian dari runtutan setelah sembahyang dari Candi Narmada. Di sini pelinggihnya Ratu Niang, kita kan konsepnya Siwa-Budha. Harapannya, astungkara, mudah-mudahan baik buat semua ya, baik itu kesehatan, keselamatan, dan rezeki,” ucap Surni.

Sementara itu, yang berbeda dari perayaan Imlek kali ini adalah adanya pergantian shio (tahun), yang kali ini jatuh di Shio Babi. Menurut pengamatan Adnyana selaku tokoh agama, shio tahun ini lebih terasa tenang dari tahun sebelumnya, mengingat ciri khas sifat babi yang tenang dan tidak suka grasa-grusu.

“Kalau Shio Babi ini kan untuk umat itu akan lebih baik daripada tahun kemarin. Kalau kita mau memaknai daripada shio itu, mereka itu kan bersifat tenang, tidak grasa-grusu, tidak mudah akan dipengaruhi oleh hal-hal yang kalau bukan haknya. Kalau kita juga bisa bersikap begitu, saya yakin apa yang kita lakukan jadi lebih baik,” paparnya lagi.

Dari tahun baru kali ini, Adnyana berpesan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk, seperti mempercayai berita simpang siur yang marak terjadi di era sekarang ini. Intinya, masyarakat hendaknya bisa mencerna mana yang baik dan yang buruk bagi mereka. cr41

Komentar