Pohon Pala di Sangeh Monkey Fores Diyakini “Pingit”
Warga Tak Berani Ambil, Nunas Kayu Hanya Untuk Keperluan Upacara
MANGUPURA, NusaBali - Sangeh Monkey Fores atau Objek Wisata Sangeh yang berada di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung dikenal sebagai destinasi yang menawarkan kesejukan hutan pala dan satwa monyet.
Keasrian hutannya masih terjaga hingga saat ini. Selain karena berstatus hutan konservasi, di balik kerimbunan taru (pohon) pala itu, tersimpan sebuah keyakinan turun-temurun yang hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat Desa Adat Sangeh.
Sejak dahulu hingga kini, warga Sangeh menganggap taru (pohon) pala itu “pingit” atau disakralkan. Tidak ada yang berani mengambil taru pala secara sembarangan, apalagi sampai menebang. Bagi warga setempat, taru pala bukan sekadar bagian dari alam, melainkan ada kaitannya dengan niskala. Sebab, di kawasan hutan tersebut juga berdiri sebuah pura bernama Pura Pucak Bukit Sari.
Ketua Pengelola Objek Wisata Sangeh, Ida Bagus Gede Pujawan, menuturkan keyakinan masyarakat Sangeh terkait kepingitan taru pala ini memang sudah ada sejak dahulu. Jangankan menebang, bahkan sekadar memangkas dahan dan mengambil kayu yang tumbang saja, warga tidak berani. Konon, bagi warga yang berani mengambil kayu, meski kayu hasil pohon tumbang sekalipun, diyakini bisa mengalami hal-hal buruk.
Pria yang akrab disapa Gus Pujawan ini memiliki pengalaman pribadi ketika hendak mengajukan pemangkasan pohon pala. Kala itu, ada taru pala yang posisinya dinilai membahayakan Bale Kulkul di sisi barat kawasan pura. Karena berstatus hutan konservasi, secara administratif, Gus Pujawan mengajukan izin pemangkasan pohon ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan lantaran dia sempat bermimpi aneh.
“Setelah surat izin turun, tiang (saya) malah mimpi. Dalam mimpi itu saya ditunjukkan bahwa pohon yang mau dipangkas adalah gapura Beliau secara niskala. Sejak saat itu tiang tidak berani,” tuturnya, belum lama ini.
Mimpi tersebut kemudian disampaikan kepada Jro Mangku yang ngayah di Pura Pucak Bukit Sari di tengah kawasan hutan pala. Meski secara sekala tidak ada larangan, Gus Pujawan tetap memilih untuk tidak melanjutkan pemotongan. “Sebagai ketua pengelola, tiang bilang jangan. Siapa pun kalau ada yang berani, silakan. Tapi bukan tiang,” tegasnya.

Foto: Ketua Pengelola Sangeh Monkey Forest, Ida Bagus Gede Pujawan. -INDI
Menurut Gus Pujawan, bahkan kayu tumbang pun tidak boleh diambil sembarangan. Masyarakat hanya berani nunas kayu untuk keperluan upacara, seperti untuk menyan atau pengasepan, itu pun harus disertai dengan melakukan matur piuning atau permohonan izin secara niskala.
“Untuk kayu besar dipakai rumah atau bale, itu tidak pernah ada. Seumur hidup tiang, belum pernah dengar ada warga yang berani. Walaupun pohon sudah lapuk, tetap dibiarkan. Tapi justru dari sana tumbuh pala-pala baru,” ucap Gus Pujawan.
Hanya saja, saat kejadian pohon tumbang yang sampai merenggut korban jiwa pada 3 Desember 2025, pengelola sempat disorot warganet karena dianggap lalai tidak memangkas pohon-pohon lapuk. “Padahal kalau turun langsung ke lapangan, pohon yang tumbang itu tidak lapuk. Ini hutan natural, bukan hutan buatan. Tidak bisa disamakan dengan taman kota dan mungkin juga warganet di luar sana juga tidak paham dengan keyakinan kami di sini,” jelasnya.
Tak hanya pohon, satwa di Sangeh juga mendapat perlindungan spiritual. Membunuh monyet dianggap pantangan besar. Bahkan pernah terjadi cerita, sebuah bus yang tanpa sengaja melindas anak monyet, kemudian penumpangnya mengalami kesurupan hingga akhirnya kembali ke Sangeh untuk matur guru piduka.
“Membunuh monyet di sini pun masyarakat Sangeh tidak berani. Katanya nanti bisa didatangi (dihantui, Red). Kalau nika terjadi pun, kita ngaturin guru piduka biasanya, bawa banten upacara khusus ke pura, biar tidak ya istilahnya kesurupan monyet,” jelasnya.
“Sempat terjadi ada satu bus yang melindas anak monyet. Kemudian bus itu balik lagi ke sini karena murid yang diantar kesurupan monyet,” tutur Gus Pujawan. 7 ind
Komentar