Mahasiswa Diminta Jangan Apatis dengan Politik
JAKARTA, NusaBali - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengajak mahasiswa berkontribusi membangun politik dan demokrasi yang lebih sehat, jangan malah bersik apatis. DPR RI mewadahi hal itu dengan menyediakan ruang partisipasi public yang selalu terbuka.
Di sana terdapat Badan Aspirasi Masyarakat, yang bertugas menerima dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.
Hal itu disampaikan Nur Wahid saat menerima kunjungan delapan orang perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) Zona III. Pertemuan itu membahas sejumlah isu politik isu, sekaligus menyampaikan undangan untuk HNW dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) BEM PTMA Zona III pada bulan depan.
"Mahasiswa dapat memanfaatkan ruang ini untuk menyampaikan gagasan, termasuk terkait revisi undang-undang pemilu dan pilkada. Saya berharap mahasiswa tetap berada di jalur idealisme, membersamai perjuangan politik yang tetap ingin berada di jalur idealisme atau keberpihakan lebih kepada kemaslahatan rakyat,” tutur Nur Wahid, Jakarta, Jumat (9/1).
Nur Wahid mengatakan politik dan demokrasi memang penuh paradoks. Tidak selalu ada hubungan lurus antara kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral. Itu adalah realitas yang harus kita hadapi bersama.
"Prinsipnya sederhana, nilai yang kami perjuangkan tetap harus diperjuangkan, baik dipilih maupun tidak dipilih. Ketika kami membela rakyat, kami tidak pernah bertanya apakah rakyat tersebut memilih kami atau tidak. Karena partai politik sejatinya adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar alat elektoral," ujarnya.
Menurutnya demokrasi Indonesia memang masih menghadapi tantangan besar. Biaya politik yang mahal, praktik politik uang, lemahnya penegakan netralitas aparat, hingga rendahnya literasi politik masyarakat menjadi persoalan serius. Namun, menyalahkan rakyat semata juga tidak adil.
"Karenanya jika ingin membenahi demokrasi, maka pembenahan harus dimulai dari hulunya, yakni sistem kepartaian, rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik itu sendiri. Selain itu mahasiswa tidak boleh terjebak dalam apatisme," katanya.
Ia mengatakan mahasiswa harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan. Daripada mengutuk gelapnya malam, lebih baik kita menyalakan obor. "Satu obor memang kecil, tetapi ketika obor-obor itu dinyalakan bersama, cahaya akan semakin terang. Alternatif dari demokrasi bukanlah sesuatu yang lebih baik. Tanpa demokrasi, kita berisiko jatuh pada otoritarianisme, tirani, atau ekstremisme," tuturnya.7 ant
Komentar