Bencana Alam Tahan Laju Ekonomi Bali
Meski pertumbuhan ekonomi Bali 2025 tercatat sekitar 5,8 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional, bencana yang terus terjadi berpotensi menahan laju pertumbuhan jika mitigasi tidak segera dilakukan.
DENPASAR, NusaBali
Rangkaian bencana alam belakangan ini di Bali memberi tekanan serius pada perekonomian, terutama sektor distribusi barang, pendapatan rumah tangga, dan produksi pertanian. Dampak yang muncul tidak hanya bersifat sementara, tetapi berpotensi menekan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa, Dr Ida Bagus Agung Dharmanegara, menyoroti bahwa distribusi terganggu, biaya transportasi meningkat, dan produksi pertanian menurun, yang semuanya berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga. “Distribusi jadi terganggu, biaya transportasi naik, produksi pertanian turun, dan pendapatan rumah tangga paling terasa,” ujarnya, Kamis (22/1).
Secara nasional, kerugian akibat bencana di Indonesia mencapai lebih dari Rp68 triliun atau sekitar USD 4,1 miliar, mencakup kerusakan infrastruktur, gangguan ekonomi lokal, dan penurunan daya beli masyarakat. Di Bali, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah membuat dampak bencana lebih kompleks, karena harga dan ketersediaan kebutuhan pokok seperti sayur, daging, dan buah-buahan ikut tertekan.
Dampak sosial juga mulai dirasakan. Cuaca ekstrem dan banjir meningkatkan risiko penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), yang mengurangi produktivitas masyarakat. Infrastruktur rusak dan gangguan distribusi membuat kerugian akibat bencana di Bali lebih besar dibandingkan kontribusi investasi dan pembangunan yang belum didukung tata ruang berkelanjutan.
Pembangunan pesat tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan justru memperbesar risiko ekonomi di masa depan. Alih fungsi lahan resapan air, pembangunan di sempadan sungai, serta konsentrasi pembangunan di wilayah selatan memperparah banjir dan kemacetan. Sektor pariwisata, tulang punggung ekonomi Bali, sangat sensitif terhadap gangguan infrastruktur dan isu kebersihan, yang memengaruhi persepsi wisatawan.
Dharmanegara menekankan pentingnya prinsip keberlanjutan dan nilai Tri Hita Karana dalam pembangunan Bali, mengutamakan hubungan harmonis manusia, lingkungan, dan Tuhan. Tata ruang Bali seharusnya kembali ke konsep Astabumi dan Asta Kosala Kosali, dengan aliran air dan kawasan resapan diatur jelas untuk meminimalkan risiko bencana.
Ketergantungan Bali terhadap pasokan pangan dari luar membuat ekonomi lokal rentan saat distribusi terganggu. “Kita seperti gunung madu. Banyak yang datang untuk mengambil manfaat, tapi jika tidak dijaga, justru bisa merusak ekosistemnya,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan akademisi dan pakar lingkungan dalam setiap pengambilan kebijakan, agar pembangunan menguntungkan secara ekonomi dan aman secara ekologis. Tanpa mitigasi bencana yang kuat, pertumbuhan ekonomi Bali ke depan bisa sulit meningkat atau bahkan menurun jika bencana berulang. 7may
Komentar