Bangkai Paus Sperma Terdampar di Lovina Langsung Dikubur Secara Darurat
SINGARAJA, NusaBali - Bangkai mamalia laut berukuran besar yang diduga kuat paus sperma ditemukan terdampar di kawasan Pantai Lovina, Desa Kalibukbuk, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Senin (12/1) malam. Kondisi bangkai yang sudah membusuk parah membuat penanganan harus dilakukan secara cepat untuk mencegah pencemaran udara dan potensi risiko kesehatan.
Bangkai tersebut pertama kali diketahui warga sekitar sekitar pada Minggu (11/1) pukul 22.00 Wita. Namun sejak sore hari, warga sebenarnya sudah mencium bau menyengat dari arah pantai. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dan instansi terkait.
Ketua Pokmaswas Banyumilir, I Ketut Wiryadana, mengatakan identifikasi awal cukup sulit dilakukan karena kondisi bangkai sudah rusak. Dari hasil dokumentasi foto dan video yang dikonsultasikan dengan dokter hewan berpengalaman menangani mamalia laut terdampar, bangkai tersebut mengarah pada jenis paus sperma.
“Yang terlihat hanya bagian tubuh dari pertengahan sampai ekor dengan panjang sekitar empat meter. Kondisinya sudah sangat busuk,” ujar Wiryadana.
Pokmaswas kemudian berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan (DKPP) Buleleng, Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir Laut (BPSPL), dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali. Dari hasil koordinasi, ada tiga opsi penanganan, yakni ditenggelamkan ke laut, dibakar, atau dikubur. Namun, karena cuaca laut tidak memungkinkan dan bau bangkai sangat menyengat, opsi penguburan dipilih sebagai langkah paling mendesak.
“Ini kejadian pertama di Lovina untuk mamalia laut berukuran besar. Kami juga mempertimbangkan faktor kesehatan karena tidak diketahui penyebab kematian, apakah terkait infeksi atau faktor lain,” kata Wiryadana.
Penguburan bangkai paus dilakukan secara swadaya dengan menyewa alat berat untuk menggali lubang di sekitar lokasi, setelah mendapat izin dari pihak terkait, pemerintah desa, desa adat, pengelola DTW, serta yayasan Banyumilir. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan dampak bau dan gangguan lingkungan di kawasan wisata.
Sementara itu, Kabid Pemberdayaan Masyarakat Perikanan DKPP Buleleng, Abdul Manaf, menyebut bangkai paus tersebut diduga sudah lama mati di tengah laut sebelum akhirnya terdampar di pesisir Lovina.
“Dari kondisi fisik dan bentuk tubuh, kami mengindikasikan ini paus sperma. Sampel tidak bisa diambil karena sudah terlalu busuk,” jelas dia.
Abdul Manaf menambahkan, dalam setahun terakhir, beberapa kali mamalia laut terdampar di perairan Buleleng, dan mayoritas merupakan paus sperma. Ke depan, tulang bangkai paus ini direncanakan akan digali kembali dan dimanfaatkan sebagai bahan edukasi setelah berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.7 lik
Komentar