‘Pikiran Saya Hanya Piala Dunia untuk Indonesia’
Pelatih Timnas John Herdman Diperkenalkan Resmi
JAKARTA, NusaBali - Pelatih baru timnas Indonesia John Herdman mengungkapkan bahwa ia sangat berambisi membawa tim Garuda melangkah ke ‘tahap selanjutnya’, yakni Piala Dunia terdekat yang digelar pada 2030.
Hal ini sampai membuatnya tak memikirkan hal lain setiap bangun tidur, selain membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia.
"Setiap hari saya terbangun, setiap hari ketika saya terbangun dari kasur, hal yang saya pikirkan, selain keluarga saya, untuk bisa meloloskan tim ini ke Piala Dunia," kata Herdman pada jumpa pers pertamanya menjadi pelatih Indonesia di Hotel Mulia Jakarta, Selasa (13/1). Herdman menilai bahwa melatih Indonesia adalah kesempatan sangat menarik dalam kariernya, yang pernah membawa tim putri dan putra Kanada bermain di Piala Dunia. Pelatih berusia 50 tahun ini mengantarkan tim putri Kanada meraih medali emas Pan American Games 2011, medali perunggu Olimpiade London 2012 dan Rio 2016, serta menembus peringkat keempat Piala Dunia Putri 2015. Tak cuma itu, pada 2018, timnas putri Kanada di bawah kendalinya mencapai peringkat FIFA dunia tertinggi yakni di posisi keempat.
Untuk tim putra, Herdman membawa Alphonso Davies dan kawan-kawan kembali bermain di Piala Dunia pada edisi 2022 setelah sebelumnya 36 tahun absen. Pada eranya, Kanada juga tercatat mencapai peringkat FIFA tertinggi sepanjang sejarah di posisi ke-32 pada Februari 2022. Sebelum bersama Kanada, Herdman sudah unjuk gigi ketika membawa tim putri Selandia Baru lolos ke Piala Dunia 2007 dan 2011, serta ke Olimpiade Musim Panas 2008 di Beijing.
"Saya sebelumnya berada di Kanada ketika saya mengambil langkah, baik itu tim putra maupun putri. Saya ingin berada di sini. Ini adalah kesempatan yang sangat menarik di dunia sepak bola," kata dia. Herdman mengaku tak takut dengan tekanan besar melatih tim Garuda. "Iya, tekanan itu sebuah keistimewaan. Anda datang ke sebuah organisasi, Anda memimpin sebuah tim, lalu Anda juga memikul negara ini," katanya. Herdman tak memandang hal ini dari satu sudut pandang.

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menunjukkan jersey Timnas. -ANTARA
Ia mengambil sudut pandang lain bahwasannya tekanan justru bisa menjadi ‘anugerah’, karena energi dari pendukung dapat memberikan energi positif untuk timnya setiap bermain. "Sekarang, itu bisa jadi sebuah kutukan atau sebuah anugerah. Kita akan mengoptimalisasikan itu menjadi sebuah anugerah untuk kita semua. Akan jadi sebuah kesempatan yang besar jika saya melanjutkannya dan memberikannya kepada para pemain," kata pelatih asal Inggris itu.
Dia pun mengungkapkan bahwa visi yang jelas, pemain berkualitas dan basis pencinta sepak bola yang sangat fanatik, adalah alasannya memilih tim Garuda daripada menerima pinangan dua negara lainnya, Jamaika dan Honduras. Dia mengatakan ketertarikannya memilih Indonesia adalah karena negara ini tempat yang tepat untuk dirinya karena mempunyai visi yang jelas, mempunyai pemain berkualitas, dan juga memiliki basis pencinta sepak bola yang sangat fanatik. "Saya pernah bekerja di CONCACAF, saya punya pengalaman di sana. Namun, saya percaya dengan negara yang punya populasi 280 juta penduduk, yang di mana 90 persennya mencintai sepak bola. Mereka sangat mencintai sepak bolanya. Ini adalah tempat yang tepat," kata Herdman.
Herdman dikontrak dengan skema 2+2 atau dua tahun dengan opsi perpanjangan dua tahun. Di Indonesia, ia juga akan memimpin timnas U-23 Indonesia. Ketika ditanya lebih lanjut, pria asal Inggris itu mengatakan pentingnya sinergi antar tim nasional kelompok umur, mulai U-17 sampai senior.
Menurut dia, sinergi ini adalah hal terpenting agar para pemain muda cepat dan siap ketika mendapat panggilan masuk ke tim senior Indonesia. "Jadi, bekerja dengan tim kepelatihan U-20, U-23, akan jadi sebuah hal yang penting ketika kita punya konsistensi di elemen filosofi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kerangka budaya dan taktik," kata pelatih yang mengantarkan Kanada ke Piala Dunia 2022 setelah 36 tahun absen tersebut.
"Saat ada perbedaan, di mana setiap pelatih punya filosifinya, harus ada persamaan agar memastikan para pemain siap. Ketika ada panggilan, mereka siap untuk bermain. Dan, saya berpikir perbedaan sistem, perbedaan budaya, mereka harus siap. Karena jendela internasional sangat padat," katanya menambahkan.
Herdman juga mengungkapkan target jangka pendeknya di tim Garuda yakni mengurai kegagalan Indonesia ke Piala Dunia. Herdman mengatakan ada tiga poin utama yang dalam waktu dekat perlu ia lakukan, yaitu pertama mendengarkan, kedua memahami, dan ketiga bertindak. Tiga poin ini perlu segera ia lakukan untuk mengurai kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.
Ia perlu memahami apa kekurangan Indonesia dalam dua tahun perjalanan menuju Piala Dunia 2026, agar nantinya tak mengulang lagi kegagalan yang sama saat ia memimpin tim Garuda ke Piala Dunia 2030. “Dalam jangka pendek, yang terpenting adalah melakukan penilaian, meluangkan waktu untuk mendengarkan, memahami pengalaman orang-orang. Pada Piala Dunia terakhir, dari pengalaman taktis saya sendiri dalam mengevaluasi kampanye dua tahun tersebut, yang Anda tahu, sudah sangat dekat, sangat dekat, tetapi akhirnya gagal, kita harus memahami di mana letak kekurangannya," kata Herdman. Pada jumpa pers kemarin, PSSI juga memperkenalkan Cesar Meylan sebagai asisten pelatih fisik.
Kehadiran Meylan membuat Herdman akan melanjutkan kerja sama dengan penyandang gelar Doktor (PhD) di bidang strength & conditioning itu setelah keduanya bersama-sama dalam satu tim selama lebih dari satu dekade, mulai di timnas putri Selandia Baru, timnas putri Kanada, timnas putra Kanada, sampai Toronto FC. 7 ant
Komentar