nusabali

Aksi Gus Teja Saat Tampil dalam Acara Rakernas dan HUT ke-53 PDI Perjuangan BCIS Ancol, Jakarta

Bawa Serta Dua Seruling Baru Sang Banteng dan Sang Mong

  • www.nusabali.com-aksi-gus-teja-saat-tampil-dalam-acara-rakernas-dan-hut-ke-53-pdi-perjuangan-bcis-ancol-jakarta

Meski tidak diniatkan untuk tampil di Ancol, Sang Banteng dan Sang Mong menjadi instrumen penting yang pas mengiringi suasana acara dua hari itu

DENPASAR, NusaBali

Pemain seruling Gus Teja ikut memeriahkan rakernas dan perayaan HUT ke-53 PDI Perjuangan yang berlangsung di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta, 10-11 Januari 2026. Seniman asal Junjungan, Ubud, Gianyar ini membawa serta dua seruling baru yang diberi nama Sang Banteng dan Sang Mong (harimau Bali).

Gus Teja mengatakan Sang Banteng telah dimainkannya saat rakernas hari pertama Sabtu (10/1). Dalam momen itu, ia memainkan sejumlah melodi untuk mengiringi lukisan-lukisan Bung Karno yang ditampilkan di atas panggung. Lukisan-lukisan Bung Karno terdiri dari dua potret perempuan cantik Indonesia dan satu lukisan suasana pedesaan di Tanah Air.

Lukisan berjudul ‘Potret Seorang Putri’ menggambarkan perempuan anggun mengenakan kebaya hijau dan kain batik coklat. Karya berikutnya juga sosok perempuan berkebaya merah muda berjudul ‘Rini’ tengah tersenyum. Sementara lukisan lainnya ‘Kampung Ambugaga’ memperlihatkan jejeran bangunan rumah di pedesaan dengan latar belakang pegunungan.

“Seperti kita tahu bahwa presiden pertama kita adalah juga seorang seniman. Beliau telah banyak melahirkan karya-karya lukisan yang luar biasa. Dengan melihat dan mencermati ketiga lukisan itu saya diminta untuk mengimajinasikan karya-karya itu ke dalam sebuah alunan melodi suling. Dan melodi itulah yang saya tampilkan kemarin,” ungkap pria bernama asli Agus Teja Sentosa ini saat dihubungi NusaBali, Minggu (11/1).

Pelantun Blessing from Heaven ini mengaku dua seruling yang dibuatnya selama sebulan terakhir berjodoh dengan acara yang digelar PDIP. Meski tidak diniatkan untuk tampil di Ancol, Sang Banteng dan Sang Mong menjadi instrumen penting yang pas mengiringi suasana acara yang digelar dua hari itu. Sebagai seorang seniman Gus Teja merasa bangga dapat mengiringi karya-karya seni Sang Proklamator.

“Ini adalah kesempatan langka, bisa dipercaya untuk memainkan suling di sebuah momen khusus di atas panggung besar yang menampilkan karya-karya lukisan Bung Karno adalah sebuah kebanggaan. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan ini,” ujar Gus Teja. Tidak seperti pada umumnya, Sang Banteng dan Sang Mong bukan terbuat dari bilah bambu. Keduanya menggunakan kayu jati sebagai bahan dasar. Untuk membedakan keduanya ada hiasan banteng dan harimau (berbahan tanduk rusa) di bagian corong (suwer) masing-masing seruling selain hiasan perak di badan seruling.

“Kebetulan saja, diundang PDIP, tiyang punya Suling Banteng juga,” tekannya. Bukan sekadar eksperimen, kayu jati digunakan agar lebih kokoh ketika dimainkan di iklim sub tropis yang suhunya bisa minus derajat celcius. Gus Teja mengaku seruling kayu jati menjadi alternatif yang menjawab tantangan ketika ia harus tampil di negara-negara sub tropis. Dari sana ia kemudian terbiasa membuat dan menggunakan instrumen seruling berbahan kayu jati.

“Di Bali sebenarnya seruling menggunakan bambu, tapi karena kadang-kadang tiyang ke luar negeri juga. Bambu tidak cukup kuat ketika berhadapan dengan cuaca dingin, 90 persen pasti pecah, kalau pecah ya tidak bisa dipakai,” kata alumnus ISI Bali ini. Bisa membuat seruling sendiri, Gus Teja mengaku cukup banyak menyimpan koleksi seruling. Di antara banyaknya suling-suling itu juga disertai dengan bermacam jenis suwer berbentuk binatang, seperti beberapa ukiran kepala garuda, ukiran klasik Bali, burung, dan yang terbaru adalah ukiran bentuk kepala harimau dan kepala banteng. “Setiap suling mempunyai nada yang berbeda, dan juga untuk lagu yang berbeda pula,” ujarnya. 7 adi

Komentar