Ogoh-Ogoh Bertutur dari Akar Kehidupan, ST Werdhi Yowana Angkat Filosofi Air dan Pohon
DENPASAR, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Werdhi Yowana, Banjar Tampak Gangsul, Dangin Puri Kauh, Denpasar Utara, bersiap menyambut Kasanga Festival 2026 dengan sebuah garapan ogoh-ogoh yang sarat makna ekologis dan filosofi Hindu Bali. Mengusung simbol pohon sebagai poros utama karya, ST Werdhi Yowana menafsirkan tema air tidak sekadar sebagai unsur alam, tetapi sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Ogoh-ogoh yang tengah digarap ini dibimbing langsung oleh arsitek sekaligus pembina ST, I Bagus Putu Anom Sumanjaya. Ia menyebutkan, proses pengerjaan dimulai sejak pertengahan Desember 2025. Hingga pertengahan Januari ini, progres pembuatan telah mencapai sekitar 40 persen.
“Target kami akhir Januari sudah rampung. Astungkara sesuai ekspektasi. Anak-anak ST ramai-ramai ngayah ke banjar, itu yang membuat energi karya ini terasa hidup,” ujar Anom Sumanjaya, Kamis (15/1/2026).
Tema air yang diusung dalam lomba ogoh-ogoh tingkat Kota Denpasar tahun 2026 justru dianggap selaras dengan konsep yang telah dimiliki ST Werdhi Yowana. Kecintaan terhadap alam menjadi benang merah yang kemudian dirajut menjadi satu kesatuan ide.
“Ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Ide dari ST, konsep dari saya, dan tema air dalam lomba semuanya beriringan. Kami kemas menjadi satu cerita yang utuh,” jelasnya.
Pada Tahun Caka 1948 ini, Anom kembali dipercaya mendampingi ST Werdhi Yowana setelah sempat “libur” pada Caka 1947. Saat itu, ST memilih berkarya secara mandiri sebagai bagian dari proses regenerasi dan pencarian jati diri.
“Tahun lalu kami jadikan pengalaman dan evaluasi. Tahun ini kami kembali ngegas, ikut lomba dan menargetkan hasil terbaik,” katanya.
Untuk garapan ogoh-ogoh 2026, ST Werdhi Yowana mengalokasikan anggaran sekitar Rp40–50 juta. Dana tersebut diharapkan tidak mengalami pembengkakan, sejalan dengan semangat efisiensi dan kedisiplinan berkarya. Target pun dipasang realistis namun penuh optimisme, yakni menembus nominasi 16 besar tingkat Kota Denpasar.
Secara historis, Banjar Tampak Gangsul pernah menorehkan prestasi dengan masuk nominasi delapan besar Denpasar Utara pada tahun 2016. Sementara bagi Anom Sumanjaya sendiri, pengalaman sebagai arsitek ogoh-ogoh sejak 2005 telah membawanya beberapa kali masuk nominasi tingkat kota.
Dalam garapan kali ini, tema air diuraikan melalui empat tokoh utama, yakni roh atau atma pohon, pohon itu sendiri, manusia sebagai pelaku, serta lingkungan sebagai korban. Narasi yang diangkat bukan semata visualisasi banjir atau tirta sebagai air suci, melainkan sebab-akibat dari kerusakan alam, khususnya penebangan pohon secara sembarangan.
“Banjir itu bukan datang begitu saja. Ada latar belakangnya. Ogoh-ogoh ini ingin bercerita tentang itu,” tegasnya.
Ia menambahkan, karya ini lahir tanpa dorongan mencari validasi. Berkarya, menurutnya, adalah ruang kebebasan yang tetap berpijak pada logika dan nilai.
“Harapan saya, Kasanga Festival 2026 bisa memberi pengaruh positif, agar masyarakat kembali eling, kembali ingat menjaga tatanan lingkungan,” pungkasnya.
Dengan konsep yang matang, semangat ngayah yang kuat, dan pesan moral yang relevan, ST Werdhi Yowana tak hanya menghadirkan ogoh-ogoh sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan menjelang Hari Raya Nyepi. *m03
Komentar