nusabali

Pemprov Dorong Integrasi dengan Layanan Kesehatan

Bedah Buku Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali

  • www.nusabali.com-pemprov-dorong-integrasi-dengan-layanan-kesehatan

SINGARAJA, NusaBali - Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong pengembangan pengobatan tradisional Bali berbasis aksara Bali agar dapat diterima secara ilmiah dan terhubung dengan layanan kesehatan modern.

Komitmen ini diungkapkan dalam kegiatan bedah buku ‘Sistem Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali’ yang digelar di Kampus Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Rabu (14/1).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr I Nyoman Gede Anom, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 55 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. Pemprov Bali, kata dia, sangat mendukung upaya penguatan pengobatan tradisional yang bersumber dari warisan leluhur Bali.

“Ini adalah warisan leluhur kita yang murni dari Bali, berbasis aksara Bali. Selama ini kita banyak mengadopsi dari luar. Sekarang sumbernya benar-benar dari Bali dan ingin kita kembangkan,” ujar dia.

Menurutnya, pengobatan tradisional Bali selama ini kerap dipandang sebelah mata karena belum dikaji secara kajian ilmiah. Melalui pembukuan dan kajian akademis, warisan tersebut diilmiahkan agar bisa diterima di rumah sakit maupun Puskesmas.

“Kalau sudah ilmiah, rumah sakit dan pusat kesehatan pasti bisa menerima dan menerapkan. Sekarang semua fasilitas kesehatan diarahkan membuka layanan tradisional, dan ini salah satu yang bisa dikembangkan. Di Bali Mandara sudah mulai berjalan, ke depan kita harapkan semua rumah sakit mengembangkan,” jelasnya.

Anom menegaskan, layanan pengobatan tradisional Bali bersifat non medis, namun tetap harus terintegrasi dengan pengobatan konvensional. Integrasi ini nantinya akan ditentukan oleh tenaga medis sesuai kondisi pasien. “Di rumah sakit wajib ada integrasi antara tradisional dan konvensional. Bisa saja dokter memutuskan pasien ditangani dulu secara tradisional, lalu dilanjutkan konvensional. Ini bukan pengganti, tetapi menjadi pilihan bagi masyarakat,” kata dia.

Penulis buku Sistem Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali, Gede Suardana, menjelaskan buku tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kekayaan leluhur Bali yang selama ini terabaikan. Ia menilai pengobatan tradisional Bali memiliki nilai besar, namun lemah dalam sistem dan metodologi.

“Pengobatan tradisional kita tersebar di balian-balian, tetapi tidak memiliki sistem, metode, dan SOP yang baku. Kalau hanya ‘mula keto’ (katanya begitu), itu tidak bisa menjadi cabang ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Melalui buku ini, Suardana menyusun sistem dan metode yang terstruktur agar ilmu pengobatan tradisional Bali dapat dipelajari secara rasional dan ilmiah oleh siapa pun. Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada pasien agar memahami pola terapi nonmedis secara logis.

“Ketika pasien sudah berobat medis satu, dua, tiga kali tidak sembuh, di situlah peran pengobatan tradisional untuk menganalisis faktor X penyebab kegagalan terapi melalui metode tradisional Bali,” katanya.

Sementara itu, Ketua Puskor Hindunesia Dekorda Buleleng, dr Ketut Putra Sedana, menilai pro dan kontra terhadap pengobatan tradisional merupakan hal yang wajar dalam dunia akademis. Dialektika tersebut justru penting untuk melahirkan sintesa yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Dalam dunia ilmiah ada tesis dan antitesis. Dari situlah muncul sintesa yang memiliki nilai presisi dan bisa digunakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsep kesehatan sejatinya bersifat holistik, tidak hanya sehat fisik, tetapi juga sehat nonfisik, meliputi aspek emosional, sosial, jiwa, dan spiritual. Karena itu, pengobatan medis dan nonmedis sejatinya berjalan seiring.

“Warisan leluhur ini bernilai luar biasa. Ilmu pengobatan tradisional berbasis aksara Bali yang tertuang dalam lontar-lontar kini kita gali kembali dan kita kaji secara ilmiah agar mendapat legitimasi akademisi, praktisi, hingga masyarakat pengguna,” pungkas dia.7 mzk

Komentar