nusabali

Ni Wayan Muni, Sosok di Balik Kuliner Legendaris Babi Guling Men Wenci

  • www.nusabali.com-ni-wayan-muni-sosok-di-balik-kuliner-legendaris-babi-guling-men-wenci

MANGUPURA, NusaBali.com - Pencinta kuliner Bali tentu sudah tidak asing dengan nama Babi Guling Men Wenci. Warung makan yang menyajikan kuliner olahan daging babi ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Bali sejak puluhan tahun, karena rasanya yang outentik dan memanjakan lidah. Adalah Ni Wayan Muni, sosok di balik pendiri warung makan yang berlokasi di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung itu.

NusaBali sempat bertemu dengan Ni Wayan Muni beberapa pekan lalu di warung kedua, dengan nama ‘Babi Guling Wenci’, yang lokasinya masih sama, di Desa Sangeh. Sebagaimana lanjut usia (lansia) pada umumnya, Muni terlihat sudah menua. Ditanya umur, ia tak bisa mengingat secara pasti. Ia hanya memberikan perkiraan, bahwa ketika ia lahir, Indonesia menuju merdeka kala itu. Keluarganya pun hanya memberi gambaran bahwa Muni kini sudah berusia lebih dari 80 tahun.

Meski sudah renta, namun Muni terlihat masih sehat walafiat. Kepada NusaBali, ia lalu mengisahkan perjuangannya mendirikan warung makan legendaris itu. Tentu ia bercerita dengan logat bahasa Balinya yang kental. Semua berawal dari tahun 1975. Muni mengaku, kala itu hanya jualan iseng-iseng saja.

“Pertama kali saya jualan tahun 1975 di sekitar perempatan dekat objek wisata Alas Sangeh. Kan ada plang nama Babi Guling Nano. Di sanalah rumah kelahiran saya. Dulu saya berjualan di sana pertama kali,” tuturnya, dengan nada polos.

Usahanya kian berkembang. Sekitar 20 tahun kemudian, Muni berpindah tempat untuk berjualan setelah kedua orangtuanya meninggal. Tahun 2009, Muni memutuskan untuk buka warung di tanah milik orangtuanya hingga saat ini. Lokasinya dekat dengan Objek Wisata Sangeh. “Ibu bapak saya sudah tidak ada. Saya tidak punya saudara laki-laki, saya saudara bertiga perempuan,” cerita Muni.



Nama Wenci sendiri diambil dari nama anak pertamanya, Ni Wayan Wenci. Muni menuturkan, menu awal yang dijual bukanlah babi guling seperti saat ini. Ia memulai dengan sajian nasi soto dan nasi babi genyol. “Pertama nasi soto, terus nasi babi genyol, terakhir sampai babi guling,” jelasnya.

Awal-awal merintis usaha, Muni berjualan seorang diri tanpa pegawai, dengan pembeli yang masih sangat sedikit. Ia masih ingat betul, kala itu, kondisi desa Sangeh masih sepi. “Pegawai di kantor Perbekel saja cuma dua orang waktu itu. Ya, saya syukuri. Dibilang rugi, tidak. Pun dapat hasil sedikit, kanggiang (diterima seadanya, red),” kata Muni.

Kini, kondisinya kian menua. Sejak beberapa tahun terakhir, ia sudah tak lagi aktif di warung. Muni kini lebih banyak membantu pekerjaan warung dari rumah saja, seperti mengupas bawang putih dan bawang merah. “Saya sekarang sudah tidak berjualan di warung lagi. Saya tidak menghitung apa-apa. Yang penting sehat, rahayu,” ucapnya.

Sementara itu, anak pertama Muni, Ni Wayan Wenci memutuskan untuk membukan warung kedua dengan nama Babi Guling Wenci, tanpa embel-embel “Men” di lokasi yang berbeda, namun masih di satu desa yang sama. Wenci mengaku sudah belajar berdagang sejak kecil. “Dari kecil sudah diajarin jualan sama Meme (ibu, red). Zaman dulu satu bungkus nasi masih seharga Rp25,” ujarnya.

Meski buka cabang baru, nasi babi guling yang dijualnya tetap laris manis. Pembeli membeludak, dan dalam setengah hari saja berjualan sudah habis. Wenci manambahkan, saat berjualan di hari kerja, umumnya menghabiskan satu ekor babi guling per hari, serta dua ekor saat akhir pekan dan hari libur. “Jam 08.00 Wita sudah mulai buka. Biasanya habis pukul 13.00 Wita. Paling sore pukul 15.00 Wita,” kata Wenci.*ind

Komentar