Pendatang Dibenci, Pendatang Disayang
PERIBAHASA ‘ada gula ada semut’ berarti di mana ada pertumbuhan ekonomi pesat, rezeki tak habis-habis, tumbuh sambung menyambung silih berganti; di sana pula orang-orang berbondong datang merapat. Mereka tinggal berdesak-desak, berebut, saling sikut.
Kita kemudian mengenal urbanisasi, orang desa miskin mengadu nasib ke kota, pusat industri. Jika di desa orang rajin tetap miskin, di kota mereka punya kesempatan hidup berkecukupan, menjadi kaya dan berkelebihan. Kita pun mengenal kaum pendatang, penghuni kota yang menciptakan gaya hidup, menjadi kelas menengah baru, membuat kota jadi riuh dan gemerlap.
Tapi urbanisasi juga menghadirkan orang-orang yang seperti karet: kenyal dan membatu. Mereka bukan menghidupkan ekonomi, tapi membuat suasana jadi onar dan situasi keruh. Karena tak memiliki keterampilan cukup, mereka jadi perusuh. Begitulah yang dialami Bali belakangan ini.
Pendatang dari Jawa, NTB, dan NTT yang menjadi pekerja di Bali tiada kunjung habis. Tanggapan yang dilontarkan bermacam-macam, mulai dari mereka yang jengkel sampai yang bersyukur. Dari yang diuntungkan hingga yang dirugikan. Hampir tak ada yang netral menyikapi kehadiran pekerja pendatang kelas bawah ini. Masing-masing punya alasan: yang berpihak dan yang memusuhi.
Yang tak suka pada kaum pendatang menganggap mereka sebagai biang keladi ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Mereka dianggap suka mengganggu, tukang usik ketenteraman dan kedamaian. Kaum pekerja pendatang itu dinilai kurang memahami adat istiadat pulau ini, sehingga mustahil mereka sudi turut menjaga fanatisme, keunikan, dan keaslian Bali. Tak bakalan mereka bersedia melakukan konservasi terhadap Bali, tidak ikut bertanggung jawab akan kelestarian Bali.
Pekerja pendatang ini juga dituding merebut lahan kerja orang Bali. Diam-diam dianggap pesaing berat. Kelak mereka akan membuat orang lokal terdesak. Merekalah yang akan mengalahkan tenaga kerja setempat di kelas bawah, juga menengah. Sudah banyak pekerja lokal menjadi bawahan pekerja pendatang. Pendatang punya toko kelontong, pekerja lokal jadi tukang parkirnya. Pendatang bos, orang lokal jongos.
Orang Bali yang berpikir positif terhadap kehadiran kaum pendatang juga banyak. Mereka mengaku diuntungkan oleh kaum pendatang, sehingga senang bekerja sama dengan mereka. Jika kaum pendatang itu mengganggu ketenteraman, ya diusut dan dihukum saja. Bukankah orang-orang Bali asli, orang lokal, tak kalah banyak yang suka berbuat onar dan merugikan?
Jadilah kaum pendatang itu sosok yang dibenci dan juga disayang. Mereka yang membenci kadang bisa terbalik menyayangi, karena kaum pendatang itu berjasa mengeduk kakus dengan ongkos murah, misalnya. Atau ketika semua buruh bangunan dan tukang Bali sibuk melaksanakan upacara adat di kampung, tenaga kerja pendatang itu menjadi andalan untuk merampungkan pekerjaan. Dalam keadaan begitu, diam-diam orang Bali yang tengah kebingungan menyelesaikan proyek berujar, “Untung ada orang Jawa!” Atau, “Kalau saja tidak ada orang Sumba, tak bakalan beres tepat waktu proyek saya!”
Karena itu, kini pengusaha-pengusaha Bali mulai menerapkan tenaga kerja campuran di perusahaannya. Sebagian orang Bali, selebihnya pekerja pendatang. Dengan cara begitu, produksi bisa tetap berjalan sepanjang tahun. Keadaan ini tentu menyebabkan orang Bali yang tak senang pada kaum pendatang semakin dongkol. Tetapi suka atau tidak, sayang atau benci, kaum pendatang akan mengalir terus ke Bali. Tentu menarik untuk mengamati, apakah orang Bali semakin risau, atau justru semakin biasa-biasa saja, jika kaum pendatang kian memadati Bali.
Siapakah yang sanggup meramal, sekian puluh tahun lagi, apakah orang Bali berhasil ‘menguasai’ kaum pendatang, atau kaum pendatang akan ‘menundukkan’ Bali? Atau kelak keadaan masih seperti sekarang, karena kaum pendatang itu tetap saja dibenci dan disayang? 7
Komentar