Bali Itu Tontonan
BENARKAH orang Bali etnik yang suka ditonton? Jangan-jangan mereka teguh memegang tradisi, mempertahankan seni budaya leluhur, justru karena banyak turis khusus datang ke Bali untuk menontonnya.
Dalam kegiatan ritual di pura, mereka melakukan yang terbaik, karena yakin akan disaksikan banyak orang. Tempat ibadah dirias meriah, hari raya penjor berjejer, dan tari-tarian digelar berhari-hari ketika odalan untuk ditonton.
Pesta Kesenian Bali diawali oleh pawai kesenian justru untuk ditonton oleh pejabat dari Jakarta dan tamu negara dari mancanegara. Tentu tak keliru jika kemudian muncul komentar: orang Bali memang sangat senang, bangga, begitu bahagia, puas, jika mereka ditonton. Seolah-olah derita, persoalan pelik hidup, kemiskinan, pupus jika bisa mempertontonkan seni budaya mereka. Entahlah, mengapa orang-orang Bali, dari segenap lapisan umur, demikian bahagia dan bangga jika dipelototi, lalu orang-orang bertepuk tangan gemuruh menyaksikannya.
Orang Bali sangat menghargai dan menghormati sesama mereka yang sukses sebagai orang yang ditonton. Seniman seni pertunjukan yang tampil penuh pesona, menuai decak kagum penonton, jauh lebih disegani dan dihargai tinimbang anak sekolah yang karena prestasinya menerima penghargaan ilmu pengetahuan. Apalagi anak itu kalem, tak banyak omong, lebih mengutamakan tindakan tinimbang sekadar tampil gemerlap di panggung. Jika seorang Bali berhasil menunjukkan kepiawaiannya menari ke beberapa negara, pasti disanjung-sanjung dan diistimewakan oleh orang Bali sendiri.
Tampaknya Bali memang ditakdirkan buat ditonton. Ia sesuatu yang gemerlap, menarik minat banyak orang untuk menatapnya berlama-lama. Tentu, sebagai barang tontonan, Bali tak hanya menuai pujian, juga kritik, kecaman. Ia dihadiahi gemuruh tepuk tangan, juga sorak sorai dari penonton yang tidak menyukai pertunjukan yang tengah disuguhkan. Tak ada artis yang menuai sukses dalam seluruh utuh perjalanan kariernya. Risiko jadi terkenal adalah, suatu ketika akan dicampakkan. Kembang tak selamanya harum, tak sepanjang waktu mekar. Ia akan busuk, layu, dan lunglai.
Belakangan banyak masalah muncul di Bali: kriminalitas, kerusakan lingkungan, tempat-tempat kotor karena sampah berserakan tak terurus, tempat-tempat suci dilecehkan turis, semua itu juga menjadi tontonan. Yang menonton dunia, karena internet bergerak melesat cepat, dan setiap orang menjadi pewarta yang cekatan. Mereka langsung mengunggah ketidakberesan itu, muncul di media sosial, sehingga semakin banyak dan kian sering Bali jadi tontonan.
Dari tontonan-tontonan itu banyak orang berpendapat, Bali kehilangan taksu, antara lain karena pemimpinnya seakan tak memiliki cara untuk mengurus rakyatnya dengan baik. Seolah-olah sang pemimpin tak punya pegangan, tak memiliki ketegasan untuk bertindak. Wewenang yang diembannya dari rakyat seperti ada yang mengendalikan.
Pemimpin memang harus dikendalikan, agar ia tidak jadi diktator dan tidak totaliter. Tapi si pengendali adalah para wakil rakyat yang menerima mandat untuk selalu berbenah dan membawa daerahnya ke jalan yang patut. Jika tidak, zaman dan situasi akan menjadi amburadul, tak jelas arahnya.
Si pemimpin tentu menolak jika dikatakan ia tak punya arah. Bisa jadi ia menepuk dada, “Sudah aku siapkan rencana, visi dan misi, seabad ke depan. Kurang apa lagi? Bagaimana kalian menyebut aku tidak peduli sama rakyat?”
Namun tontonan yang disuguhkan kini adalah tentang banyak ketidakberesan, sehingga rakyat merasa alangkah murung hari ini dan betapa suram masa depan. Suram, karena lapangan kerja di tanah sendiri begitu sempit dan pekerja harus berkelana jauh mencari penghidupan. Bali kemudian akan menjadi tontonan, betapa anak mudanya bangga bekerja di luar negeri, dan tanah kelahiran mereka dikuasai pendatang.
Bali sebagai tontonan sudah sejak lama terjadi. Tahun 70–80an orang-orang Jakarta datang ke Kuta atau Legian yang kala itu sedang naik daun, untuk menonton bule telanjang berjemur di pantai. Yang beken kala itu adalah wisata sun, sand, and sex. Yang menonton turis telanjang itu adalah juga menonton Bali. Sekarang orang-orang datang ke Canggu untuk menonton turis berbikini jalan-jalan dan menikmati penuh kebebasan. Mereka menonton turis setengah telanjang itu adalah juga menonton Bali.
Bisa jadi Bali memang ditakdirkan jadi tontonan. Menghindar dengan cara apa pun dari tontonan itu, Bali tetap tontonan. Tak seorang pun sanggup melawan takdir. 7
Komentar