Wisman Keluarga Masih Minati Wisata Konservasi Satwa di Bali
DENPASAR, NusaBali.com— Minat wisatawan mancanegara (wisman) untuk mengunjungi destinasi wisata berbasis lembaga konservasi satwa di Bali masih terjaga, meski jumlahnya tidak sebesar kunjungan ke destinasi wisata budaya dan tradisi. Segmen pasar wisata satwa kini cenderung didominasi wisatawan keluarga, terutama yang datang bersama anak-anak.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali Putu Winastra, Selasa (20/1/2026), mengatakan permintaan terhadap paket wisata yang menyertakan kunjungan ke lembaga konservasi satwa, seperti taman satwa dan atraksi gajah, masih muncul meskipun bersifat terbatas. “Kalau ada permintaan, tentu kami ajak ke sana. Ada peminatnya, tapi tidak terlalu banyak. Biasanya wisatawan keluarga,” ujarnya.
Menurut Winastra, wisatawan yang bepergian bersama anak-anak cenderung memilih atraksi satwa karena dinilai memiliki nilai edukatif. Pengalaman melihat dan berinteraksi langsung dengan satwa dianggap dapat menambah pengetahuan anak sekaligus menjadi bagian dari liburan keluarga.
Selain segmen keluarga, atraksi satwa juga masih diminati oleh wisatawan bulan madu atau pasangan tertentu. Satwa kerap dimanfaatkan sebagai latar foto dalam paket perjalanan khusus, meski porsinya tidak dominan dalam keseluruhan itinerary wisata.
Namun demikian, Winastra mengakui minat terhadap wisata satwa tidak setinggi beberapa tahun lalu. Beberapa atraksi bahkan mengalami penurunan kunjungan, seperti wisata lumba-lumba. “Kalau dulu dolphin itu ramai, sekarang peminatnya sudah menurun,” katanya.
Ia menilai penurunan tersebut belum sepenuhnya disebabkan oleh meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap isu kesejahteraan satwa. Menurutnya, sebagian besar wisatawan masih mengikuti rekomendasi paket perjalanan yang ditawarkan agen. “Belum bisa dibilang karena kesadaran soal eksploitasi satwa. Lebih tergantung permintaan pasar. Kalau yang datang keluarga, biasanya pilih satwa. Kalau tidak, mereka pilih destinasi lain,” ujarnya.
Saat ini, agen perjalanan justru lebih banyak memasarkan paket wisata berbasis budaya dan kehidupan masyarakat lokal. Wisatawan diajak mengunjungi desa wisata, mengikuti aktivitas bertani, belajar membuat canang sari, memasak kuliner tradisional, hingga mengikuti ritual melukat. “Wisatawan sekarang tertarik melihat langsung kehidupan dan tradisi masyarakat Bali,” kata Winastra.
Tren tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Bali yang menekankan konsep quality tourism dan pengalaman autentik berbasis budaya lokal. Dalam konteks ini, wisata satwa masih menjadi bagian dari pilihan, namun lebih berperan sebagai pelengkap dibandingkan destinasi utama.
Winastra berharap lembaga konservasi satwa di Bali terus memperkuat aspek edukasi dan pembelajaran agar tetap relevan sebagai destinasi wisata yang bertanggung jawab, khususnya bagi wisatawan keluarga dan pelajar. *may
Menurut Winastra, wisatawan yang bepergian bersama anak-anak cenderung memilih atraksi satwa karena dinilai memiliki nilai edukatif. Pengalaman melihat dan berinteraksi langsung dengan satwa dianggap dapat menambah pengetahuan anak sekaligus menjadi bagian dari liburan keluarga.
Selain segmen keluarga, atraksi satwa juga masih diminati oleh wisatawan bulan madu atau pasangan tertentu. Satwa kerap dimanfaatkan sebagai latar foto dalam paket perjalanan khusus, meski porsinya tidak dominan dalam keseluruhan itinerary wisata.
Namun demikian, Winastra mengakui minat terhadap wisata satwa tidak setinggi beberapa tahun lalu. Beberapa atraksi bahkan mengalami penurunan kunjungan, seperti wisata lumba-lumba. “Kalau dulu dolphin itu ramai, sekarang peminatnya sudah menurun,” katanya.
Ia menilai penurunan tersebut belum sepenuhnya disebabkan oleh meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap isu kesejahteraan satwa. Menurutnya, sebagian besar wisatawan masih mengikuti rekomendasi paket perjalanan yang ditawarkan agen. “Belum bisa dibilang karena kesadaran soal eksploitasi satwa. Lebih tergantung permintaan pasar. Kalau yang datang keluarga, biasanya pilih satwa. Kalau tidak, mereka pilih destinasi lain,” ujarnya.
Saat ini, agen perjalanan justru lebih banyak memasarkan paket wisata berbasis budaya dan kehidupan masyarakat lokal. Wisatawan diajak mengunjungi desa wisata, mengikuti aktivitas bertani, belajar membuat canang sari, memasak kuliner tradisional, hingga mengikuti ritual melukat. “Wisatawan sekarang tertarik melihat langsung kehidupan dan tradisi masyarakat Bali,” kata Winastra.
Tren tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Bali yang menekankan konsep quality tourism dan pengalaman autentik berbasis budaya lokal. Dalam konteks ini, wisata satwa masih menjadi bagian dari pilihan, namun lebih berperan sebagai pelengkap dibandingkan destinasi utama.
Winastra berharap lembaga konservasi satwa di Bali terus memperkuat aspek edukasi dan pembelajaran agar tetap relevan sebagai destinasi wisata yang bertanggung jawab, khususnya bagi wisatawan keluarga dan pelajar. *may
Komentar