Pertumbuhan Bali Lampaui Nasional
Ancaman Global Masih Mengintai
DENPASAR, NusaBali - Bank Indonesia (BI) menilai kinerja perekonomian Bali sepanjang 2025 tumbuh impresif dan berada di atas rata-rata nasional. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya menjamin Bali kebal terhadap tekanan dan gejolak ekonomi global yang masih membayangi.
Deputy Director Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Bali, Muhamad Shiroth, mengungkapkan meski ekonomi Bali menunjukkan performa positif, daerah yang bertumpu pada sektor pariwisata ini tetap rentan terhadap dinamika global. Hal itu disampaikannya, Minggu (18/1).
Ia menjelaskan, perekonomian global pada periode 2025–2026 menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, perlambatan perdagangan dunia, hingga persoalan utang dan arah suku bunga global. Kondisi tersebut berpotensi menekan arus wisatawan mancanegara serta aktivitas bisnis lintas negara. “Pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat pada 2025. Ini tentu berdampak pada arus wisatawan mancanegara dan aktivitas bisnis lintas negara, yang sangat memengaruhi ekonomi Bali,” ujar Shiroth.
Di tingkat nasional, BI memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 4,7–5,5 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 4,9–5,7 persen pada 2026. Proyeksi tersebut ditopang stabilitas makroekonomi, inflasi yang terjaga, serta kebijakan penurunan suku bunga yang mulai berjalan.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,0–5,8 persen. Bahkan, realisasi pertumbuhan pada triwulan II tercatat mencapai 5,9 persen dan triwulan III sekitar 5,8 persen, atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Shiroth menyebut sektor pariwisata masih menjadi motor utama perekonomian Bali, ditopang oleh peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Di luar pariwisata, sektor ekonomi kreatif, pertanian, dan pertambangan mulai menunjukkan kontribusi sebagai sumber pertumbuhan baru.
Meski demikian, BI mendorong percepatan diversifikasi ekonomi guna mengurangi ketergantungan Bali terhadap pariwisata. “Ke depan, penguatan UMKM, ekonomi kreatif, serta digitalisasi sistem pembayaran menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Bali lebih berkelanjutan dan inklusif,” tegasnya.
Dari sisi digitalisasi, BI mencatat akselerasi transaksi nontunai di Bali berlangsung cukup pesat. Hingga saat ini terdapat lebih dari 1 juta pengguna QRIS dengan total transaksi mencapai 135 juta kali. Implementasi QRIS lintas negara (cross-border) dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, serta rencana ekspansi ke Arab Saudi dan Tiongkok, dinilai akan memperkuat belanja wisatawan asing di Bali.
Untuk 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali meningkat ke kisaran 5,4–6,2 persen. Proyeksi tersebut didukung peningkatan kualitas pariwisata, pembukaan rute penerbangan internasional baru, penguatan sektor pertanian, serta investasi yang dinilai tetap solid. 7may
Komentar