Predikat Destinasi Terbaik Dunia 2026 Jadi Amanah Besar bagi Bali
DENPASAR, NusaBali.com — Bali kembali menorehkan prestasi global dengan meraih predikat World’s Best Destination 2026 dari TripAdvisor melalui ajang Travelers’ Choice Awards: Best of the Best. Penghargaan ini menempatkan Bali di peringkat pertama dunia berdasarkan jutaan ulasan wisatawan selama setahun terakhir, mengungguli destinasi ikonik seperti London dan Paris.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Agus Maha Usadha, Senin (19/1/2026), menilai capaian tersebut bukan sekadar prestasi pariwisata, melainkan amanah besar yang menuntut transformasi pembangunan dan pariwisata Bali ke arah yang lebih berkelanjutan, adil, dan berdaulat secara ekonomi.
“Penghargaan ini adalah cermin, bukan hanya etalase. Dunia sedang melihat Bali, bukan hanya keindahannya, tetapi juga bagaimana kita mengelola pertumbuhan, alam, dan masa depan masyarakatnya,” tegas Agus yang juga Wakil Ketua Kadin Bali.
Menurutnya, pengakuan dunia harus disikapi secara reflektif dan visioner, bukan berhenti pada perayaan seremonial. Ia menyoroti sejumlah tantangan struktural yang masih dihadapi Bali, mulai dari tata kelola pariwisata yang belum sepenuhnya berkelanjutan, tekanan infrastruktur akibat pertumbuhan wisata yang cepat, hingga degradasi lingkungan seperti persoalan air dan sampah.
Agus juga menyinggung kesenjangan manfaat ekonomi antara kawasan wisata, pelaku usaha besar, UMKM, dan masyarakat adat. Selain itu, ketidakpastian mekanisme perizinan, lemahnya pengawasan, serta penindakan terhadap pelanggaran investasi dinilai masih berdampak pada kepastian hukum dan iklim usaha.
“Bali tidak boleh menjadi korban dari kesuksesannya sendiri. Kita harus naik kelas dari destinasi populer menjadi destinasi yang beradab, berkelanjutan, dan berdaulat secara ekonomi,” ujarnya.
Sebagai arah kebijakan ke depan, NCPI Bali dan Kadin Bali mendorong penguatan quality tourism yang sejalan dengan ekonomi hijau, reformasi tata kelola dan tata niaga pariwisata agar lebih adil bagi UMKM dan desa adat, serta percepatan investasi infrastruktur berkelanjutan di sektor transportasi, energi, air, dan pengelolaan sampah.
Penguatan sumber daya manusia dan kepemimpinan lokal juga dinilai krusial agar Bali tidak hanya menjadi lokasi aktivitas pariwisata, tetapi berkembang sebagai pusat pembelajaran dan inovasi pariwisata dunia.
Agus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, komunitas adat, serta akademisi untuk menjadikan Bali sebagai laboratorium nasional transformasi pembangunan berbasis nilai budaya lokal, khususnya filosofi Tri Hita Karana.
“World’s Best Destination 2026 bukan garis akhir, melainkan titik awal bagi Bali dan Indonesia untuk membuktikan bahwa pelestarian budaya, penjagaan lingkungan, dan kemajuan ekonomi bisa berjalan beriringan,” katanya.
Ia menambahkan, penghargaan ini juga menjadi panggilan bagi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pariwisata, memastikan konsistensi kebijakan perizinan dan investasi di lapangan, serta meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran.
Dengan langkah-langkah tersebut, Bali diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan reputasi global sebagai destinasi terbaik dunia, tetapi juga menjadi contoh nyata pariwisata yang bermartabat, berkelanjutan, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal. *may
“Penghargaan ini adalah cermin, bukan hanya etalase. Dunia sedang melihat Bali, bukan hanya keindahannya, tetapi juga bagaimana kita mengelola pertumbuhan, alam, dan masa depan masyarakatnya,” tegas Agus yang juga Wakil Ketua Kadin Bali.
Menurutnya, pengakuan dunia harus disikapi secara reflektif dan visioner, bukan berhenti pada perayaan seremonial. Ia menyoroti sejumlah tantangan struktural yang masih dihadapi Bali, mulai dari tata kelola pariwisata yang belum sepenuhnya berkelanjutan, tekanan infrastruktur akibat pertumbuhan wisata yang cepat, hingga degradasi lingkungan seperti persoalan air dan sampah.
Agus juga menyinggung kesenjangan manfaat ekonomi antara kawasan wisata, pelaku usaha besar, UMKM, dan masyarakat adat. Selain itu, ketidakpastian mekanisme perizinan, lemahnya pengawasan, serta penindakan terhadap pelanggaran investasi dinilai masih berdampak pada kepastian hukum dan iklim usaha.
“Bali tidak boleh menjadi korban dari kesuksesannya sendiri. Kita harus naik kelas dari destinasi populer menjadi destinasi yang beradab, berkelanjutan, dan berdaulat secara ekonomi,” ujarnya.
Sebagai arah kebijakan ke depan, NCPI Bali dan Kadin Bali mendorong penguatan quality tourism yang sejalan dengan ekonomi hijau, reformasi tata kelola dan tata niaga pariwisata agar lebih adil bagi UMKM dan desa adat, serta percepatan investasi infrastruktur berkelanjutan di sektor transportasi, energi, air, dan pengelolaan sampah.
Penguatan sumber daya manusia dan kepemimpinan lokal juga dinilai krusial agar Bali tidak hanya menjadi lokasi aktivitas pariwisata, tetapi berkembang sebagai pusat pembelajaran dan inovasi pariwisata dunia.
Agus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, komunitas adat, serta akademisi untuk menjadikan Bali sebagai laboratorium nasional transformasi pembangunan berbasis nilai budaya lokal, khususnya filosofi Tri Hita Karana.
“World’s Best Destination 2026 bukan garis akhir, melainkan titik awal bagi Bali dan Indonesia untuk membuktikan bahwa pelestarian budaya, penjagaan lingkungan, dan kemajuan ekonomi bisa berjalan beriringan,” katanya.
Ia menambahkan, penghargaan ini juga menjadi panggilan bagi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pariwisata, memastikan konsistensi kebijakan perizinan dan investasi di lapangan, serta meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran.
Dengan langkah-langkah tersebut, Bali diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan reputasi global sebagai destinasi terbaik dunia, tetapi juga menjadi contoh nyata pariwisata yang bermartabat, berkelanjutan, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal. *may
Komentar