Rumah Subsidi Terancam Tak Dibangun Lagi 2026, Pengembang Pilih Kembangkan Rumah Komersial
DENPASAR, NusaBali.com –
Program pembangunan rumah subsidi di Bali diperkirakan semakin sulit direalisasikan pada 2026. Keterbatasan lahan yang sesuai tata ruang serta tingginya harga tanah menjadi faktor utama pengembang mulai meninggalkan segmen perumahan subsidi.
Dewan Penasehat REI Bali I Gede Suardita, Selasa (13/1/2026) menyebutkan, pada 2026 sebagian besar pengembang di kawasan perkotaan dipastikan tidak lagi membangun rumah subsidi. “Untuk daerah Sarbagita, 2026 sudah hampir pasti tidak bisa lagi membangun rumah subsidi. Lahan terbatas dan harga tanah sudah tidak masuk skema subsidi,” ujarnya.
Stok lahan yang akan dipakai perumahan semakin terbatas. Hal itu mempengaruhi demand, semakin tinggi permintaan maka harga rumah semakin tinggi.
Walaupun tahun 2025, pasar rumah komersil mengalami penurunan penjualan karena daya beli, isu global dan faktor lain, maka 2026 ia pesimis dapat lebih baik. Karena ia melihat 2026 pengembang harus bekerja sesuai regulasi dan aturan yang berlaku sesuai regulasi tata ruang.
“Dengan turunnya Pansus TRAP dan dinamika ekonomi, 2026 kami pesimis karena lahan yang bisa dipakai semakin sedikit. Mengingat developer akan terus mencari lahan baru yang kini kondisinya semakin terbatas,” tukasnya.
Namun dikatakan dalam kurun waktu lima tahun, pengembangan konvensional masih tetap ada walau lama- lama akan habis. Maka nantinya untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah, solusinya perumahan vertikal.
Kondisi tersebut membuat pengembang beralih sepenuhnya ke perumahan komersial. Meski demikian, backlog perumahan di Bali masih tercatat sekitar 15 ribu unit berdasarkan data pemerintah provinsi.
“Backlog masih ada, tapi pengembang juga bukan lembaga sosial. Ketika harga lahan tinggi dan harga jual rumah subsidi tidak naik signifikan, maka secara bisnis tidak lagi feasible,” jelasnya.
Untuk wilayah di luar Sarbagita, pembangunan rumah subsidi diakui masih memungkinkan, seperti di Jembrana, Karangasem, dan beberapa daerah lain. Namun, daya serap pasar dinilai lebih rendah karena lokasi yang relatif jauh dari pusat aktivitas ekonomi yaitu Sarbagita. “Permintaan di daerah-daerah itu tidak setinggi di Sarbagita. Itu juga jadi pertimbangan pengembang,” tambahnya.
Sementara stok rumah subsidi di Tabanan khususnya saat ini sudah habis terserap, sehingga untuk pengembangan perumahan ke depannya diakui pengusaha lebih tertarik mengembangkan rumah komersial. *may
Komentar