Empat Figur Ogoh-Ogoh ST Mekar Jaya Tafsirkan Air sebagai Tantangan Seni
DENPASAR, NusaBali.com – ST Mekar Jaya Banjar Munang Maning, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat, menyiapkan ogoh-ogoh dengan empat tokoh karakter untuk menyambut Tahun Baru Caka 1948. Garapan ini sekaligus menjadi ajang evaluasi dan peningkatan kualitas artistik dibandingkan karya tahun sebelumnya.
Tim kreatif ogoh-ogoh ST Mekar Jaya, I Putu Garas Prahmantara mengungkapkan proses pembuatan ogoh-ogoh telah dimulai sejak awal Desember 2025.
“Proses pembuatan kami mulai setelah rangkaian HUT ST Mekar Jaya selesai pada Desember 2025. Di banjar kami juga ada aktivitas lain yang harus diprioritaskan, sehingga pengerjaan ogoh-ogoh baru bisa dimaksimalkan setelah itu,” ujar Garas, Kamis (15/1/2026).
Untuk ogoh-ogoh Caka 1948 ini, ST Mekar Jaya menganggarkan dana sekitar Rp20 juta. Hingga pertengahan Januari 2026, progres pengerjaan telah mencapai sekitar 40 persen dengan dana yang terserap kurang lebih Rp5 juta.
Tema air yang diusung dalam Kasanga Festival 2026 diakui menjadi tantangan tersendiri. Menurut Garas, air memiliki karakter yang luas dan cair sehingga membuka banyak tafsir dalam penggarapan seni.
“Air bisa dimaknai sebagai sumber kehidupan, tetapi juga dapat ditampilkan sebagai kekuatan destruktif seperti banjir. Di situlah tantangan kami, bagaimana menghadirkan visual yang kuat namun tetap komunikatif,” jelas alumnus Teknik Arsitektur Universitas Warmadewa yang selama ini dikenal aktif sebagai perupa dan pegiat seni ogoh-ogoh.
Garas menambahkan, karya ogoh-ogoh tahun ini juga menjadi sarana evaluasi dari garapan tahun sebelumnya. Pada Caka 1947, komposisi dinilai masih menutup karakter utama sehingga pesan visual kurang tersampaikan secara optimal.
“Di tahun ini kami fokus pada komposisi dan proporsi. Ogoh-ogoh adalah karya seni tiga dimensi, sehingga harus terbaca dari berbagai sisi—depan, samping, hingga belakang. Penempatan tokoh utama, figuran, dan elemen pendukung harus jelas,” tegasnya.
Dengan menghadirkan empat tokoh karakter, ST Mekar Jaya berupaya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan kejelasan narasi visual. Kreativitas, lanjut Garas, tetap menjadi ruh utama dalam berkarya, namun perlu diimbangi dengan pemahaman teknis agar pesan ogoh-ogoh tersampaikan dengan utuh kepada penonton.
Melalui garapan ini, ST Mekar Jaya berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam perhelatan ogoh-ogoh Caka 1948 sekaligus memperkuat peran generasi muda Banjar Munang Maning dalam menjaga dan mengembangkan tradisi seni budaya Bali. *m03
Komentar